
KAKEK ini selain aneh, lihai, juga amat lucu dan gembira. Melihat sikap sungguh-sungguh ketika kakek yang nama julukannya saja sudah aneh itu bertanya apakah dia gila, Keng Hong tidak dapat menahan kegelian hatinya dan dia tertawa bergelak, membuat kakek itu makin curiga, makin keras mengira bahwa pemuda ini benar-benar telah gila!
"Tidak, Locianpwe. Aku belum gila dan mudah-mudahan tak akan gila," jawab Keng Hong. "Yang kumaksudkan dengan air adalah kalimat yang Lociapwe berikan pada saya sebagai nasehat menghadapi orang-orang Tiat-ciang-pang. Kalimat yang sangat menarik hati saya dan yang ingin sekali saya tanyakan kepada locianpwe tentang artinya."
"Kalimat apa?"
"Yang seperti bunyi ujar-ujar kuno yang suci, mengenai air." Keng Hong sengaja bicara berputar untuk memancing.
"Sangat banyak ujar-ujar suci yang membawa-bawa air sebagai wejangan. Yang mana yang kau maksudkan? Nasehat apakah yang kuberikan tadi? Aku sudah tidak ingat lagi. Pertanyaan-pertanyaanmu aneh dan membikin aku bingung. Eh, benar-benarkah engkau tidak miring otak, ya?"
"Tidak, Locianpwe. Kalau locianpwe lupa, biarlah saya mengulang kalimat yang locianpwe ucapkan tadi. Begini bunyinya: ‘Kebijaksanaan tertinggi seperti air’."
"Heh-heh-heh! Betul sekali! Kebijaksanaan tertinggi seperti air! Kalimat lengkapnya begini: Kebijaksanaan tertinggi seperti air yang memberi manfaat kepada segala sesuatu dan mengalir ke tempat rendah yang tak disukai orang karena itu sifatnya berdekatan dengan To…"
"Eh bukankah itu ayat di kitab To-tik-keng bagian ke delapan?" Keng Hong berseru girang dan heran.
Sebaliknya, kakek bongkok itu memandang Keng Hong dengan mata berseri, "Hayaaaa! Engkau ini benar-benar bocah yang kukoai (aneh) sekali! Mengerti dan hafal pula dengan ayat-ayat di kitab To-tik-keng?"
__ADS_1
"Tentu saja hafal karena saya sudah sering kali menghafalnya, Locianpwe. Tadi saya lupa dan... ahhh, hal ini tidak perlu. Yang penting sekarang apakah Locianpwe mengenal pula kalimat yang berbunyi seperti ini: Tulus dan sungguh mengabdi kebajikan."
"Apakah engkau maksudkan tulus dan sungguh mengabdi kebajikan seperti air keluar dari sumbernya? Dan juga sewajarnya seperti munculnya matahari dan bulan atau sewajarnya seperti empat musim yang datang bergantian? Ujar-ujar itu lengkapnya berbunyi begini: Phouw Phek Yan Coan, Ji Si Chut Ci."
"Wah, itu adalah ujar-ujar pasal tiga puluh satu ayat dua dari kitab Tiong-yong!" kembali Keng Hong berseru girang sekali karena mengenal ujar-ujar itu yang seluruh isi kitabnya pernah dihafalnya di luar kepala.
Sekali lagi kakek bongkok itu bengong dan kagum. "Engkau juga pandai ujar-ujar Nabi Khongcu? Wah, bocah apakah engkau ini? Kalau gila terang belum! Akan tetapi, engkau menguasai ilmu sesat Thi-khi I-beng, ginkang-mu luar biasa sekali dapat menandingi aku, sinkang-mu menakjubkan, dan engkau hafal akan kitab-kitab To-tik-keng dan Tiong-yong! Siapakah sesungguhnya engkau ini bocah aneh?"
Akan tetapi Keng Hong yang sudah mengenal dua di antara tiga baris kalimat yang terukir di pedang Siang-bhok-kiam, menjadi begitu girang sehingga dia tidak mempedulikan lagi pertanyaan kakek itu, melainkan cepat dan menahan napas ketika dia berkata lagi,
"Satu lagi, Locianpwe. Satu lagi mohon bantuanmu. Dengarkanlah kalimat ini: Tukang saluran mengalirkan airnya ke mana dia suka."
