
Guru dan murid itu amat tekunnya. Sukar dikatakan siapa di antara mereka yang lebih tekun, si guru yang mengajar ataukah si murid yang belajar. Keng Hong belajar ilmu dan berlatih tanpa mengenal waktu. Tidak ada perbedaan antara siang atau malam baginya, baik puncak batu pedang itu sedang terang ataukah sedang gelap. Baginya kini tidak ada bedanya karena dia dapat melihat di dalam gelap saking hebatnya gemblengan yang diberikan gurunya.
Ia mengaso kalau tubuhnya sudah tidak kuat lagi, hanya tidur kalau matanya sudah tidak kuat menahan kantuk, hanya makan kalau perutnya sudah tidak dapat menahan lapar dan minum kalau kerongkongannya sudah tidak dapat menahan haus. Dalam beberapa bulan saja dia sudah dapat turun dari batu pedang dan menggantikan pekerjaan gurunya untuk mencari bahan makanan.
Sin-jiu Kiam-ong menggembleng muridnya itu dengan cara-cara yang luar biasa. Segala pengertian dasar ilmu silat dia berikan dengan cara kilat. Latihan lweekang dan ginkang dia berikan dan tekankan agar dilatih terus-menerus oleh muridnya. Latihan semedhi dan mengatur pernapasan untuk mengumpulkan sinkang (hawa sakti) di dalam tubuh, sambil sedikit demi sedikit ‘memindahkan’ sinkang-nya sendiri melalui telapak tangan yang dia tempelkan di punggung muridnya.
Luar biasa sekali kemajuan yang diperoleh Keng Hong. Cepat dan memang anak ini amat cerdik, setiap pelajaran yang diberikan selalu menempel di dalam ingatannya. Akan tetapi sebaliknya, bila Keng Hong memperoleh kemajuan yang hebat dan cepat, adalah Sin-jiu Kiam-ong makin lama makin lemah dan pucat.
Kakek ini semakin sering terbatuk-batuk, dan kadang kala batuknya mengeluarkan darah. Kakek ini menderita luka di sebelah dalam tubuhnya akibat pertandingan melawan Bu-tek Sam-kwi dahulu dan sekarang karena terlampau rajin dan memaksa tenaga, dia menjadi berpenyakitan dan lemah.
Namun hal ini tidak mengurangi semangatnya. Dia terus melatih muridnya secara tekun dan teliti karena dia merasa yakin bahwa hal ini merupakan kewajiban terakhir di dalam hidupnya yang tidak berapa lama lagi itu.
...********************...
...
...
__ADS_1
Sang waktu lewat dengan sangat cepatnya. Memang tidak keliru apa bila dikatakan oleh penyair kuno bahwa kecepatan waktu melebihi kilat, akan tetapi lambatnya mengalahkan kelambatan seekor keong berjalan. Bila tidak diperhatikan setahun terasa seperti sehari, sebaliknya bila diperhatikan dan ditunggu, sehari terasa setahun! Demikian cepatnya sang waktu berputar sehingga tak tampak dan tak terasa lagi, seakan-akan berhenti, padahal segala sesuatu terseret kemudian hanyut dalam perputarannya, dilahap dan ditelan habis, untuk kemudian dilahirkan dan dilenyapkan lagi.
Tanpa terasa, apa lagi bagi yang mengalaminya sendiri, telah lima tahun lamanya Keng Hong hidup berdua dengan gurunya di puncak batu pedang. Dari seorang bocah berusia dua belas tahun, kini berusia tujuh belas tahun! Tubuhnya tinggi tegap, wajahnya tampan dengan kulit yang segar dan putih kemerahan membayangkan kesehatan sempurna dan kekuatan mukjijat tersembunyi di dalam tubuhnya. Pakaiannya model sederhana, hanya kain polos berwarna kuning yang kasar, dibuat secara kasar pula. Warna kuning adalah warna kesukaannya.
