Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 11 part 2


__ADS_3

Begitu telinganya dapat menangkap bisikan-bisikan itu, dia menghentikan renungannya dan mencurahkan perhatiannya pada bisikan-bisikan tadi sehingga terdengar cukup jelas oleh Keng Hong yang memang memiliki sinkang yang sangat kuat itu. Muka Keng Hong menjadi merah ketika dia menangkap bisikan-bisikan itu dan dia mengerling ke kanan kiri, ke arah empat orang murid pria Kong-thong-pai yang berjalan di kanan kirinya, akan tetapi hatinya lega melihat mereka ini tidak mendengar apa-apa.


"Suci apa yang kau katakan ini? Jangan menuduh yang bukan-bukan…," terdengar jelas oleh Keng Hong gadis baju biru, Tang Swat Si, berbisik.


"Hi-hik-hik, tak perlu bepura-pura lagi, Sumoi. Aku pun amat tertarik padanya. Dia seorang jantan pilihan, dan kalau saja kita dapat menerima cintanya untuk semalam saja… ahh, selamanya kita tidak akan penasaran...," balas Kiu Bwee Ceng sambil menghela napas.


"Ihhh..! Suci, apa yang kau katakan ini? Sungguh memalukan.."


"Memalukan apa? Sumoi, kita sama-sama wanita dan sama-sama jatuh hati kepadanya. Dia mempunyai sinkang yang kuat luar biasa. Siapa tahu, kalau... satu kali saja dia suka melimpahkan cintanya kepada kita…, sinkang-nya yang kuat itu akan menular kepada kita..."


"Hina dan rendah sekali, Suci.."


"Benarkah? Kurasa tidak demikian isi hatimu. Atau, kalau engkau tidak mau, biarlah aku yang mencobanya asal engkau dapat menutup rahasia ini. Kulihat matanya penuh gairah ketika memandang kita. Mata seperti itu hanya dimiliki oleh pria yang bersemangat dan yang selalu suka kepada wanita. Malam ini... kalau ada kesempatan, kalau engkau mau, lebih baik lagi..., maukah engkau, Sumoi?"


"Ihhhhh, aku... aku malu, Suci. Engkau lebih dulu..."

__ADS_1


"Baik, aku lebih dulu dan engkau menjaga. Kalau berhasil, akan kubujuk dia supaya suka melayanimu pula."


Keng Hong tersenyum dalam hatinya, tersenyum geli. Alangkah banyaknya wanita cantik seperti mereka itu di dunia ini. Seperti Cui Im! Bahkan Biauw Eng, yang tadinya disangka lain dari pada yang lain, bukan penghamba nafsu birahi, kiranya juga sama saja! Ahh, dia tidak peduli lagi. Kalau memang mereka menghendaki dia tidak akan menolak. Mereka itu manis-manis dan apakah kata gurunya?


"Uluran cinta kasih wanita merupakan anugerah nikmat yang tidak semestinya dibiarkan sia-sia, tentu saja kalau engkau sendiri tertarik kepadanya. Kalau tidak sekali pun, jangan menolak secara kasar karena hal itu akan menyakiti perasaannya yang halus. Tidak ada sakit hati yang lebih parah bagi seorang wanita dari pada cintanya ditolak oleh seorang pria."


Dia akan melayani mereka bahkan akan membuka jalan. Hal ini bukan sekali-kali karena dia sudah tergila-gila kepada mereka, atau sudah terlalu mendesak keinginannya untuk bermain cinta dengan mereka. Sama sekali bukan. Terutama sekali karena dia sekarang mendapat jalan untuk memancing Biauw Eng.