"Bocah sombong! Apakah engkau hendak menantang aku? Apakah engkau tidak percaya akan julukanku Siauw-bin Kuncu? Aku berjuluk Kuncu, tentu saja aku seorang bijaksana yang telah mengenal seluruh ayat di permukaan bumi ini! Apakah engkau sengaja hendak mengujiku? Sekaligus kau mengeluarkan tiga ayat dari tiga macam agama, apa kau kira aku berjuluk kuncu hanya untuk main-main dan palsu belaka? Kalau memang kau hendak menantangku berdebat tentang filsafat agama-agama di dunia ini, kau bilang saja terus terang, dan akan kulayani sampai engkau keok!"
Keng Hong menahan kegelian hatinya, dia maklum bahwa kakek ini seorang tokoh yang amat aneh dan agaknya memang seorang ahli kitab-kitab suci. Jika dipaksa dan dibujuk, biar dia menyembah-menyembahnya tentu tak akan sudi memenuhi permintaannya, maka jalan satu-satunya hanya menantangnya!
"Ha-ha-ha-ha, kusangka tadinya julukanmu hanya kosong belaka, siapa kira ternyata lebih kosong dari pada yang kosong!" berkata Keng Hong untuk memanaskan hati kakek itu. "Memang aku menantangmu berdebat tentang filsafat. Kalimat terakhir tadi tentu tidak kau kenal, maka engkau mencari-cari alasan, kakek bongkok!"
__ADS_1
Anehnya kakek itu tidak marah malah tertawa-tawa. "He-he-heh, engkau memujiku terlalu tinggi, orang muda. Siapa namamu tadi? Cia Keng Hong? Ahh, aku mulai suka kembali kepadamu. Di dalam to-kauw terdapat paham bahwa yang kosong itu lebih berguna dari pada yang isi, maka kau menyebut aku lebih kosong dari pada yang kosong. Pujian apa lagi yang lebih hebat dari pada ini?"
Celaka, pikir Keng Hong. Kakek ini benar angin-anginan dan mencampur adukkan isi filsafat dengan ucapan-ucapan biasa. Akan tetapi dia tidak kekurangan akal. "Locianpwe, ada maksud saya dengan menjajarkan tiga ayat itu, karena dua ayat terdahulu sudah dapat Locianpwe tebak, harap tidak berlaku kepalang dan suka mengenal ayat terakhir tadi. Saya ulangi lagi. Tukang saluran mengalirkan airnya ke mana dia suka."
Kakek itu tertawa lalu bersenandung,
"Tukang-tukang pembuat saluran air mengalirkan airnya ke mana mereka suka;
para pembuat panah meluruskan anak panahnya;
tukang kayu melengkungkan sebatang kayu;
para bijaksana mengendalikan diri pribadi!"
Keng Hong meloncat dan berjingkrak-jingkrak saking senangnya. "Ha-ha-ha! Itulah ayat ke delapan puluh dari kitab Jalan Suci Kebajikan (Dharmapada)!"
Kakek itu melangkah dekat dan menantang, "Tak perlu mengejek! Kalau engkau memang seorang ahli dalam filsafat dari isi kitab suci dari tiga agama, mari berdebat dengan aku. Kalau aku kalah, aku akan membuang julukan Kuncu dan akan mengaku engkau sebagai guru!"
__ADS_1
Keng Hong yang tadinya menari-nari kegirangan karena merasa dapat memecahkan arti tiga baris kalimat yang terukir di atas pedang Siang-bhok-kiam, tiba-tiba saja terdiam dan mengasah otaknya. Jika sudah dapat mengenal, lalu bagaimana lanjutannya? Bagaimana artinya yang berhubungan dengan rahasia penyimpanan pusaka-pusaka peninggalan dari gurunya? Dia mendapat akal dan ingin mempergunakan pengertian yang mendalam dari kakek yang berjuluk Siauw-bin Kuncu itu untuk mencoba-coba membongkar rahasia yang tersembunyi di balik tiga baris kalimat itu.