
Selain ini, juga senjata itu keras sekali, membuat telapak tangannya yang memegang gagang cambuk terasa panas dan pedas. Dengan loncatan ke belakang sambil memutar cambuknya, nenek ini berhasil menyelamatkan diri. Wajahnya menjadi merah sekali dan ia memaki sambil menudingkan cambuknya.
"Sie Cun Hong, dasar engkau tua-tua keladi makin tua makin... cabul!"
Kakek itu hanya tertawa-tawa saja, akan tetapi ketawanya berhenti ketika dari sebelah kiri terdengar suara yang menggetar penuh tenaga. "Omitohud....!"
Pada saat melihat bahwa yang kini maju adalah dua orang hwesio gundul yang usianya sudah enam puluh tahun lebih, kakek itu memandang dengan sikap tenang tetapi penuh pertanyaan karena sesungguhnya dia tidak mengenal dua orang pendeta ini.
"Locianpwe betul-betul telah membuktikan betapa julukan Sin-jiu Kiam-ong (Raja Pedang Tangan Sakti) adalah tepat karena tangan Locianpwe benar sakti!" kata seorang di antara dua orang pendeta yang alisnya putih dan tubuhnya kecil kurus.
Hwesio ke dua yang berkulit hitam dan bertubuh tinggi besar hanya merangkap kedua tangan di depan dada sambil berulang-ulang memuji, "Omitohud...!”
__ADS_1
Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong masih duduk bersila dan kini dia pun merangkap kedua telapak tangan di depan dada sebagai pemberian hormat. Menghadapi dua orang pendeta yang begitu lemah lembut, yang bersikap merendahkan diri sehingga mau menyebutnya locianpwe sebagai sebutan terhadap golongan tua tingkat atas, dia menjadi waspada dan hati-hati. Orang yang sombong takabur tidak perlu dikhawatirkan atau ditakuti, akan tetapi terhadap orang-orang yang lemah-lembut dan sikapnya halus, haruslah hati-hati karena orang-orang yang kelihatannya lemah sesungguhnya merupakan lawan yang berat.
"Ahh, berat sekali menerima pujian ji-wi (tuan berdua) yang sesungguhnya kosong penuh angin. Aku yang tua menjadi sadar akan usiaku yang sudah terlalu tua, karena biasanya kedatangan para hwesio seperti ji-wi adalah untuk menyembahyangi orang yang sudah mau mati atau orang yang sudah mati agar nyawanya dapat diterima di tempat yang baik. Siapakah gerangan ji-wi dan apa maksud kehadiran ji-wi ini di Kiam-kok-san?"
"Omitohud...! Kami berdua hanyalah hwesio-hwesio kecil tak berarti yang menjadi utusan Siauw-lim-pai untuk menemui Locianpwe."
"Ah, kiranya dari perguruan tinggi Siauw-lim-pai...! Sungguh merupakan kehormatan yang besar sekali!" Kakek itu berkata tercengang.
"Pinceng Thian Ti Hwesio dan dia ini adalah Sute (adik seperguruan) Thian Kek Hwesio, mewakili suhu yang menjadi ketua Siauw-lim-pai untuk mohon kepada Locianpwe supaya suka menyerahkan Siang-bhok-kiam kepada kami. Suhu mohon agar Locianpwe ingat betapa Siauw-lim-pai telah bersikap sabar dan tidak menuntut ketika Locianpwe pada tiga puluh tahun yang lalu mencuri kitab-kitab Seng-to Ci-keng (Kitab Perjalanan Bintang) dan I-kiong Hoan-hiat (Kitab Pelajaran Memindahkan Jalan Darah). Mengingat akan itu suhu pecaya bahwa Locianpwe kini dalam saat terakhir akan membalas kebaikan Siauw-lim-pai dan menyerahkan Siang-bhok-kiam supaya semua ilmu yang tersimpan di dalamnya tidak akan terjatuh ke tangan yang sesat dan dipergunakan untuk mengacau dunia!"
"Omitohud!" Hwesio tinggi besar Thian kek Hwesio melangkah maju sambil membentak keras.
__ADS_1
Sekarang hwesio itu membelalakkan matanya memandang Sin-jiu Kiam-ong, dan ternyata kedua matanya lebar sekali. Wajahnya membayangkan kekasaran dan kejujuran seperti wajah Thio Hwie, tokoh pahlawan dalam cerita Sam Kok.
"Locianpwe agaknya menghendaki kami pun menggunakan cara Locianpwe sendiri. Tidak boleh meminjam kitab-kitab lalu mempergunakan kepandaian mendapatkan kitab-kitab itu. Kini kami minta baik-baik tidak Locianpwe berikan, apakah berarti bahwa kami juga harus menggunakan kepandaian untuk mendapatkan pedang Siang-bhok-kiam itu?"
Sin-jiu Kiam-ong memandang hwesio itu sambil tersenyum, pandang matanya bersinar gembira. Orang yang keras dan jujur selalu mendapatkan rasa suka di hatinya, karena orang yang demikian itu lebih mudah dihadapi. Ia mengangguk dan menjawab,
"Kalau seperti itu wawasanmu, maka benarlah demikian agaknya."
"Hemm, bagus! Sin-jiu Kiam-ong terkenal sebagai ahli pedang ahli lweekang, tapi pinceng sedikit-sedikit juga telah berlatih selama puluhan tahun!" Setelah berkata demikian, Thian Kek Hwesio membalikkan badannya dan dengan gerakan kokoh kuat, lengan kanannya yang besar itu lalu mendorong dengan pukulan ke depan, ke arah sebatang pohon yang jaraknya ada tiga meter dari tempat dia berdiri.
Sambaran angin pukulan yang dahsyat membuat batang pohon tergetar, daun-daunnya seperti dilanda angin topan, dan berhamburanlah daun-daun yang rontok ke atas tanah seperti hujan! Andai kata manusia diserang dengan pukulan jarak jauh seperti ini, pastilah tulang-tulangnya akan remuk, dan rontok isi dadanya!
__ADS_1
Namun Sin-jiu Kiam-ong tersenyum lebar menyambut demonstrasi tenaga sinkang yang mencapai tingkat tinggi itu. "Ha-ha-ha! Membangun itu amat sukar, tapi merusak amatlah mudahnya. Memang manusia adalah perusak terbesar di antara segala makhluk! Thian Kek Hwesio, untuk merusak dan merobohkan pohon itu sampai ke akar-akarnya adalah hal yang mampu dilakukan semua orang, akan tetapi dapatkah engkau membuat sehelai daun saja? Hemm, biarlah kucoba mengembalikan daun-daun itu ke tempatnya, sungguh pun tak mungkin dapat kembali seperti asalnya karena kekuasaan itu hanya dimiliki oleh Thian!"
Sin-jiu Kiam-ong yang masih duduk bersila itu menggerakkan kedua tangannya ke depan, ke arah daun-daun yang jatuh berhamburan ke atas tanah tadi dan... bagaikan ada angin puyuh, secara tiba-tiba semua daun itu bergerak, berputar-putar dan terbang naik ke atas pohon kemudian menempel sejadinya pada cabang-cabang dan ranting-ranting, ada yang gagangnya menancap, ada yang melekat pada batang pohon, akan tetapi tidak ada yang rontok lagi ke bawah!