Bukankah Biauw Eng membunuh Sim Ciang Bi karena gadis Hoa-san-pai itu mencintai dirinya? Nah, biarlah dua orang murid wanita Kong-thong-pai ini bermain cinta dengannya supaya Biauw Eng turun tangan pula membunuh mereka. Akan tetapi sekali ini dia akan waspada, tidak akan tertidur pulas dan akan selalu menjaga agar dia dapat menangkap Biauw Eng bila gadis itu berusaha membunuh mereka, dan tentu saja dia akan berusaha mencegah pembunuhan atas diri ke dua orang murid Kong-thong-pai ini.


Hati para murid Kong-thong-pai itu tengah risau dan berduka berhubung dengan kematian guru mereka, ada pun Keng Hong merupakan seorang tawanan yang suka rela, tak perlu dijaga lagi karena andai kata mau melarikan diri, biar dijaga sekali pun akan percuma dan tetap akan dapat lari. Maka empat orang murid pria dan dua orang murid wanita itu segera merebahkan diri mengaso di lantai kuil setelah mereka makan malam dan lantai itu disapu bersih oleh Bwee Ceng dan Swat Si.


Tentu saja, seperti biasa, Bwee Ceng dan Swat Si memisahkan diri. Biar pun empat orang itu adalah suheng-suheng mereka, namun sebagai wanita tentu saja mereka merasa tidak leluasa untuk tidur di dalam suatu ruangan dengan mereka, apa lagi di situ terdapat Keng Hong dan lebih-lebih lagi karena mereka berdua diam-diam mempunyai rencana rahasia!


Malam itu, menjelang tengah malam, Bwee Ceng berindap memasuki ruangan belakang di mana Keng Hong tidur. Pemuda ini memang sengaja memilih ruangan terpisah untuk tidur. Dengan suara gemetar Bwee Ceng berbisik,

__ADS_1


"Keng Hong.."


Keng Hong memang belum tidur, dia masih duduk bersandar tembok kuil. "Ah, engkaukah itu? Apakah kehendakmu?"


"Aku... aku ingin membuka belenggumu. Amat tidak enak bila tidur dengan kedua tangan terbelenggu."


Keng Hong tersenyum dan mengangkat kedua tangannya yang sudah bebas. Dia sudah membuka sendiri belenggu tangannya yang dia taruh di atas lantai. "Aku sudah bebas dan siap menantimu, nona. Ataukah... perasaan cintamu yang kau bisikkan siang tadi sudah berubah?"


Bwee ceng makin kaget. "Kau… kau dapat mendengarkan percakapan itu...?"


"Tentu saja, dan aku merasa girang sekali. Kalian adalah nona-nona yang cantik manis. Akan tetapi, kita harus keluar dari kuil ini. Tidak enak rasanya apa bila kita bersenang-senang di sini, di mana para suheng-mu sedang tidur. Dan ajaklah sumoi-mu. Kita bertiga berjalan-jalan di kebun belakang kuil. Bagaimana, maukah?"


Dengan dua pipi berubah kemerahan Bwee Ceng hanya mengangguk-angguk, tanpa bisa mengeluarkan suara, kemudian dia tertawa kecil dan berlari-larian pergi untuk memanggil sumoi-nya. Keng Hong sudah melangkah keluar dari kuil menuju ke kebun bunga yang berada di belakang kuil.


Seperti kuil itu sendiri, kebun itu pun tidak terpelihara, namun masih banyak bunga-bunga liar tumbuh di situ dan ditumbuhi rumput tebal. Keng Hong yang hendak mempergunakan pertemuannya dengan dua orang murid wanita Kong-thong-pai ini sebagai ‘pancingan’ kepada Biauw Eng, memilih tempat terbuka dan duduklah dia di atas tanah yang bertilam rumput hijau tebal. Tak lama dia menanti dan tampaklah Bwee Ceng, janda muda ini yang begitu tiba di tempat itu, lalu menarik sumoi-nya duduk di dekat Keng Hong, kemudian sambil tersenyum dia merangkul Keng Hong yang balas memeluknya.

__ADS_1


"Ahh, engkau begini tampan, begini gagah...," Bwee Ceng berbisik.


__ADS_2