
Kini Cui Im dengan tenang saja mendoyongkan tubuh atasnya ke belakang dan sepasang tangannya segera menyambar dari bawah, sekaligus menangkis serangan lawan sambil mengerahkan tenaganya. Pertemuan dua pasang lengan itu membuat Siauw Lek berseru kaget karena dia merasa betapa kedua lengannya tergetar dan panas. Pada saat itu pula kaki Cui Im bergerak menendang ke bawah pusarnya.
"Aihhh..!" Siauw Lek yang tadinya memandang rendah, kaget bukan main.
Tendangan itu tidak keras akan tetapi kalau tidak cepat dia hindarkan, tentu dia akan mati karena yang ditendang adalah kelemahan setiap orang laki-laki. Sambil berteriak kaget Siauw Lek sudah meloncat ke belakang, terhindar dari tendangan dan tubuhnya sekarang sudah berada di atas dipan, menginjak tubuh suami ibu muda yang tadi sudah menjadi ‘mayat hidup’.
"Engkau hebat sekali...!" Dia memuji, lebih penasaran dari pada kagum. Memuji karena penasaran dan untuk menutupi rasa malunya. Masa dalam segebrakan saja dia hampir saja celaka di tangan wanita cantik ini?
"Hi-hi-hik, baru begitu saja hebat? Kau lihat dan jaga seranganku sekarang!"
Cui Im tertawa dan tiba-tiba tubuhnya berkelebat cepat sekali, meluncur ke depan seperti seekor burung walet menyambar, sambil meloncat ke depan ia sudah menyerang dengan dua tangan terbuka, melakukan totokan dengan sepuluh jari tangannya ke bagian-bagian tubuh lawan, mencari jalan darah yang mematikan!
"Hayaaa..!" Siauw Lek terkejut sekali karena bertubi-tubi dia diserang dan setiap serangan gadis itu adalah serangan yang kalau mengenai sasaran akan mendatangkan maut!
Dia cepat mengelak, berloncatan ke sana-sini di dalam kamar sempit itu. Tetapi bagaikan bayangan setan gadis itu terus mengejar sambil menghujankan serangan dengan totokan-totokan dan pukulan-pukulan yang amat aneh, yang belum pernah dilihat sebelumnya dan mengandung hawa sinkang amat kuat.
"Celaka...!" Tak terasa lagi seruan ini keluar dari mulut Siauw Lek.
Baru kini terbuka matanya, betapa salahnya tadi memandang rendah gadis ini. Kiranya gadis ini benar-benar mempunyai ilmu kepandaian yang amat hebat sehingga biar dalam ginkang mau pun sinkang, gadis ini melebihi dia sendiri!
Kini berubah pendiriannya dan sambil mengerahkan seluruh tenaga serta mengeluarkan seluruh kepandaian yang dia warisi dari Go-bi Chit-kwi, dia lantas melakukan perlawanan, membalas serangan dengan serangan maut pula, oleh karena dia maklum bahwa tanpa perlawanan mati-matian, nyawanya akan terancam bahaya maut!
__ADS_1
Kini dia tak memandang gadis cantik ini sebagai calon korban, sama sekali jauh dari pada itu, namun menganggapnya sebagai seorang musuh yang harus dikalahkannya, sebagai seorang lawan yang paling berat di antara semua lawan yang pernah ditandinginya!
Sesudah laki-laki itu mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian yang di warisinya dari Go-bi Chit-kwi, memang dia amat hebat dan barulah dia dapat mengimbangi kedahsyatan gerakan Cui Im. Diam-diam Cui Im menjadi makin kagum dan girang.
Laki-laki ini benar-benar boleh dijadikan pembantu. Ilmu kepandaiannya hebat, agaknya akan dapat menandingi Bu-tek Su-kwi dan tidak akan kalah menghadapi Cia Keng Hong, kalau bocah itu masih hidup, pikirnya sambil tersenyum.
Menyaksikan gadis yang dilawannya mati-matian itu masih bisa tersenyum-senyum, leher Siauw Lek mulai berkeringat. Ia telah mati-matian, sampai napasnya terengah-engah dan kepalanya pening, tetapi gadis itu masih enak-enak saja tersenyum-senyum. Benar-benar mengerikan sekali!
"Robohlah...!" Tiba-tiba Siauw Lek membentak.
Dan dia langsung menyerang dengan jurus pukulannya yang paling ampuh, yaitu dengan mendorongkan kedua tepak tangan ke depan. Pukulan ini mengandung dorongan tenaga sinkang yang amat kuat, cukup untuk merobohkan lawan dari jarak jauh, apa lagi kini dia menyerang dari jarak dekat. Dapat dibayangkan betapa hebat kekuatan dorongannya itu.
Tetapi Cui Im terkekeh mengejek, tubuhnya mencelat mumbul ke atas, dari atas menukik ke bawah, kedua tangannya bergerak memukul ke bawah, yang kiri menimpa dua lengan lawan yang bagian atas dan yang kanan sudah menampar pundak Siauw Lek.