Akan tetapi, selama lima tahun itu, kalau muridnya menjadi makin sehat dan kuat, adalah si guru semakin lemah dan tua. Kalau orang yang lima tahun lalu bertemu dengan Sin-jiu Kiam-ong kini melihatnya, tentu akan menjadi kaget. Kakek ini sudah kelihatan tua sekali, tubuhnya kurus kering dan hanya sepasang matanya saja yang kadang-kadang tampak berseri penuh semangat, itu pun hanya kalau dia sedang melatih muridnya.
Pada hari itu, sinar matahari sudah menembus awan tipis menerangi permukaan puncak batu pedang. Seperti biasa, Keng Hong bersila dan berlatih, memusatkan panca indera agar bisa menerima sinar matahari pagi yang mengandung daya kekuatan mukjijat untuk meningkatkan tenaga sinkang di tubuhnya. Seperti biasa pula, gurunya duduk bersila tak jauh dari tempat dia duduk.
"Keng Hong....!"
Wajah gurunya tampak berbeda dari biasanya. Biar pun wajah itu masih membayangkan seri dan gembira, namun ada sesuatu yang menonjol, sesuatu pada wajah pucat dan kurus itu yang membuat jantungnya berdebar. Hari ini wajah gurunya bagaikan matahari tertutup awan tebal, suram-muram kehilangan cahayanya.
"Suhu memanggil teecu? Ada perintah apakah, Suhu?"
Sin-jiu Kiam-ong tersenyum sambil mengangkat lengannya yang kiri, gerakannya lemah ketika dia menggapai, "Mendekatlah, Keng Hong dan bersilalah di depanku sini, aku ingin bicara denganmu."
Keng Hong menjadi makin heran. Sikap gurunya ini pun tidak seperti biasanya. Tentu ada sesuatu yang amat penting. Ia cepat-cepat bangkit dan menghampiri suhu-nya, lalu duduk bersila di depan suhu-nya.
__ADS_1
Karena baru sekali ini selama lima tahun dia berdekatan dengan gurunya dalam keadaan tidak sedang berlatih, maka dia mendapat kesempatan untuk memandang dengan penuh perhatian. Kini nyatalah olehnya betapa suhu-nya amat kurus, tinggal kulit membungkus tulang dan bahwa hanya oleh daya tahan yang luar biasa saja suhu-nya dapat bertahan selama ini. Ia kini sudah mengerti bahwa suhu-nya menderita luka-luka parah di sebelah dalam tubuh, luka yang akan merenggut nyawa setiap orang dalam waktu beberapa bulan saja. Namun suhu-nya dapat bertahan sampai lima tahun!
"Keng Hong, tahukah engkau sudah berapa lama kau berada di tempat ini?"
"Teecu tidak terlalu memperhatikan, akan tetapi kalau melihat dari banyaknya perubahan musim, tentu kurang lebih lima tahun."
"Benar, memang sudah lima tahun, muridku. Dan sudah cukup banyak kau belajar dariku. Sayang waktunya amat tergesa-gesa hingga terpaksa aku hanya memperbanyak latihan ginkang dan Iweekang kepadamu. Mengenai gerak cepatmu dan tenaga dalam, kurasa sudah cukup sebagai landasan dan aku tidak khawatir kau akan mudah terkalahkan oleh orang lain. Akan tetapi ilmu silatmu.... ahh…, tidak ada waktu bagi kita sehingga hanya dasar-dasarnya saja kau kuasai. Padahal ilmu silat di dunia ini amatlah banyaknya Keng Hong. Dan selain dasar-dasar ilmu silat tinggi, engkau baru menguasai ilmu silat dengan tangan kosong yang sederhana dan juga ilmu pedang Siang-bhok Kiam-sut belum kau kuasai seluruhnya. Hal inilah yang memberatkan hatiku, karena apa bila engkau bertemu dengan orang-orang sakti seperti sembilan orang tokoh yang pada lima tahun yang lalu menyerbu ke sini, apa lagi bertemu dengan Bu-tek Su-kwi (Empat Iblis Tanpa Tanding), kepandaianmu masih belum dapat diandalkan."
