
"Aku hendak bertanya jalan yang menuju ke Kiam-kok-san.."
Kini Keng Hong yang merasa terkejut sekali. Akan tetapi hanya sebentar saja karena dia segera bisa menekan perasaannya dengan pengertian bahwa sekarang ini Kiam-kok-san agaknya menjadi mercu suar bagi orang-orang kang-ouw, menjadi seperti sebuah lampu yang menarik datangnya laron dan kupu-kupu.
Ia menarik napas panjang, kemudian mencari jalan untuk mengetahui siapakah gerangan nona muda ini yang juga ikut-ikutan memperebutkan pusaka Kiam-kok-san. Karena hanya orang yang ingin memperoleh pusaka-pusaka milik suhu-nya sajalah yang bertanya-tanya tentang Kiam-kok-san!
"Pertanyaanmu sangat mengejutkan hati, Nona. Kiam-kok-san bukan sebuah tempat yang dikenal oleh semua orang. Bolehkah aku mengetahui namamu dan keperluannya mencari tempat seperti itu? Perkenalkan, aku she Cia..."
"Harap engkau suka berbaik hati menunjukkan jalan itu kalau kau mengetahuinya ..ehhh, Cia-twako. Namaku ialah Tan Hun Bwee dan tentang keperluanku dengan Kiam-kok-san adalah urusan pribadiku. Apa bila engkau mengetahui tempat itu dan dapat menunjukkan jalan untukku, aku akan berterima kasih sekali. Kalau engkau tidak mengetahui, biarlah aku pergi mencari sendiri, tidak perlu terlalu lama di sini.."
Keng Hong tersenyum. "Aku sudah tahu mengapa Nona datang mencari Kiam-kok-san. Bukankah Nona puteri Ketua Hek-houw Piawkiok bernama Tan Kai Sek?"
Nona itu terkejut sekali, kemudian tangannya bergerak secara otomatis hendak meraba pedangnya sambil bertanya dengan suara nyaring, "Engkau siapakah?" Apakah engkau murid Kun-lun-pai dan hendak menghalangi aku mencari Kiam-kok-san?"
Keng Hong tersenyum, lalu membalikkan tubuhnya membelakangi nona itu, menghampiri pohon dan duduk kembali di bawah pohon yang teduh. Setelah duduk menghadapi nona itu dia berkata, "Tenanglah, Nona dan tidak perlu mencabut pedang itu. Aku bukan murid Kun-lun-pai dan juga tidak akan menghalangi orang. Marilah duduk di sini dan dengarlah dulu kata-kataku, baru kutunjukkan padamu jalan ke Kiam-kok-san."
__ADS_1
Tan Hun Bwee, gadis itu, menjadi curiga, namun karena dia percaya akan kepandaiannya sendiri, dia tidak merasa takut dan menghampiri lalu duduk agak jauh di atas sebuah batu, menghadapi pemuda yang ia dapat menduga tentu bukan orang sembarangan itu. Orang yang tahu akan adanya Kiam-kok-san kiranya bukan sembarangan orang.
"Siapakah engkau dan bagaimana engkau dapat mengenal ayahku?"
"Sudah kukatakan tadi bahwa aku she Cia dan tentang ayahmu, pernah aku bertemu dan berkenalan. Aku tahu bahwa ayah beserta ibumu pernah mendatangi Kiam-kok-san untuk memusuhi Sin-jiu Kiam-ong, akan tetapi gagal karena dikalahkan oleh kakek itu. Apakah kedatangan Nona ini ada hubungannya dengan urusan itu?"
Kembali gadis itu terkejut dan terheran-heran. Bagaimana pemuda tampan dan halus tutur sapanya ini mengetahui akan hal itu? Ia tak suka urusan pribadi orang tuanya dibicarakan orang lain, maka dia pun menjawab singkat, "Dendam besar antara keluarga kami dengan Sin-jiu Kiam-ong adalah urusan pribadi, tidak perlu aku membicarakannya dengan orang lain. Apa bila engkau mengetahui jalan ke Kiam-kok-san dan suka menunjukkannya kepadaku, harap katakan sekarang juga."
