Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 12 part 9


__ADS_3

"Biarlah dia pergi, yang paling penting, bocah ini tak boleh terlepas begitu saja dari tangan kami!" kata Coa Kui. "Andai kata bukan dia yang membunuh, sudah jelas dia menghina murid wanita kami!"


"Juga dua orang murid wanita kami!" kata Kok Sian Cu.


"Benar, tak boleh bocah ini dilepas begitu saja!" Ouw Beng Kok turut pula bicara.


"Omitohud, Pinceng masih harus mendapat kitab-kitab Siauw-lim-pai dari bocah ini!" kata wakil ketua Siauw-lim-pai dan yang lain-lain juga ikut pula membuka suara.


Keng Hong merasa marah sekali. Tubuhnya sakit-sakit, dadanya terasa sesak, kepalanya pening oleh pukulan-pukulan yang diterimanya, ditambah pula kepergian Biauw Eng yang tiba-tiba seperti membawa sebagian semangatnya.


Pengakuan Biauw Eng yang melakukan pembunuhan-pembunuhan itu sangat meragukan hatinya. Dia yakin bahwa gadis itu mengakui semua itu untuk menerima hukuman di atas pundaknya, dengan niat membebaskan Keng Hong. Maka dia menjadi ragu-ragu apakah benar gadis itu yang melakukan pembunuhan-pembunuhan keji.


Siauw Biauw Eng dan ucapan Lam-hai Sin-ni telah meragukan hatinya. Tentu ada rahasia di balik semua itu. Orang yang kelihatan jahat belum tentu selamanya akan melakukan perbuatan jahat. Sebaliknya orang yang tampaknya baik-baik belum tentu pula selamanya benar. Buktinya Lian Ci Tojin. Bukankah tosu itu secara keji laksana binatang buas telah memperkosa Tan Hun Bwee, puteri Tan piauwsu?


Padahal perbuatan itu sampai mati sekali pun tak akan sudi dia melakukannya. Dan para tokoh besar ini. Kurang tampak jelaskah betapa tamak mereka ini, mengejar-ngejar dan berlomba-lomba memperebutkan pusaka gurunya?


Tiba-tiba saja dia meloncat bangun dan berkata, suaranya kasar dan nyaring, "Kalian ini orang-orang tua yang jahat dan tamak! Aku tak sudi lagi menuruti segala kata-kata kalian! Apakah dosaku terhadap kalian, termasuk terhadap Kun-lun-pai? Salahkah apa bila aku menjadi murid Sin-jiu Kiam-ong? Coba katakan, perbuatan apakah yang sudah kulakukan terhadap kalian semua? Akan tetapi kalian selalu mengejar-ngejar aku, memperebutkan Siang-bhok-kiam, ini hanya alasan sebab sebenarnya kalian semua menginginkan pusaka peninggalan suhu! Tak tahu malu! Takkan kuberikan kepada siapa pun juga! Semua akan kupelajari sendiri dan kelak akan kupergunakan untuk melawan kalian!"

__ADS_1


Semua orang memandang dengan mata terbelalak, termasuk Kiang Tojin, dan terdengar Thian Seng Cinjin berkata perlahan. "Siancai..., mulut tajam...!"


Akan tetapi Ouw Beng Kok telah menerjang maju. Dia menghantam sambil membentak, "Bocah sombong!"


Berbareng dengan pukulan Ouw Beng Kok ini, Lian Ci Tojin juga maju menghantam dari kiri dengan pukulan dahsyat mengarah lambung Keng Hong.


Pemuda ini yang sudah dua kali merasakan pukulan Ouw Beng Kok yang hebat, menjadi marah dan merendahkan diri setengah berjongkok, mengerahkan seluruh tenaganya lalu memapaki pukulan ketua Tiat-ciang-pang ini dengan dorongan tangan yang mengandung sinkang warisan gurunya.


"Blekkkkkkk…!"


Tubuh Ouw Beng Kok terjengkang dan ketua Tiat-ciang-pang ini roboh pingsan dengan mulut muntah darah! Akan tetapi Keng Hong juga roboh berguling-gulingan oleh karena lambungnya dihajar pukulan tangan Lian Ci Tojin.


