Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 06 part 1


__ADS_3

Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda. Belasan ekor kuda mendatangi dari depan menuju ke tempat itu. Binatang-binatang itu adalah binatang tunggangan para murid ketiga partai persilatan itu yang tadi meninggalkan kuda mereka di dalam hutan sebelah agar mereka dapat mengepung kereta tanpa mengeluarkan suara.


Kini belasan ekor kuda itu berlari-larian karena dikejutkan oleh serangan seekor harimau, dan dalam keadaan panik belasan ekor kuda itu lari menerjang ke arah orang-orang yang sedang terheran-heran memandang ke arah Keng Hong dengan mata terbelalak.


Biar pun mereka itu rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi, akan tetapi pada waktu itu mereka sedang menderita luka bahkan sebagian besar tenaga sinkang-nya hampir habis tersedot oleh Keng Hong. Maka kini menghadapi pasukan kuda yang menerobos liar ini mereka tidak sempat untuk menghindarkan diri. Dan jangan dianggap remeh rombongan kuda yang sedang panik dan ketakutan ini. Mereka akan menerjang apa saja dan akan menginjak-nginjaknya sampai *****!


Keng Hong dapat melihat keadaan bahaya ini. Meski pun dia sedang tersiksa oleh hawa sinkang yang memenuhi badannya, melihat keadaan bahaya mengancam orang-orang itu, dia lalu cepat meloncat.


Tubuhnya bagaikan sebuah bola karet penuh gas, begitu digerakkan lalu meluncur cepat sekali menghadang rombongan kuda. Pemuda ini secara aneh sekali telah menjadi buas dan ingin sekali menghancurkan atau menbunuh apa yang merintang di depannya. Hal ini adalah disebabkan dorongan sinkang yang berlebihan itu sehingga dia tersiksa dan ingin melampiaskan rasa marah yang timbul akibat siksaan ini. Keadaannya itu tiada bedanya dengan seorang yang diserang sakit gigi lalu menjadi marah-marah dan ingin mengamuk.


Maka kini melihat betapa rombongan kuda itu mengancam keselamatan orang-orang yang menderita luka akibat dirinya, dia lantas mendorong-dorongkan kedua lengan dan kakinya sambil mengeluarkan seruan-seruan yang aneh bunyinya sebab suara ini digerakkan oleh sinkang yang padat, yang dikeluarkan untuk mengimbangi gerakan-gerakan pukulan dan tendangan itu.


...

__ADS_1


...


Akibatnya hebat sekali! Belasan ekor kuda itu bagaikan diamuk angin taufan, roboh dan terbanting ke kanan kiri, lantas berkelojotan sambil mengeluarkan suara meringkik-ringkik kesakitan. Di antara suara hiruk-pikuk ini, Keng Hong sudah menerjang maju terus dan terdengarlah gerakan dahsyat.


Dalam waktu beberapa menit saja, belasan ekor kuda sudah menggeletak tak bernapas lagi, dan paling belakang nampak seekor harimau besar berkelojotan sekarat! Ada pun Keng Hong sendiri berdiri tegak, mukanya penuh peluh, muka yang masih merah sekali akan tetapi jalan pernapasannya sudah tenang dan kini wajahnya tidak beringas seperti tadi, melainkan tenang, bahkan kelihatannya lega.


Memang kini dadanya telah lapang, sinkang yang menggelora di dalam tubuhnya sudah dia salurkan keluar melalui pukulan dan tendangan yang mengakibatkan tewasnya enam belas ekor kuda ditambah seekor harimau besar!


Akan tetapi pemuda itu tidak pernah melawan dan menurut saja menjadi orang tangkapan mereka berdua! Teringat akan ini, Cui Im dan Biauw Eng bergidik.


Pada saat itu, terjadilah hal yang sama dalam hati dua orang murid Lam-hai Sin-ni, yaitu bahwa cinta kasih mereka jatuh terhadap Keng Hong! Cui Im yang telah berhasil merayu Keng Hong sehingga pemuda yang mewarisi ilmu kepandaian juga mewarisi pula sifat mendiang Sin-jiu Kiam-ong itu pernah melayaninya bermain cinta, sekarang benar-benar menghedaki pemuda itu menjadi kekasihnya untuk selamanya.


Bukan hanya karena Keng Hong seorang pemuda yang tampan dan gagah, pula seorang yang masih jejaka sebelum bertemu dengannya, juga terutama sekali karena Keng Hong mempunyai ilmu kepandaian mukjijat, di samping ini menjadi pewaris pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong. Jika dia dapat memiliki pemuda ini sampai selamanya, atau paling tidak sampai dia dapat mengoper semua ilmu dan pusaka itu, alangkah akan senang hatinya!

__ADS_1


Ada pun perasaan cinta kasih yang mulai bersemi di hati Biauw Eng adalah cinta kasih yang wajar dari seorang gadis yang selamanya belum pernah jatuh cinta pada seorang pemuda yang amat menarik hatinya. Biauw Eng melihat adanya sifat luar biasa pada diri Keng Hong, sifat kegagahan yang aneh dan sukar dicari keduanya.


Hatinya jatuh, akan tetapi sesuai dengan sifatnya yang pendiam, dingin dan keras, tentu saja tak ada sesuatu pun terbayang pada wajah atau pandang matanya, berbeda dengan Cui Im yang memandang Keng Hong penuh nafsu menyala-nyala, yang terbayang pada wajahnya yang menjadi kemerahan dan sinar matanya yang bersinar-sinar.


Enam belas orang anak-anak murid partai persilatan besar itu kini merasa putus harapan untuk dapat merampas murid Sin-jiu Kiam-ong seperti yang mereka harapkan semula, sesuai dengan tugas yang mereka terima dari guru-guru mereka. Tadinya menghadapi dua orang murid Lam-hai Sin-ni, mereka masih mempunyai harapan untuk berhasil.


Biar pun mereka itu terdiri dari empat orang murid Hoa-san-pai, tiga orang murid Siauw-lim-pai, dan sembilan orang murid Kong-thong-pai, namun karena semuanya berasal dari partai-partai persilatan yang bersahabat, mereka sudah bersatu untuk merampas Keng Hong agar semua pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong dapat ditemukan sehingga selain mereka dapat mengambil benda-benda pusaka yang dahulu dicuri atau dirampas Sin-jiu Kiam-ong, juga mendapat bagian pusaka-pusaka lain sebagai ‘bunganya’.


Akan tetapi sesudah mereka menyaksikan betapa murid Sin-jiu Kiam-ong yang menjadi tawanan kedua orang murid Lam-hai Sin-ni itu turun tangan dan ternyata memiliki ilmu yang mengerikan dan amat lihai seperti iblis sendiri, bahwa pemuda aneh itu membantu dua orang nona yang menawannya, mereka pun kehilangan harapan untuk melanjutkan perampasan dengan kekerasan.


Dengan hati penuh kemarahan mereka berpendapat bahwa tentu murid Sin-jiu Kiam-ong ini berwatak seperti mendiang gurunya dan kini tergila-gila kepada dua orang murid iblis betina yang cantik itu sehingga malah membantunya.


"Omitohud..., mendiang Sin-jiu Kiam-ong mempunyai dua sifat, yaitu sifat pendekar besar yang gagah perkasa dan sifat kenakalan lain yang sangat buruk sehingga beliau memiliki banyak musuh. Kini muridnya agaknya tidak mewarisi sifat yang baik itu melainkan hanya mewarisi sifat buruknya!" berkata salah seorang di antara tiga murid Siauw-lim-pai yang berpakaian pendeta dan berkepala gundul.

__ADS_1


__ADS_2