Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 11 part 7


__ADS_3

Akan tetapi dengan mudahnya Lian Ci Tojin mengelak. Tosu ini adalah murid ke lima dari ketua Kun-lun-pai, tentu saja merupakan seorang di antara tokoh-tokoh Kun-lun-pai yang termasuk golongan atas.


"Hemmm, kalau bukan pacar bocah keparat ini, setidaknya tentu mata-mata musuh yang hendak menyelidiki keadaan Kun-lun-pai. Mengakulah, mau apa kau datang ke wilayah Kun-lun-pai?" bentak tosu itu.


"Tosu keparat, tosu palsu, lihat pedang!" Tan Hun Bwee sudah menyerang kembali dan ternyata gadis ini memiliki ilmu pedang yang cukup lihai sehingga kembali Lian Ci Tojin terpaksa melompat ke belakang mengelak sambil meraba punggungnya dan di lain saat pedangnya sudah berada di tangan.


"Engkau hendak menggunakan kekerasan? Baik, majulah!"


Pada waktu gadis itu menyerang lagi, Lian Ci Tojin sudah menggerakkan pula pedangnya menangkis dan mereka segera bertanding dengan hebat.


"Sute, jangan membunuh orang!" Sian Ti Tojin memperingatkan sute-nya.


"Ha-ha-ha, menghadapi bocah seperti ini, masa perlu membunuhnya, Suheng? Dia harus ditangkap, mungkin dia mata-mata musuh yang berbahaya."


Tan Hun Bwee boleh jadi lihai dan jarang terdapat seorang gadis muda memiliki keahlian bermain pedang seperti dia, akan tetapi kalau berhadapan dengan seorang tokoh besar Kun-lun-pai seperti Lian Ci Tojin, dia masih kalah jauh. Sesudah bertanding mati-matian selama tiga puluh jurus, dalam pertemuan pedang Lian Ci Tojin mengerahkan tenaganya dan gadis itu berteriak kaget, pedangnya terlepas dari pegangan dan sempat ia mengelak, namun tangan kiri tosu itu telah menotok pundaknya, membuat ia roboh lemas tak dapat berkutik lagi!


"Ha-ha-ha, bocah-bocah sekarang banyak yang tak tahu diri, seperti bocah keparat Keng Hong ini dan gadis galak ini. Suheng, keadaan gadis ini sangat mencurigakan, dia datang bersama Keng Hong, siapa tahu di belakangnya ada orang-orang lain. Biar dia kubawa lebih dulu menghadap suhu agar diselidiki. Harap Suheng mengantar Keng Hong ke atas dan menyusul."

__ADS_1


Sian Ti Tojin hanya mengangguk sambil berkata kepada Keng Hong, "Hayo berdiri dan ikut dengan pinto ke puncak Kun-lun-pai."


Keng Hong tadi hanya menonton saja ketika nona Tan bertanding melawan Lian Ci Tojin. Hatinya gelisah tidak karuan, akan tetapi bagaimana dia dapat turun tangan melindungi nona itu atau mencegah Lian Ci Tojin? Bila mana dia melakukan hal ini berarti bahwa dosanya terhadap Kun-lun-pai akan menjadi bertambah.


Apa lagi dia dapat melihat bahwa tosu itu tidak akan membunuh Tan Hun Bwee, dan hanya akan menangkapnya kemudian membawanya ke Kun-lun-pai untuk diselidiki. Kalau memang gadis itu tidak bersalah, dan benar hanya ingin mencari pusaka di Kiam-kok-san, dia percaya akan kebijaksaan para pimpinan Kun-lun-pai yang tentu akan membebaskan gadis itu.


Akan tetapi pada saat dia hendak bangkit memenuhi permintaan atau perintah Sian Ti Tojin dan mengerling ke arah Tan Hun Bwee yang sudah tertotok, dia melihat Lian Ci Tojin secara kasar dan sembarangan mengempit tubuh gadis itu dan dibawa pergi. Pada saat itu dia melihat sinar mata Lian Ci Tojin dan jantungnya berdebar tidak karuan. Dia berusaha menekan-nekan debar jantungnya, akan tetapi tak berhasil sehingga ketika dia bangkit berdiri, kakinya gemetar serta mukanya menjadi berubah dan keningnya berkerut.


