
Oleh karena dia harus selalu menambah bahan bakar, pembakaran jenasah ini memakan waktu setengah hari lamanya. Kemudian, sesuai pula dengan pesan suhu-nya, dia lantas mengumpulkan abu jenasah dan pada malam hari itu, disaksikan laksaan bintang yang menghias langit biru, Keng Hong lalu menabur-naburkan abu itu dari puncak batu pedang. Angin bertiup dan membawa abu itu bertebaran ke segenap jurusan, seolah-olah Sin-jiu Kiam-ong benar-benar kini bersatu dengan alam di sekeliling tempat yang dicintanya itu.
Semalam suntuk Keng Hong duduk melamun, di samping terkenang pada suhu-nya juga memikirkan keadaan dirinya sendiri. Tadinya dia tak pernah memikirkan keadaan dirinya karena setiap hari segenap perhatiannya dia curahkan untuk belajar serta berlatih, dan selain itu ada gurunya di sampingnya yang membuat dia tidak merasa kesepian.
Akan tetapi sekarang, sesudah Sin-jiu Kiam-ong tidak ada lagi, bahkan bekas-bekasnya tidak ada lagi, dia mulai merasa dan melihat kenyataan bahwa dia sesungguhnya hanya seorang diri saja di dunia ini! Sesudah gurunya tidak ada, apa yang akan dilakukan? Ke mana dia akan pergi? Apa tujuan hidupnya selanjutnya? Kembali ke kampung halaman?
Dia masih ingat dengan kampung halamannya, dusun Kwi-bun di mana dia terlahir dan bermain-main sampai usia sepuluh tahun. Akan tetapi, mau apa dia kembali ke Kwi-bun? Keluarganya sudah terbasmi habis, rumah pun tidak ada, dan kembalinya ke sana hanya akan membongkar kenangan-kenangan lama yang sangat tidak menyenangkan hati.
Ke kuil Kun-lun-pai? Di sana banyak orang-orang yang baik hati, tosu-tosu yang selain baik dan ramah terhadapnya, seperti pernah dia alami sampai dua tahun lamanya. Akan tetapi dia teringat akan pesan Kiang Lojin kepada Sin-jiu Kiam-ong bahwa karena dia bukan ‘orang Kun-lun-pai’, maka dia tidak boleh tinggal di Kun-lun-pai, bahkan dia tidak diperkenankan tinggal di batu pedang yang berada di Kiam-kok-san kalau suhu-nya tidak ada!
__ADS_1
Habis ke mana? Tetap tinggal di situ? Tidak mungkin! Dia bukan seorang yang nekat dan tidak tahu malu. Dia maklum bahwa gurunya dan dia adalah orang-orang yang ‘mondok’ karena Kiam-kok-san merupakan wilayah Kun-lun-pai. Dan bila mana tuan rumah tidak memperbolehkan tinggal di sana, dia pun tidak sudi memaksa. Akan tetapi kalau pergi, kemanakah?
Dalam bingungnya, Keng Hong teringat pada suhu-nya. Andai kata dia menjadi suhu-nya, apa yang akan dilakukannya? Suhu-nya adalah seorang yang selalu hidup gembira ria. Jangankan berduka, bingung dan takut pun tidak pernah dikenalnya. Teringatlah dia akan semua cerita suhu-nya tentang diri suhu-nya pada waktu muda. Masih terngiang-ngiang di telinganya ucapan yang keluar dari bibir tua yang masih tersenyum, wajah cerah dan mata berseri itu.
"Hidup satu kali di dunia, apa gunanya berkeluh kesah dan berhati susah? Kegembiraan dan kesenangan dapat dinikmati, tinggal meraih saja! Semua berkah dari Dia yang telah dilimpahkan untuk kita, mengapa mesti disia-siakan? Nikmatilah berkah itu!"
