Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 07 part 7


__ADS_3

"Sekarang kita semua sudah berkumpul dengan pikiran jernih. Pinto tahu bahwa pedang peninggalan Sin-jiu Kiam-ong ini telah menimbulkan banyak keributan yang biasanya aman tenteram dan tenang. Akan tetapi, keributan itu ditimbulkan oleh orang-orang luar yang hendak merampas pedang dan sudah seharusnya kalau kita mempertahankannya dan menghalau para penyerbu, hal itu tidaklah menyusahkan hati. Yang membuat pinto prihatin dan sekarang mengumpulkan kalian untuk berunding adalah karena pinto melihat adanya ketidak tenangan yang timbul di antara kita karena getaran bentrokan ketidak cocokan itu dan mencari jalan keluar dengan musyawarah. Keluarkan semua isi hati dan pendapat kalian untuk kita telaah dan pelajari."


Hening sejenak menyusul ucapan kakek ini yang dikeluarkan dengan suara halus, namun mengandung penuh teguran. Jelas terasa oleh mereka yang hadir bahwa suhu mereka ini merasa tidak senang dengan adanya pertentangan diam-diam di kalangan mereka sendiri.


Karena sekarang tiba saatnya dan mendapatkan kesempatan untuk mengeluarkan semua ketidak puasan hati, mereka pun mengambil keputusan hendak menekan Kiang Tojin. Di antara para adik seperguruan Kiang Tojin, hanya dua orang yang merasa iri hati dan diam-diam menentang kakak seperguruan ini, yaitu murid ke dua bernama Sian Ti Tojin, dan murid ke lima Lian Ci Tojin. Ada pun murid yang lainnya ada yang berpihak kepada Kiang Tojin, namun ada pula yang tidak mau mencampuri pertentangan pendapat antara saudara sendiri itu.


"Tepat sekali seperti yang dikatakan suhu tadi," berkata Sian Ti Tojin. "Setelah Siang-bhok-kiam berada di sini, kita menjadi tidak tenang lagi dan mendapatkan banyak musuh. Teecu anggap keliru sekali keputusan Twa-suheng untuk menahan pedang itu di sini. Pedang itu menjadi bahan perebutan orang-orang kang-ouw, kalau sekarang disimpan di sini tentu saja semua resikonya tertimpa ke pundak kita. Apakah keuntungannya bagi kita mencari permusuhan dengan sahabat-sahabat dari dunia kang-ouw? Sudah empat orang anak murid Kun-lun-pai mengorbankan jiwa, hanya untuk mempertahankan pedang kayu peninggalan Sin-jiu Kiam-ong!"

__ADS_1


"Benar sekali ucapan Ji-suheng," sambung Lian Ci Tojin cepat-cepat. "Menurut pendapat teecu, dahulu Twa-suheng mengambil keputusan menahan pedang itu pun hanya untuk melindungi Cia Keng Hong!"


Sunyi di ruangan itu sesudah Lian Ci Tojin mengucapkan kata-kata ini, dan hati mereka mulai menjadi tegang. Ucapan Sian Ti Tojin tadi hanya mengeluarkan pernyataan yang memang nyata terjadi, akan tetapi ucapan Lian Ci Tojin ini lebih condong kepada ucapan menuduh Kiang Tojin.


Dengan diucapkannya tuduhan tadi, Thian Seng Cinjin maklum akan gawatnya urusan ini. Maka, dengan pandang mata tajam dia berkata kepada muridnya yang ke lima itu dengan suara tetap halus,


"Lian Ci, tuduhan tanpa alasan kuat dan tanpa bukti dapat menjerumuskan kepada fitnah, dan engkau tentu mengerti betapa jahatnya fitnah. Bicaralah secara terus terang sesuai dengan sifat kejujuran dan keadilan yang kita junjung tinggi."

__ADS_1


Semua mata kini ditujukan kepada Kiang Tojin yang masih duduk bersila dengan sikap tenang. Juga Thian Seng Cinjin memandang kepadanya dengan sinar mata seakan-akan meminta jawaban. Kiang Tojin mendehem perlahan lalu berkata, suaranya halus namun lantang, tak menyembunyikan perasaan lain dari pada apa yang akan dikeluarkan melalui mulutnya.


"Semua ucapan Ji-sute dan Ngo-sute tiada yang keliru. Siang-bhok-kiam mendatangkan keributan, itu sudah jelas. Juga tuduhan Ngo-sute ada benarnya, memang sedikit banyak ada terkandung di hati teecu ketika menahan pedang bahwa hal itu akan menyelamatkan pula Keng Hong dari ancaman maut."


Pada saat Kiang Tojin berhenti sejenak, semua tosu memandangnya dengan hati tegang. Akan tetapi Kiang Tojin melanjutkan dengan sikap tetap tenang, "Akan tetapi sebenarnya bukan karena keselamatan Keng Hong semata maka teecu memutuskan untuk menahan pedang Siang-bhok-kiam di sini, melainkan terutama sekali untuk mengangkat tinggi nama besar dan kehormatan Kun-lun-pai."


"Harap Twa-suheng jelaskan alasannya!" Sian Ti Tojin mendesak.

__ADS_1


"Siang-bhok-kiam merupakan pedang peninggalan Sin-jiu Kiam-ong dan menjadi rebutan orang-orang kang-ouw. Sedangkan Sin-jiu Kiam-ong meninggal dunia pada waktu berada di Kiam-kok-san. Kita semua tahu bahwa Kiam-kok-san adalah sebuah tempat keramat bagi Kun-lun-pai, dan termasuk wilayah terdekat Kun-lun-pai. Kalau sampai pedang yang sekian lamanya berada di wilayah Kun-lun-pai itu terjatuh ke tangan orang lain, bukankah ini berarti bahwa Kun-lun-pai merupakan partai persilatan yang amat lemah, tidak mampu mempertahankan benda keramat yang menjadi haknya? Bukankah hal ini akan menjadi buah tutur di dunia kang-ouw dan Kun-lun-pai akan ditertawakan sampai tujuh keturunan? Harus teecu akui bahwa dengan adanya pedang Siang-bhok-kiam di sini, Kun-lun-pai diserbu orang-orang luar dan memang ada empat orang anak murid kita tewas. Akan tetapi apa artinya kematian kalau terjadi dalam membela Kun-lun-pai dari serbuan orang luar? Mati sebagai orang gagah perkasa adalah menjadi pegangan teecu sesuai yang diajarkan suhu selama ini bahwa jauh lebih baik mati sebagai orang gagah dari pada hidup sebagai seorang pengecut. Sekian penjelasan teecu dan selanjutnya tentu saja teecu serahkan kepada keputusan Suhu dalam hal Siang-bhok-kiam ini."


Kecuali dua orang tosu yang menentang, semua sute dari Kiang Tojin secara diam-diam mengakui kebenaran pendapat suheng mereka. Kalau saja Kiang Tojin tadi menyangkal bahwa dia melindungi Keng Hong, hal itu tentu akan tetap menjadi kecurigaan dan bahan tuduhan. Akan tetapi setelah dengan tenang Kiang Tojin mengakui hal itu, maka tuduhan ini menjadi hilang artinya, apa lagi setelah ada alasan lain yang demikian kuatnya.


__ADS_2