Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 12 part 10


__ADS_3

Keng Hong mendengar sambaran angin pukulan yang sangat hebat ini dan dia memang sudah siap mengadu nyawa dengan orang-orang yang memusuhinya, sudah marah dan nekat sekali, juga sudah mengambil keputusan untuk tidak menyerah sampai mati. Maka cepat dia membalik badan sambil merendahkan tubuh menekuk kedua lutut, sedangkan kedua lengannya bergerak ke atas untuk menangkis.


Kekuatan sinkang yang dia kerahkan hebat bukan main dan dia dalam keadaan marah, maka otomatis daya sedot sinkang-nya bekerja amat kuatnya sehingga begitu tangan Kok Seng Cu, Kok Liong Cu dan Kok Kim Cu tertangkis, tangan tiga orang yang mengandung tenaga pukulan Ang-liong Jiauw-kang itu menempel di kedua lengan pemuda itu dengan kuatnya.


Tenaga Ang-liong Jiauw-kang merupakan tenaga yang timbul akibat pengerahan sinkang dan memang amat hebat hingga dengan jari-jari tangan mereka yang membentuk cakar, kakek-kakek dari Kong-thong-pai ini sanggup meremas hancur senjata tajam lawan! Maka yang kini mengalir bagaikan banjir memasuki tubuh Keng Hong melalui kedua lengannya adalah tenaga sinkang yang amat dahsyat sampai napasnya hampir berhenti. Keng Hong megap-megap dan merasa betapa tenaga yang kuat dan hawa panas sekali memasuki tubuhnya, berputaran di sekitar pusarnya.


"Celaka... Twa suheng... tolong...!" Kok Kim Cu berteriak kaget.


Melihat betapa tiga orang sute-nya terbelalak dan terengah-engah mencoba melepaskan tangan mereka yang mencengkeram lengan pemuda itu, Kok Sian Cu pun maklum akan keadaan tiga orang sute-nya.


"Terkutuk! Ilmu iblis...!" teriaknya dan tongkatnya segera bergerak menotok kedua siku lengan Keng Hong.

__ADS_1


Pemuda ini sedang dalam keadaan setengah kejang dan kaku, tak dapat bergerak karena derasnya hawa sinkang yang memasuki tubuhnya, karena itu biar pun dia maklum akan datangnya totokan, dia tidak mampu mengelak.


Betapa pun kuatnya sebagai orang pertama Ngo-lojin, andai kata Kok Sian Cu menyerang Keng Hong dengan tangan kosong, tentu begitu pukulannya mengenai tubuh pemuda itu, sinkang-nya akan tersedot pula. Namun kakek ini sangat lihai dan maklum akan hal itu, maka dia lalu menggunakan ujung bambu untuk menotok dan begitu mengenai sasaran, dengan gerakan ‘sendal pancing’ dia cepat menarik kembali tongkatnya.


Keng Hong merasa betapa kedua tangannya lumpuh dan tiga buah tangan kakek yang tadi mencengkeramnya dapat terlepas, maka dia lalu membalikkan tubuh dan berlari lagi. Ia megap-megap dan dadanya makin sakit, akan tetapi larinya tidak lumrah manusia lagi, seolah-olah terbang saja dan kedua kakinya seperti tidak menyentuh bumi. Hal ini adalah karena tenaga sinkang dari tiga orang kakek pemilik ilmu pukulan Ang-liong Jiauw-kang yang telah tersedot oleh tubuhnya tadi kuat bukan main hingga tubuh Keng Hong penuh dengan tenaga sinkang yang berlebihan.


Seperti sebuah balon karet terlalu banyak angin, tubuhnya ringan dan setiap kali meloncat ke depan, dapat mencapai jarak yang lima enam kali lebih jauh dari pada kemampuannya yang biasanya. Sudah beberapa kali Keng Hong mengalami keadaan terlalu penuh hawa sinkang seperti ini. Tiap kali dia bingung bagaimana harus membuang tenaga berlebihan itu.


