Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 15 part 3


__ADS_3

Setelah banyak menerima wejangan Kiang Tojin, akhirnya Keng Hong pergi meninggalkan Kun-lun-pai dengan dada lapang bahwa dia telah dapat membantu memulihkan keadaan Kun-lun-pai dan biar pun sedikit dapat pula menebus budi kebaikan Kiang Tojin.


********************


"Aaauuuuuuhhhh... toloooooonggg...!"


Jerit melengking wanita ini tiba-tiba terdiam. Memang leher yang dicekik tentu saja tidak akan dapat menjerit lagi. Jerit itu keluar dari sebuah kamar yang indah dan diterangi sinar lilin terbungkus sutera merah, remang-remang romantis sehingga menambah keindahan kamar yang berbau harum itu.


Akan tetapi apa yang terjadi di dalam kamar pada malam hari itu? Seorang gadis remaja, puteri hartawan dan bangsawan yang menjadi kembang kota itu, tertimpa mala petaka. Ketika dia sedang tidur pulas tadi, tiba-tiba dia terbangun dan hampir dia pingsan ketika melihat betapa seorang laki-laki yang berpakaian mewah serta berwajah tampan sedang memeluk dan menciumi mukanya sambil jari-jari tangan laki-laki ini merenggut-renggutkan pakaiannya sehingga robek-robek.


Sejenak gadis itu tak dapat menjerit saking kaget dan juga karena mulutnya tertutup oleh ciuman-ciuman penuh nafsu yang membuatnya bernapas pun sukar, apa lagi menjerit. Ia hanya dapat membelalakkan mata dan meronta-ronta, akan tetapi gerakannya meronta ini agaknya malah menambah berkobarnya nafsu ****** laki-laki itu.


"Diamlah manisku, diamlah nona... aduh, betapa cantik jelita engkau...," lelaki itu berbisik dengan napas mendengus-dengus.


Kesempatan ini dipergunakan oleh nona yang mulutnya bebas. Akan tetapi hanya satu kali saja dia dapat menjerit karena mulutnya segera tertutup kembali oleh mulut laki-laki itu dan lehernya dilingkari jari-jari tangan yang kuat.


"Kalau kau menjerit lagi, kucekik mampus kau!" laki-laki itu mendesiskan bisikan marah, akan tetapi gadis itu tidak dapat menjerit lagi karena saking ngeri dan takutnya dia telah kehilangan suara dan setengah pingsan.

__ADS_1


Akan tetapi satu kali jeritannya tadi sudah cukup. Ayahnya adalah seorang bangsawan, seorang pembesar militer yang banyak berjasa dalam perang, sebagai seorang di antara panglima dari utara. Pada malam hari itu, ayahnya sedang menjamu banyak orang gagah yang dahulu membantu gerakan bala tentara dari utara yang dipimpin oleh Raja Muda Yung Lo yang gagah perkasa.


Malam hari itu ada lima orang kang-ouw yang memiliki kepandaian tinggi sedang dijamu oleh ayahnya. Karena ini, jerit melengking itu segera terdengar oleh mereka dan bersama panglima ayah gadis itu sendiri, mereka berenam sudah berkelebat cepat sekali menuju ke kamar si gadis.


"A-hwi...!" Panglima itu berseru memanggil puterinya, akan tetapi tidak ada jawaban.


Sambil menggereng penuh kekhawatiran, panglima yang tinggi besar itu menerjang daun pintu kamar puterinya. Daun pintu bobol dan roboh, disusul enam bayangan orang gagah itu berkelebat memasuki kamar.


"A-hwi…!"


Sekarang teriakan panglima itu adalah teriakan yang menyayat hati, teriakan setengah marah setengah menangis menyaksikan keadaan puterinya yang rebah terlentang dalam keadaan telanjang dan sepasang matanya mendelik, lidahnya keluar, tidak bernapas lagi! Jelas bahwa dia mati tercekik.


