Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 02 part 4


__ADS_3

Namun pertandingan itu berjalan sebentar saja. Terdengar kekeh tawa Ang-bin Kwi-bo diseling gelak tawa Pak-san Kwi-ong, disusul oleh suara senjata-senjata patah dan tubuh sembilan orang pengeroyok itu terpelanting lagi ke kanan kiri, akan tetapi sekali ini agak keras, bahkan terbanting ke tanah.


Pada saat sinar-sinar itu mulai lenyap, Keng Hong melihat betapa sembilan orang itu ada yang terbanting roboh, ada yang terhuyung-huyung ke belakang. Mereka ini menyeringai kesakitan dan bangkit bangun lagi dengan wajah pucat.


Pecut sembilan ekor di tangan Kiu-bwe Toanio kini ekornya tinggal lima, Liong-cu-pang di tangan Thian Ti Hwesio semplak pada bagian ujung yang bulat, jubah di tangan Thian Kek Hwesio robek, pundak Sin-to Gi-hiap berdarah.


Napas kedua Hoa-san Siang-sin-kiam terengah-engah, sedangkan tangan mereka yang memegang pedang menggigil. Juga Kok Cin Cu berdiri sambil memejamkan mata dan mengatur pernapasan untuk memulihkan tenaga sambil mengobati luka di sebelah dalam tubuhnya. Kedua suami-isteri piauwsu itu pun memandang pedang mereka yang tinggal sepotong, adapun kantong-kantong senjata rahasia mereka sudah kosong karena isinya hanya habis dihamburkan dengan sia-sia.


"Hi-hi-hik-hik! Kalian berani menentang Bu-tek Sam-kwi (Tiga Iblis Tanpa Tanding)?" kata Ang-bin Kwi-bo.


"Kelancangan kalian harus ditebus dengan nyawa!" kata Pak-san Kwi-ong sambil tertawa.


"Bersembahyanglah lebih dahulu sebelum menemui Giam-lo-ong (Raja Maut)!" Kini untuk pertama kalinya terdengar suara Pat-jiu Sian-ong dan ternyata suaranya halus dan seperti suara orang yang penuh kasih sayang!


Sembilan orang itu sudah bersiap-siap. Mereka itu semuanya sudah menderita luka, dan yang tak terluka telah mengorbankan senjatanya yang menjadi rusak. Akan tetapi karena maklum bahwa nyawa mereka terancam maut, mereka siap-siaga untuk melawan sampai detik terakhir.

__ADS_1


Meski pun tidak tahu akan ilmu silat, apa lagi ilmu silat tinggi yang dimainkan mereka, dari percakapan itu Keng Hong maklum pula bahwa ketiga orang manusia iblis itu siap untuk membunuh sembilan orang tokoh pendekar itu, maka dia membelalakkan matanya sambil memandang dengan penuh ketegangan. Suling bambu di tangannya dia pegang erat-erat, seolah-olah dia pun bersiap-siap menerima terjangan maut.


Setelah tertawa lagi, tiga orang manusia iblis itu bergerak. Gerakan mereka berbarengan, masing-masing mengarah tiga orang lawan terdekat. Rambut pada kepala Ang-bin Kwi-bo menyambar ke depan, berlomba cepat dengan rantai tengkorak serta hudtim pada tangan kedua orang kawannya.


Sembilan orang yang sudah lemah itu maklum bahwa kali ini nyawa mereka tak berdaya menghadapi kehebatan ketiga orang lawan ini, apa lagi sekarang setelah mereka terluka dan lemah. Betapa pun juga mereka terluka dan lemah, mereka tetap saja menggerakkan tangan untuk mempertahankan diri.


Tiba-tiba saja terdengar suara mencicit keras dan nyaring sekali, berbarengan berkelebat sinar hijau yang panjang dan tebal, kemudian disusul bunyi nyaring.


"Cring-cring-tranggg...!"


Tiga orang manusia iblis itu cepat mencelat mundur sambil mengeluarkan seruan kaget. Tangkisan cahaya hijau tadi membuat sebagian rambut di kepala Ang-bin Kwi-bo rontok, kedua tengkorak Pak-san Kwi-ong berputaran, ada pun kebutan hudtim di tangan Pat-jiu Sian-ong bodol tiga helai!