Empat orang kakek Kong-thong-pai melongo pada waktu menyaksikan betapa pemuda itu berkelebat cepat laksana halilintar menyambar dan sebentar saja telah sampai di sebuah puncak! Hampir mereka tak dapat percaya akan pandangan mata sendiri, dan karena tiga orang di antara mereka sudah menjadi agak lemah akibat sebagian besar sinkang mereka tersedot lenyap, terpaksa dengan hati penasaran mereka melanjutkan pengejaran secara perlahan-lahan sehingga tersusul oleh tokoh-tokoh lain.


Akan tetapi ketika para tokoh itu tiba di kaki batu pedang di Kiam-kok-san, mereka melihat tubuh Keng Hong dengan susah payah telah mendaki sampai setengah dari batu pedang yang tampak dari bawah. Jelas tampak betapa pemuda itu sudah terluka dan terengah-engah, akan tetapi dengan nekat pemuda itu merangkak terus ke atas.

__ADS_1


"Kejar...!" Seru Coa Kiu tokoh Hoa-san-pai sambil menggerakkan pedangnya.


Akan tetapi Kiang Tojin yang sudah tiba di situ bersama anak murid Kun-lun-pai, sudah cepat menghadang di depan batu pedang sambil berkata,


"Maaf, cu-wi sekalian! Kiam-kok-san merupakan sebuah tempat keramat bagi Kun-lun-pai. Sedangkan kami sendiri tidak ada yang boleh naik ke puncaknya, bagaimana kami dapat memperbolehkan orang lain naik? Pinto harap cu-wi sekalian maklum, dan kami percaya bahwa di tempat wilayah kekuasaan cu-wi masing-masing juga terdapat tempat keramat seperti Kiam-kok-san bagi kami."


"Ah, tapi hal ini lain lagi, Toyu." Bantah Kok Sian Cu. "Harus pinto akui kebenaran ucapan Kiang-toyu bahwa di tempat kami pun ada tempat keramat yang tidak boleh dilanggar lain orang. Kami pun tentu saja memandang muka para pimpinan Kun-lun-pai, sekali-kali tak berani melanggar tempat keramat Kun-lun-pai, akan tetapi sekali ini kami semua sama sekali bukanlah hendak melanggar. Kami hanya ingin mengejar lantas menangkap bocah yang naik ke Kiam-kok-san itu. Walau pun merupakan tempat larangan, akan tetapi kalau ada alasan yang kuat dan bukan semata-mata sengaja ingin melanggar, kami kira sudah sepatutnya kalau Toyu membiarkan kami mengejar dan menangkap bocah itu."


"Omitohud..., benar sekali apa yang diucapkan sahabat Kok Sian Cu. Pinceng tentu saja pantang untuk melanggar tempat keramat Kun-lun-pai, akan tetapi mungkin sekali kedua kitab pusaka Siauw-lim berada di puncak Kiam Kok-san ini, apakah Kiang-toyu hendak mengukuhi larangan ini dan tidak hendak mengembalikan kitab kami?"


Selagi Kiang Tojin bingung akibat merasa terdesak oleh omongan-omongan yang memiliki dasar kuat itu, tiba-tiba saja terdengar suara ketawa bergelak dan tahu-tahu di situ telah muncul tiga orang yang mengejutkan hati mereka karena tiga orang ini bukan lain adalah Ang-bin Kwi-bo, Pak-san Kwi-ong dan Pat-jiu Sian-ong, tiga orang di antara empat orang Bu-tek Su-kwi yang dahulu, lima tahun yang lalu juga telah datang di tempat itu membuat kocar-kacir para tokoh sakti dan hampir saja membunuh para tokoh itu bila tidak ditolong oleh Sin-jiu Kiam-ong!

__ADS_1


__ADS_2