"Berhenti...!" Lima orang itu meloncat maju mengejar.


Bayangan yang melangkah seenaknya di atas genteng itu berhenti, lantas membalikkan tubuhnya menghadapi lima orang itu.


Mereka berlima tercegang pada saat melihat bahwa bayangan itu adalah seorang laki-laki yang usianya kurang lebih empat puluh tahun, berwajah tampan sekali dan tubuhnya tinggi besar gagah. Pakaiannya indah dan mewah, muka dan rambutnya juga terpelihara baik-baik. Seorang laki-laki pesolek yang menambah halusnya wajah dengan bedak halus tipis bahkan kehitaman alis dan kemerahan bibir itu pun amat diragukan keasliannya.

__ADS_1


Pada waktu lima orang kang-ouw yang tak mengenal laki-laki ini melihat perhiasan bunga teratai emas di atas dada laki-laki itu, mereka pun terkejut dan seorang di antara mereka segera berseru,


"Kim-lian Jai-hwa-ong…!"


Nama ini memang amat terkenal di dunia kang-ouw semenjak belasan tahun yang lalu. Semenjak lama dunia kang-ouw telah geger oleh munculnya nama ini, akan tetapi karena tokoh dunia hitam ini tak pernah mengganggu orang-orang kalangan kang-ouw dan selalu menjauhkan diri dari bentrokan, maka jarang ada yang mengenal orangnya.


Hal ini bukan saja karena tokoh ini jarang memperlihatkan muka. Juga hebatnya adalah bahwa setiap kali ada tokoh kang-ouw yang bertemu dengan dia, tentu tokoh kang-ouw itu kedapatan tewas. Dengan demikian orang kang-ouw yang pernah bertemu dengan dia tidak ada kesempatan lagi menceritakan kepada lain orang bagaimana macamnya tokoh ini.


Dia dijuluki Kim-lian (Teratai Emas) karena bajunya selalu dihiasi perhiasan bunga teratai dari emas. Dan julukannya Jai-hwa-hong (Raja Pemetik Bunga) sudah jelas menyatakan bagaimana macam ‘pekerjaan’ tokoh ini, yaitu memetik bunga atau pemerkosa wanita di samping menyambar perhiasan-perhiasan berharga yang berada di kamar wanita-wanita itu.


Itulah sebabnya mengapa lima orang kang-ouw itu terkejut setengah mati ketika melihat hiasan bunga teratai merah di dada laki-laki itu. Sudah menjadi kembang bibir di dunia kang-ouw bahwa jika bertemu Kim-lian Jai-hwa-ong berarti bertemu dengan maut sendiri!


Akan tetapi, mereka berlima adalah orang-orang yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi, maka tentu saja tidak akan menjadi gentar. Apa lagi kalau mengingat betapa penjahat ini telah membunuh puteri tuan rumah, membuat mereka marah sekali.


Jai-hwa-ong itu tersenyum dan sinar bulan yang menimpa wajahnya membuat wajah itu tampak semakin sangat tampan, senyumnya memikat dan giginya berkilauan putih bersih. Kumis tipis di atas bibir itu bergerak-gerak ketika dia berkata lirih sambil mengejek,


"Kalian berlima sudah mengenal aku, tahukah kalian apa jadinya dengan orang yang telah mengenal aku?"

__ADS_1


"Kim-lian Jai-hwa-ong, kau boleh saja terkenal sebagai pembunuh setiap orang kang-ouw yang bertemu denganmu. Akan tetapi jangan menyangka kami takut menghadapi seorang penjahat rendah semacam engkau! Kami Pak-san Ngo-houw (Lima Harimau Pegunungan Utara) sudah mengikuti penyerbuan tentara utara ke selatan, sudah menghadapi banyak penderitaan dan ribuan kali ancaman maut, dan entah telah berapa ratus penjahat macam engkau ini kami basmi!" bentak salah seorang di antara lima orang tokoh.


__ADS_2