Keng Hong mengerutkan alisnya yang hitam panjang dan tebal. "Akan tetapi, Suhu, apa hubungannya kesaktian mereka dengan teecu? Suhu sudah tahu pendirian teecu, yaitu hendak belajar ilmu kepada suhu untuk memperkuat diri lahir bathin, ilmu dipelajari untuk menjaga diri dari pada serangan dari luar, baik itu serangan lahir mau pun batin. Teecu tidak ingin mencari musuh!"
"Ha-ha-ha, muridku, engkau masih hijau dan tidak mengenal watak manusia, juga belum mengenal watak dan dirimu pribadi. Tidak ada makhluk seserakah manusia. Bila mana engkau sudah turun ke dunia ramai, akan kau temui semua sepak terjang manusia yang membabi buta karena dorongan nafsu mereka sendiri. Kau tidak mencari musuh, namun engkau akan dimusuhi! Dan mau tidak mau engkau akan terseret dan terlibat ke dalam rantai yang tak kunjung putus, rantai pergulatan dan permusuhan antara manusia demi untuk memenangkan dan memuaskan hawa nafsu yang menguasai diri pribadi. Aku pun dahulu menjadi seorang di antara mereka yang menjadi abdi nafsuku sendiri, Keng Hong. Aku tidak pernah memusuhi orang, juga tak pernah mengandung maksud hati melakukan kejahatan terhadap diri orang lain. Akan tetapi, pengejaran ke arah pemuasan nafsuku membuat aku bentrok dengan lain orang, dan membuat aku dicap sebagai seorang tokoh sesat. Baru sekarang aku menyesal, namun apa gunanya sesal yang terlambat? Biarlah, akan kutanggung segala akibat dan hukuman. Dan aku minta kepadamu supaya engkau pun kelak akan berani mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu! Jangan menjadi seorang manusia yang munafik, yang pura-pura alim. Kalau memang bersih, usahakan supaya bersih luar dalam. Kalau engkau tak kuasa menahan hasrat melakukan sesuatu, lakukanlah dengan dasar tidak merugikan orang lain dan berani bertanggung jawab atas segala akibat kelakuanmu itu. Hal ini berarti melakukan sesuatu dengan mata dan hati terbuka."
"Teecu mengerti, suhu."
"Nah, kuulangi lagi. Kepandaianmu masih jauh dari pada cukup untuk menghadapi lawan yang tangguh. Akan tetapi tiada waktu lagi bagiku." Ia menghela napas panjang. "Bu-tek Su-kwi benar-benar hebat. Sampai sekarang masih ada bekas tangan mereka. Rambut dan kuku Ang-bin Kwi-bo amat berbahaya, juga senjata tengkorak milik Pak-san Kwi-ong. Hudtim dan ilmu silat tangan kosong Pat-jiu Kiam-ong sukar dilawan pula. Apa lagi kalau kau bertemu dengan Lam-hai Sin-ni.... wah, sukar dikatakan atau diukur sampai di mana sekarang tingkat kepandaian wanita iblis itu! Kiranya engkau baru akan dapat menandingi mereka bila engkau sudah mempelajari semua kitab peninggalanku yang rahasia tempat persembunyiannya berada di dalam Siang-bhok-kiam ini, muridku."
Keng Hong memandang ke arah pedang di tangan suhu-nya itu dengan perasaan penuh heran. Mengertilah dia sekarang mengapa tokoh-tokoh sakti itu memperebutkan pedang kayu ini, kiranya merupakan kunci pembuka rahasia kitab-kitab pelajaran silat tinggi yang dahulu telah dikumpulkan oleh suhu-nya.
__ADS_1