Keng Hong bangkit lagi, menekan lambungnya yang serasa hendak pecah. Dia kemudian menyusuti darah yang mengalir dari mulutnya, dan tanpa disadarinya dia mencabut keluar selembar kain hijau milik puteri Tan-paiuwsu yang disimpan dalam saku bajunya. Melihat pita warna hijau ini dia teringat akan gadis itu dan menudingkan telunjuknya kepada Lian Ci Tojin sambil berkata, "Kiang Tojin! Sute-mu ini selain curang juga keji sekali terhadap seorang nona baju hijau..."


"Engkau yang keji, bisa menuduh orang, keparat!" Lian Ci Tojin sudah menerjang maju lagi, akan tetapi Keng Hong melompat mundur, membalikkan tubuhnya dan segera berlari secepatnya menuju Kiam-kok-san.


"Kejar!"

__ADS_1


Entah siapa yang mengeluarkan ucapan ini, akan tetapi seperti sebuah pasukan tentara menerima komando, semua orang segera mengejar, kecuali ketua Kun-lun-pai dan Kiang Tojin.


Di antara para tosu Kun-lun-pai, hanya Lian Ci tojin dan Sian Ti Tojin saja yang mengejar bersama para tokoh lainnya, sedangkan tosu Kun-lun-pai lainnya hanya berdiri ragu-ragu dan menanti perintah, memandang kepada Kiang Tojin.


"Bawa anak murid Kun-lun-pai dan lihat apa yang terjadi di sana, jaga agar jangan sampai tempat suci itu dikotori orang," kata Thian Seng Cinjin kepada muridnya yang tertua itu.


Kiang Tojin mengangguk lalu mengajak semua anak murid Kun-lun-pai segera melakukan pengejaran dari jauh. Thian Seng Cinjin menghela napas panjang berulang kali, kemudian bersila bersemedhi untuk menenteramkan batinnya yang mengalami guncangan dalam peristiwa itu.


Keng Hong mengerahkan seluruh tenaganya yang ada untuk berlari cepat. Larinya masih cepat karena memang pemuda ini mempunyai ginkang yang tidak lumrah dimiliki seorang pemuda, dan pantasnya dimiliki oleh seorang yang sudah berlatih puluhan tahun.


Hal ini adalah berkat diterimanya pemindahan sinkang dari Sin-jiu Kiam-ong. Akan tetapi pada saat itu dia telah terluka cukup berat sehingga andai kata dia tidak memiliki sinkang yang luar biasa tentulah dia sudah roboh dan karenanya, ketika dia mengerahkan seluruh tenaganya, napasnya terengah-engah dan dadanya terasa sakit sekali.


Merasa betapa kepalanya pening sekali sedang napasnya sesak hampir sukar bernapas, terpaksa Keng Hong memperlambat larinya. Namun begitu dia mengurangi kecepatannya empat orang kakek Kong-thong-pai itu telah menyusulnya. Memang Kong-thong Ngo-lojin terkenal dengan ginkang mereka yang hebat sehingga ginkang mereka itu dapat berlari lebih cepat dari pada tokoh lainnya.


"Bocah setan, engkau hendak lari ke mana?!"


Di antara para tokoh yang mengejar, yang merasa sakit hati kepada Keng Hong pribadi adalah tokoh-tokoh Kong-thong-pai, Hoa-san-pai dan Tiat-ciang-pang. Ada pun para tokoh lainnya yang juga ikut mengejar, seperti dari Siauw-lim-pai, Kiu-bwe Toanio, Sin-to Gi-hiap hanya ingin memperebutkan pusaka Sin-jiu Kiam-ong, tidak mempunyai dendam pribadi kepada pemuda itu, maka mereka ini tidak seperti tokoh-tokoh tiga partai besar pertama, tak ingin membunuh Keng Hong, melainkan hanya ingin memaksanya agar menyerahkan pusaka gurunya.

__ADS_1


Begitu Kong-thong Ngo-lojin yang tinggal empat orang saja itu dapat menyusul, serentak mereka lalu mengirim pukulan-pukulan Ang-liong Jiauw-kang yang ampuh dari belakang.


__ADS_2