Kiranya di hadapan mereka sudah berdiri Sin-jiu Kiam-ong yang tersenyum-senyum dan pedang Siang-bhok-kiam yang diperebutkan itu sudah berada di tangan kanannya. Kakek ini tenang-tenang saja menoleh ke belakang dan berkata kepada sembilan orang tokoh kang-ouw yang memandang dengan mata terbelalak kagum.


"Harap Kiu-wi (kalian sembilan orang) suka mundur. Biar aku yang menghadapi mereka karena tiga iblis ini adalah tandinganku!"

__ADS_1


Meski berwatak angkuh dan menjunjung kegagahan, sembilan orang ini pun merupakan orang-orang yang mengenal keadaan. Maka sambil menghela napas panjang mereka lalu melangkah mundur dan hanya menonton dari pinggiran.


"Sin-jiu Kiam-ong!" Kini Pak-san Kwi-ong membentak dan menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka kakek tua renta itu. "Kabarnya engkau sudah mengundurkan diri dan tidak mau mencampuri urusan dunia ramai. Bahkan tadi kami mendengar bahwa engkau telah menyerahkan nyawa, tak akan melakukan perlawanan. Kenapa sekarang engkau hendak menentang kami? Apakah engkau sudah melupakan kegagahanmu dan hendak mampus sebagai seorang pengecut rendah yang menarik kembali ucapannya yang gemanya pun masih terdengar?"


Sin-jiu Kiam-ong tertawa, kemudian menjawab, "Hemm, kalian Bu-tek Sam-kwi dengarlah baik-baik! Aku sama sekali tak pernah berjanji kepada kalian bertiga! Aku berjanji kepada sembilan orang yang mewakili partai-partai yang dahulu pernah kuganggu. Aku berhutang kepada mereka, karena itu sekarang aku bersedia membayar dengan nyawaku. Pedang Siang-bhok-kiam ini sama harganya dengan nyawaku, maka kalau kalian bertiga datang hendak memperoleh Siang-bhok-kiam, harus lebih dulu dapat merampas nyawaku!"


"Bagus! Sin-jiu Kiam-ong manusia sombong yang sudah hampir mampus! Kami masih suka bicara denganmu karena mengingat bahwa engkau setingkat dengan kami. Jangan sekali-kali mengira bahwa kami takut kepadamu!" bentak Ang-bin Kwi-bo marah.


"Heh-heh-heh, Kwi-bo, dahulu, setengah abad yang lalu, engkau cantik jelita dan memiliki kesukaan yang sama dengan aku, yaitu berenang di dalam lautan asmara. Akan tetapi sekarang, heh-heh-heh, engkau buruk sekali......!"


"Gila...!" Ang-bin Kwi-bo langsung menerjang dengan kedua tangannya dan sepuluh buah kuku runcing mengandung racun dahsyat itu sudah mencakar ke arah Sin-jiu Kiam-ong.


Kakek ini menggoyang pergelangan tangannya. Sinar hijau lantas berkelebat dan si nenek memekik keras kemudian cepat menarik kembali kedua tangannya yang dari kedudukan menyerang berbalik terancam dibabat buntung oleh Siang-bhok-kiam!


Kedua orang kawannya tidak tinggal diam. Mereka sudah menerjang maju dan terjadilah pertempuran yang lebih dahsyat lagi dari pada tadi. Sembilan orang sakti yang menonton, hampir berbarengan mengeluarkan seruan-seruan kagum.

__ADS_1


Mereka adalah orang-orang sakti, karena itu dengan pandang mata yang terlatih mereka dapat menikmati dan mengagumi permainan pedang Sin-jiu Kiam-ong yang benar-benar belum pernah mereka saksikan keduanya di dunia ini. Juga mereka merasa ngeri setelah kini mereka dapat mengikuti sepak terjang tiga orang iblis itu yang benar-benar luar biasa dan amat berbahaya.


Bagi Keng Hong, tentu saja penglihatan pada saat itu lain lagi. Ia tidak melihat lagi Sin-jiu Kiam-ong dan tiga orang iblis. Bayangan mereka sudah lenyap. Yang kelihatan olehnya hanyalah segulung sinar hijau bagaikan seekor naga bermain-main di antara mega-mega yang beraneka warna, ada mega hitam, ada yang putih dan ada yang kemerahan.


__ADS_2