"Aku paling suka dengan keindahan. Tamasya alam yang indah, makanan lezat, semua bunyi-bunyian merdu, ganda yang harum, wanita-wanita cantik! Kita sudah dianugerahi mata, hidung, telinga, mulut. Gunakanlah sebaik-baiknya untuk menikmati berkah-berkah yang memenuhi dunia. Pergunakan matamu untuk segala keindahan dan menikmatinya. Lihat tamasya alam yang amat indah, lihat bunga-bunga yang cantik, lihat wanita-wanita yang jelita! Pergunakanlah telingamu untuk menikmati segala bunyi-bunyian yang merdu, burung-burung berkicau, margasatwa berdendang, alat tetabuhan dan nyanyian merdu. Mulut? Nikmati segala makanan yang lezat karena memang itu adalah hak kita. Rasakan segala rasa di dunia ini. Manis, asin, gurih, masam dan pahit! Hidung? Pakailah untuk menikmati hidup, untuk mencium ganda harum, sedap dan wangi! Pendek kata, selama seratus tahun aku hidup cukup penuh kenikmatan dan sekarang menghadapi mati aku tidak penasaran dan menyesal lagi, Keng Hong."
Keng Hong tersenyum pahit mengenang ucapan suhu-nya ini. Biar pun pada lahirnya dia tak berani membantah, namun di dalam hatinya dia kurang menyetujui pendapat tentang hidup seperti yang dikemukakan suhu-nya. Mungkin sudah terlalu banyak dia dipengaruhi kitab-kitab kuno yang mengajarkan tentang filsafat hidup, tentang kesusilaan, peradaban dan kebudayaan.
__ADS_1
Gurunya tidak mempedulikan semua itu. Gurunya pengejar kesenangan duniawi. Namun, sungguh pun dia tidak menyetujui pendapat suhu-nya yang dalam hal ilmu bun (sastra) tidaklah sangat mendalam pengetahuannya, dia dapat menemukan kesederhanaan dan kejujuran yang tidak dibuat-buat, dan tahu pula bahwa di balik cara hidup ugal-ugalan seperti suhu-nya itu tersembunyi dasar watak yang baik dan gagah perkasa.
"Entah berapa ratus orang wanita cantik yang menjadi kekasihku, Keng Hong." Demikian suhu-nya pernah bercerita. "Aku tak pernah menolak cinta kasih seorang wanita! Wanita bagiku adalah bunga yang membutuhkan belaian dan kasih sayang. Karena itu aku tidak pernah menolaknya, tidak peduli dia itu cantik jelita, manis, buruk, muda mau pun tua! Tentu saja terutama sekali yang cantik molek, tidak peduli dia itu gadis, janda, atau sudah bersuami, sudah beranak atau bercucu! Aku menerima kedatangan mereka dengan hati dan kedua lengan terbuka! Hanya satu yang merupakan pantangan bagiku, yaitu bahwa aku tidak sudi mendekati wanita yang tidak suka menerima kedatanganku. Aku tidak sudi menggagahi wanita yang tidak menghendaki aku. Aku tidak sudi cinta sepihak saja!"
Teringat akan ini, Keng Hong menggeleng-gelengkan kepalanya. Suhu-nya benar-benar seorang mata keranjang! Pelahap wanita! Tentu saja dia tak ingin seperti suhu-nya, akan tetapi dia merasa terharu kalau teringat akan pendirian terakhir suhu-nya yang tidak sudi menggagahi wanita yang tidak cinta kepadanya. Tentu saja merupakan hal yang sangat buruk kalau suhu-nya berjinah dengan wanita yang bersuami, akan tetapi kalau si wanita itu sendiri suka..., sungguh dia tidak tidak tahu harus menilai bagaimana.
"Hanya satu pesanku, Keng Hong. Engkau boleh saja mencinta seribu wanita, akan tetapi jangan sekali-kali kau membiarkan kakimu terikat oleh pernikahan! Sekali engkau terikat, maka akan lenyaplah kebebasanmu dan tak mungkin pula dapat mempertahankan hidup seperti aku!"
Keng Hong makin bingung. Soal-soal tentang cinta dan pernikahan masih belum menarik perhatian. Betapa pun juga suhu-nya bukan golongan jai-hwa-cat (penjahat pemerkosa wanita). Dan suhu-nya tidak pernah dengan sengaja melakukan kejahatan kepada orang lain.
__ADS_1