Melihat hal ini, Sian Ti Tojin mengira bahwa pemuda ini hendak membangkang. Ia sudah maklum akan kelihaian bocah ini yang mempunyai ilmu aneh dan pernah menggegerkan Kun-lun-pai. Tentu saja dia tidak takut dan merasa dapat mengatasi bocah ini karena dia tahu bahwa Keng Hong hanya mempunyai tenaga sedot mukjijat itu sedangkan dalam hal ilmu silat, pemuda ini masih rendah ilmunya.


Ada pun tentang ilmu sedot itu, sesudah dahulu Keng Hong menggegerkan Kun-lun-pai, suhu-nya sudah memberi penjelasan kepada para murid, dan kini sudah tahu bagaimana caranya menolong diri sendiri apa bila dia kena ‘disedot’. Tapi betapa pun juga, dia tidak menghendaki pemuda ini membangkang sehingga dia tak usah menggunakan kekerasan.


Keng Hong tadinya memandang ke arah bayangan Lian Ci Tojin yang membawa lari Hun Bwee dan kini bayangan itu sudah lenyap di tikungan lereng. Ia menghela napas panjang dan memutar tubuhnya menghadapi Sian Ti Tojin. Sian Ti Tojin adalah murid ke dua dari Thian Seng Cinjin ketua Kun-lun-pai, sehingga dalam hal ilmu silat, tosu ini hanya berada di bawah suheng-nya yang tertua, yaitu Kiang Tojin.


"Totiang, mengapa Totiang membiarkan Lian Ci Tojin membawa pergi nona Tan? Kenapa tidak bersama-sama saja?"


"Hemmm, engkau lancang sekali. Ada sangkut pautnya apakah denganmu? Sute hendak membawa gadis itu lebih dahulu karena menaruh curiga kepadanya. Sebenarnya apakah keperluannya berada di tempat ini bersamamu?"

__ADS_1


"Totiang, dia itu orang baik-baik, tidak ada kesalahan terhadap Kun-lun-pai. Dia sengaja datang ke sini untuk mencari Kim-kok-san."


"Apa? Mengapa?'


"Dia adalah puteri dari Tan-piauwsu yang dahulu pernah bermusuhan dengan mendiang suhu. Ada beberapa buah barang berharga milik ayah ibunya yang dirampas suhu dan dia hendak mencari barang-barang itu. Dia sama sekali tidak memiliki maksud buruk terhadap Kun-lun-pai. Mengapa ditangkap?"


Sian Ti Tojin menggelengkan kepala. "Tidak bermaksud buruk akan tetapi dia menyerang sute. Sudahlah, kalau memang dia tak bersalah, tentu akan dibebaskan kembali. Mari kita naik menghadap suhu dan jangan banyak tingkah agar pinto tidak perlu menggunakan kekerasan terhadapmu."


Keng Hong menghela napas panjang dan melangkah pergi diikuti kakek itu dari belakang. Akan tetapi baru beberapa ratus langkah, dia berhenti lagi.


"Totiang..."


"Kenapa kau berhenti? Hayo jalan terus."


"Totiang, hati saya merasa tidak enak sekali. Amat berbahaya nona Tan dibawa pergi Lian Ci Tojin. Tidakkah Totiang dapat melihat betapa tadi sinar mata Lian Ci Tojin berapi-api? Apakah patut dia mengempit tubuh seorang gadis? Lebih baik kita susul dia."


"Ah, engkau benar-benar kurang ajar dan patut dipukul, Keng Hong. Berani benar engkau mengeluarkan fitnahan-fitnahan menghina sute. Kami adalah tosu-tosu yang menyucikan diri dan batin, masa terhadap seorang wanita akan timbul pikiran kotor seperti mendiang suhu-mu? Uhh, jika sekali lagi kau mengeluarkan ucapan seperti itu, terpaksa akan pinto pukul sebagai hajaran."

__ADS_1


Kembali Keng Hong menghela napas lalu berjalan lagi. Dia menganggap bahwa alasan tosu tua ini benar.


__ADS_2