Tanpa dapat dipertahankannya lagi, tubuh Siauw Lek langsung tergelimpang dan dia pun roboh menimpa tubuh ibu muda yang hendak dipaksanya melayani hasrat nafsu birahinya tadi!
"Hi-hi-hik, kepandaianmu lumayan juga, orang she Siauw!" Cui Im berkata, bukan dengan nada mengejek, melainkan dengan ketulusannya hati.
Siauw Lek mengoyang-goyang kepalanya yang terasa pening, kemudian bangkit berdiri dan memandang Cui Im dengan mata terbelalak, hampir tidak dapat percaya. Seorang gadis begitu cantik dan muda, mempunyai kepandaian yang sedemikian hebatnya? Ahhh, mimpi pun tak pernah dia akan dikalahkan oleh seorang gadis jelita.
Tiba-tiba terdengar suara jerit melengking dan disusul tangis. Kiranya ketika dijatuhi tubuh Siauw Lek tadi, ibu muda teringat akan suami dan anaknya. Dia menjerit dan menangis, memeluk mayat anaknya.
__ADS_1
Siauw Lek menjadi amat gemas. Ia memang sudah merasa penasaran dan marah karena kekalahkannya dan tidak menemukan sasaran untuk melampiaskan kemarahannya, kini hendak dia tumpahkan kepada ibu muda itu. Ia mengangkat tangan hendak menampar kepala yang tadinya ingin dia dekap dan ciumi, untuk membunuh wanita itu.
"Eiiit! Mengapa tergesa-gesa? Apakah engkau sudah mengaku kalah?" Cui Im mencegah dengan suara mencela.
Siauw Lek tak jadi memukul, menoleh ke arah Cui Im sambil meraba gagang pedangnya. "Nona, boleh jadi dalam hal ilmu silat tangan kosong aku sudah kalah olehmu, akan tetapi selama Hek-liong-kiam masih ada padaku, aku belum mengaku kalah!"
"Bagus, aku ingin pula menyaksikan ilmu pedangmu, boleh ditambah senjata rahasiamu, bukankah kau amat mahir mempergunakan Hek-tok-ting?" kata pula Cui Im dengan sikap memandang rendah.
Hati Siauw Lek makin penasaran dan sekali bergerak, tangan kanannya sudah mencabut pedangnya yang bersinar hitam dan tangan kirinya sudah merogoh keluar belasan buah senjata rahasia berbentuk paku-paku hitam.
"Nona, bersiaplah menghadapi senjata-senjataku!"
Cui Im tersenyum, tangan kanannya bergerak ke belakang dan tiba-tiba pandang mata Siauw Lek silau oleh sinar merah ketika pedang wanita itu tercabut keluar dan dia melihat tangan kiri wanita sakti ini juga telah menggenggam senjata rahasianya, yaitu jarum-jarum merah yang amat halus. Melihat pedang merah ini, Siauw Lek mengerutkan alisnya.
"Ang-kiam (Pedang Merah)...! Rasanya pernah aku mendengar tentang pedang merah..., pernah disebut-sebut di dunia kang-ouw... Ah, benar! Bukankah engkau adalah Ang-kiam Tok-sian-li, murid Lam-hai Sin-ni?"
Lam-Hai Sin-ni adalah musuh besar mendiang guru-gurunya, maka bukan hal aneh kalau murid Lam-hai Sin-ni memusuhinya. Tentu itu sebabnya kenapa wanita ini memusuhinya dan kalau memang karena permusuhan itu, dia harus dapat membunuh wanita ini!
Akan tetapi Cui Im mengeleng-geleng kepala dan senyumnya melebar. "Dahulu memang benar demikian, akan tetapi sekarang julukanku adalah Ang-kiam Bu-tek ada pun Lam-hai Sin-ni bukan guruku lagi karena tingkatku jauh lebih tinggi dari pada tingkatnya. Tak perlu bicara tentang aku sebelum engkau dapat lulus dari ujianku. Nah, gerakkanlah senjatamu, Siauw Lek!"
Ucapan Cui Im itu amat sombong dan takabur, akan tetapi juga mengejutkan hati Siauw Lek di samping menggemaskan karena sikap nona itu benar-benar seperti menganggap dia seorang anak kecil saja!
__ADS_1
Sambil mengeluarkan bentakan keras dia menerjang maju. Pedangnya berubah menjadi sinar hitam yang mengeluarkan bunyi berdesing ketika meluncur dan menyambar ke arah tubuh Cui Im. Namun wanita ini dengan gerakan seenaknya mengangkat pedangnya, lalu memutarnya. Tampaklah sinar bagaikan payung yang menangkis sinar hitam itu sehingga tampak bunga-bunga api diiringi suara berdencing nyaring, lantas sinar hitam terpental ke belakang...