Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 14 part 8


__ADS_3

Ucapan Keng Hong ini membuat wajah para tosu anak murid Kun-lun-pai menjadi pucat. Sian Ti Tojin menggerakkan kepala ke belakang dan matanya menyinarkan kemarahan yang tak ditutupinya lagi.


"Bocah lancang mulut! Apa maksudmu?"


Keng Hong tersenyum ketika melihat ke arah Lian Ci Tojin. Melihat muka tosu ini pucat dan telah meraba gagang pedang di punggungnya, dia lalu berkata, "Aku tidak bermaksud mencampuri urusan Kun-lun-pai. Aku tidak peduli apakah Kiang Tojin kalian hukum atau kalian apakan juga, asal saja memang sudah semestinya demikian dan tidak ada yang melanggar kebenaran atau pun keadilan. Aku datang hanya untuk bertemu dengan Kiang Tojin."


"Bocah sinting, minggat kau dari sini!" bentak Lian Ci Tojin sambil menyerang.


Pedangnya ditusukkan ke arah dada Keng Hong dengan gerakan cepat dan kuat sekali. Dia tidak takut menghadapi Keng Hong karena selama lima tahun ini dia dan terutama suheng-nya sudah menggembleng diri supaya kuat mempertahankan kedudukan mereka sebagai ketua dan wakil ketua Kun-lun-pai.


"Hemmm, gerakanmu cukup baik, akan tetapi kurang isi karena kau kotori dengan watak dengki, kejam dan penuh kebencian, Lian Ci Tojin," Keng Hong berkata sambil mengelak dengan sangat mudahnya. Dia tidak banyak bergerak, hanya miringkan tubuh saja tanpa mengubah kedudukan kedua kakinya.


Melihat betapa tusukannya hanya lewat saja di dekat dada Keng Hong, Lian Ci Tojin lalu membalikkan pergelangan tangannya hingga pedang itu kini membabat turun memenggal atau membacok ke arah pinggang.


"Plakkk!"

__ADS_1


Keng Hong melangkah mundur dan mengangkat kakinya, menampar pedang itu dari arah samping dengan tendangan kakinya. Kelihatannya perlahan saja dia menendang, namun pedang itu hampir terlepas dari pegangan Lian Ci Tojin yang ikut terpental hingga terputar setengah lingkaran. Ketika dia memandang, Keng Hong sudah meloncat jauh melampaui kepala para tosu.


"Kejar dia! Jangan perbolehkan dia masuk!" Bentak Sian Ti Tojin yang sudah melompat pula dengan gerakan cepat sekali, seperti melayang melampaui kepala anak buahnya.


Tapi dia tercelik karena Keng Hong tidak terus meloncat ke dalam, melainkan menyambar balok atap dan mengayun tubuhnya mencelat ke atas genteng.


"Ha-ha-ha, Sian Ti Tojin, engkau sudah pucat ketakutan, khawatir rahasiamu terbuka, ya. Ha-ha-ha, betapa memalukan rahasia ini. Engkau merampas kedudukan ketua dari tangan suheng-mu sendiri, sama sekali bukan mengandalkan kepandaianmu, sama sekali bukan karena engkau lebih lihai dari pada Kiang Tojin, melainkan karena engkau sudah dibantu oleh seorang tokoh kaum sesat, dibantu oleh Ang-kiam Tok Sian-li Bhe Cui Im yang dulu menjadi murid Lam-hai Sin-ni dan yang kini memakai julukan Ang-kiam Bu-tek. Ehh, Lian Ci Tojin, bukankah kini engkau telah menjadi sahabat baiknya? Dia manis sekali, bukan? Apakah engkau suka mencium tahi lalat merah di tubuhnya? Ha-ha-ha!"


Entah bagaimana, dalam kemarahannya ini Keng Hong tidak menyadari bahwa dia telah bersikap gembira dan nakal, tidak menyadari bahwa kini dia telah bersikap persis seperti sikap Sin-jia Kiam-ong di waktu muda.