"Nanti dulu, Nona. Kenapa Nona berkeras hendak mendatangi Kiam-kok-san? Kakek yang berjuluk Sin-jiu Kiam-ong itu sudah meninggal dunia, dengan demikian maka urusan yang ada antara beliau dan orang tua Nona sudah terhapus..."
"Ah, terlalu keras engkau menjatuhkan keputusan, Nona. Aku pun telah mengetahui akan urusan antara Sin-jiu Kiam-ong dan orang tuamu. Bukankah dahulu orang tuamu sebagai piauwsu dari Hek-houw Piauwkiok pernah dirampok oleh kakek itu yang lalu merampas benda-benda perhiasaan milik seorang pembesar tinggi?"
"Bukan itu saja! Bahkan dia berani mengganggu puteri dari menteri..."
"Hemmm, bukan mengganggu, karena keduanya sama suka. Puteri itu tadinya ditawan dengan maksud dimintakan uang tebusan dan Sin-jiu Kiam-ong melakukan hal ini sebagai pelajaran oleh karena sang menteri adalah seorang pejabat tinggi yang di samping korup juga menindas rakyat mengandalkan kekuasaan. Akan tetapi puteri itu jatuh cinta kepada Sin-jiu Kiam-ong sehingga terjadilah hubungan cinta kasih antara mereka. Urusan itu ada sangkut pautnya dengan orang tuamu?"
__ADS_1
"Piauwkiok ayahku menjadi tercemar namanya, dan menyeret pula nama besar ayahku. Pendeknya, aku tidak terima! Biar pun Sin-jiu Kiam-ong telah menginggal, tapi dia masih berhutang kepada ayahku, dan aku harus mendapatkan kembali harta pusaka yang dia rampok karena itu menjadi hakku, di samping pusaka lainnya yang ditinggalkannya. Aku akan menggeledah Kiam-kok-san!"
Keng Hong tersenyum lebar. "Nona, berpikirlah masak-masak. Dendam digerakkan oleh benci, dan siapa yang membenci orang lain berarti membenci diri sendiri. Sin-jiu Kiam-ong telah meninggal dunia, kenapa engkau masih menaruh dendam? Padahal, engkau sendiri tidak mempunyai urusan dengan dia, bahkan mengenal pun tidak. Apa perlunya dendam dibawa hingga menurun dari ayahmu kepadamu? Menurutkan dendam sama saja engkau mengikatkan dirimu dengan tali temali karma yang sangat ruwet, Nona. Bukankah dengan begitu engkau hanya akan menyia-nyiakan waktu hidupmu? Perlukah engkau memenuhi permintaan orang tuamu yang begitu tega menyuruh seorang gadis muda seperti Nona menempuh bahaya besar, hendak mendatangi Kiam-kok-san yang tidak dapat didatangi oleh orang-orang sakti di dunia kang-ouw? Orang tuamu benar-benar berpemandangan picik...”
"Ayah ibuku telah meninggal dunia..!"
"Ahh, maaf... aku tidak tahu..."
"Mereka telah meninggal dunia, meninggalkan aku seorang diri. Mereka meninggal karena tekanan batin, karena tidak mampu membalas kepada musuh besar kami. Aku sebagai puterinya harus melanjutkannya, harus dapat merampas kembali benda-benda berharga yang dahulu dirampas oleh Sin-jiu Kiam-ong. Aku akan… ehh, engkau ini siapakah yang tahu akan segala hal?"
"Tentu saja aku tahu, mendiang Sin-jiu Kiam-ong adalah guruku.."
"Bagus..! Ada yang mewakili untuk menerima pembalasan keluarga Tan...!"
Sambil berkata demikian, gadis itu telah meloncat ke belakang dan mencabut pedangnya. Gerakannya cepat sekali maka Keng Hong dapat menduga bahwa tentu gadis itu sudah mewarisi ilmu kepandaian ayah bundanya. Ia diam saja, hanya duduk sambil memandang gadis itu dengan wajah tenang.
__ADS_1
"Hayo bangkitlah engkau murid Sin-jiu Kiam-ong! Bangkitlah supaya segala perhitungan lama dapat dibereskan saat ini!" Gadis itu menodongkan ujung pedangnya ke arah hidung Keng Hong yang masih duduk tenang tak bergerak dari tempatnya.