"Binatang kurang ajar!"


Dalam kemarahannya akibat terdorong rasa malu, Lian Ci Tojin membuat gerakan dengan kedua kakinya, memutar tubuh dan kedua lengan kemudian secara tiba-tiba sekali tangan kanannya sudah melontarkan pedangnya yang meluncur seperti anak panah, lebih cepat lagi malah, menuju ke perut Keng Hong. Pedang itu berubah menjadi sinar terang saking lajunya, dan mengeluarkan suara berdesing.


Sesudah Keng Hong mempelajari kitab Thai-kek Sin-kun peninggalan Thai Kek Couwsu yang merupakan inti sari ilmu silat Kun-lun-pai, dia dapat mengenal gerakan itu. Maka dia cepat melompat ke samping sambil tangannya menyambar pedang itu dengan kedua jari telunjuk dan jari tengah, mengepitnya, kemudian meloncat turun kembali.

__ADS_1


Enam orang murid Thian Seng Cinjin merasa terkejut lantas melongo. Yang diperlihatkan Keng Hong dalam menyambut pedang yang disambitkan tadi adalah jurus Yan-cu Phok-li (Burung Walet Menyambar Ikan), jurus yang khusus dalam ilmu silat Kun-lun-pai untuk menghadapi serangan yang khusus pula, yaitu penyambitan pedang yang disebut jurus terakhir Sin-lion Hian-bwe (Naga Sakti Mengulur Buntut).


"Hemm, Lian Ci Tojin, betapa pun kejam dan ganas hatimu, tapi jurus Sin-liong Hian-bwe ini masih jauh dari pada sempurna. Melontar pedang menuju sasaran barulah tepat kalau pencurahan perhatian memusat hanya pada satu titik, akan tetapi pikiranmu telah banyak bercabang, di antaranya bercabang pada kedudukan, pada kemewahan, dan terutama sekali bercabang kepada kulit kuning wajah cantik! Kau lihatlah baik-baik dan baru tahu bahwa sesungguhnya Sin-liong Hian-bwe dari Kun-lun-pai amatlah lihainya!"


Keng Hong yang berada di atas genteng itu menggerakkan kedua kakinya dan tubuhnya berputar seperti yang dilakukan oleh Lian Ci Tojin tadi, kemudian dia melontarkan pedang yang ditangkapnya tadi ke arah Lian Ci Tojin.


Pedang itu segera meluncur bagaikan kilat menyambar, tanpa mengeluarkan bunyi, akan tetapi justru tak berbunyi inilah yang amat lihai. Dapat menyambitkan pedang sedemikian cepatnya tanpa pedang itu mengeluarkan bunyi, benar-benar merupakan kemahiran dan tingkat yang terlalu tinggi bagi para murid Thian Seng Cinjin.


Lian Ci Tojin kaget bukan main. "Celaka...!" serunya.


Dia cepat menggunakan gerakan Yan-cu Phok-hi untuk menghindarkan diri. Ia meloncat, membalik kemudian tangannya bergerak, bukan untuk menjepit pedang karena kecepatan pedang itu membuat tosu ini jeri untuk menjepitnya dengan dua jari tangan, maka sebagai gantinya dia lantas mengebut pedang itu dengan lengan bajunya. Akan tetapi pedang itu menyambar terlalu cepat dan ketika dia kebut dengan ujung lengan baju, masih meluncur terus bahkan ujung lengan bajunya yang buntung.


"Aihhhhh...!"


Lian Ci Tojin menjadi pucat melihat pedang itu tadi sudah menyambar dan membabat putus segumpal rambutnya dan kini rambut segumpal bersama kain dengan lengan baju sepotong yang tadi terbabat dan menyangkut pada gagang pedang, tampak di atas tanah, tertikam pedang yang amblas sampai ke gagangnya ke dalam tanah!

__ADS_1


__ADS_2