Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 07 part 10


__ADS_3

Sebelum Kiang Tojin dapat menjawab, terdengar teriakan keras dan tampaklah bayangan orang berlari cepat sekali dari selatan. Orang ini pun berpakaian seperti perwira, tubuhnya tinggi besar akan tetapi larinya cepat dan tubuhnya kelihatan ringan sekali, membuktikan bahwa perwira selatan ini pun mempunyai kepandaian yang tak boleh dipandang ringan. Begitu sampai di sebelah selatan batu tinggi itu, perwira ini menggerak-gerakkan kedua tangannya dan berkata, suaranya seperti geledek menggelegar.


"Harap para tosu Kun-lun-pai jangan sampai terkena bujuk rayu oleh mulut para pemberontak hina dina! Kami sangat percaya bahwa Kun-lun-pai tidak pernah berjiwa pemberontak! Kitab Thai-yang Tin-keng adalah milik kaisar kami, maka sudah semestinya dikembalikan kepada kami!"


"Manusia sombong! Kami bukan pemberontak, melainkan pejuang yang memperjuangkan kebenaran dan keadilan, pembela kepentingan rakyat! Raja kalian yang merupakan raja lalim, penyerobot mahkota, orang muda yang tidak tahu menghormat orang tua!" Perwira utara yang bernama Han Tek Thai itu membentak dengan marah yang amat sangat.


"Kau adalah pemberontak laknat! Sudah jelas memberontak terhadap pemerintahan yang syah, kau masih banyak cakap lagi?" bentak perwira tinggi besar ini dari selatan sambil menerjang maju.


Tanpa dapat dicegah lagi oleh dua orang perwira itu sudah maju menerjang sehingga terjadilah saling serang. Pada gebrakan pertama, dengan marah kedua perwira mengirim pukulan dengan tangan hingga terdengar suara keras. Keduanya terhuyung ke belakang dan baju besi perisai di depan dada mereka ternyata sudah retak-retak! Akan tetapi tubuh mereka rupanya cukup kebal dan sangat kuat sehingga tidak mengalami luka hebat. Sekarang mereka mencabut pedang masing-masing dan siap untuk bertanding lagi, sedangkan pasukan kedua belah pihak juga sudah berlari-lari untuk saling terjang.


Dua bayangan yang gesit sekali melayang turun dari atas batu. Mereka ini adalah Sian Ti Tojin dan Lian Ci Tojin. Laksana burung garuda yang besar mereka melayang turun, Sian Ti Tojin menghadapi perwira utara ada pun sute-nya menghadapi perwira selatan. Begitu kedua orang tosu ini menggerakkan tangan mereka, pedang kedua orang perwira itu telah dapat mereka rampas sehingga dua orang perwira itu menjadi kaget dan melongo karena sesuatu yang terjadi pada mereka.


"Ji-wi Ciangkun adalah tamu-tamu, mengapa tidak mengindahkan kedaulatan tuan rumah dan hendak membikin kacau Kun-lun-pai?" Kiang Tojin dari atas batu berseru menegur.

__ADS_1


Han Tek Thai menjura dan berkata, "Maafkan kami yang terburu nafsu..."


"Apa? Kun-lun-pai hendak membela kaum pemberontak?" bentak perwira tinggi besar dari selatan.


Menyaksikan sikap kedua orang perwira yang saling bermusuhan ini, Thian Seng Cinjin menghela napas dan mengelus-elus jenggotnya. "Siancai..., kehendak Tuhan terjadilah...! Kembalikan pedang mereka!"


Lian Ci Tojin dan Sian Ti Tojin mengembalikan pedang mereka lalu melangkah mundur, namun masih bersiap-siap untuk bergerak apa bila tamu-tamu yang tidak dikehendaki ini membikin kacau lagi.


"Ji-wi Ciangkun dari utara dan selatan, dengarkan baik-baik omongan pinto! Pinto Thian Seng Cinjin ketua Kun-lun-pai selama hidup tak suka berbohong dan apa yang akan pinto katakan ini hendaknya ji-wi sampaikan kepada junjungan ji-wi masing-masing!"


Dengan gerakan sangat tenang Thian Seng Cinjin mengeluarkan sebatang pedang kayu dari balik jubahnya dan mengangkat pedang itu tinggi di atas kepala sambil berkata,


"Hendaknya Ji-wi Ciangkun ketahui bahwa kami pihak Kun-lun-pai sama sekali tidak tahu akan pusaka-pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong, juga tidak tahu-menahu tentang kitab Thai-yang Tin-keng itu! Satu-satunya benda peninggalan Sin-jiu Kiam-ong yang ada pada kami hanyalah pedang Siang-bhok-kiam ini karena kami pun tidak menghendaki pusaka-pusaka yang lainnya. Pedang ini sudah ada di wilayah Kun-lun-pai selama puluhan tahun dan setelah berada di tangan kami, tak akan kami serahkan kepada siapa pun juga. Nah, kiranya sudah jelas keterangan kami, harap Ji-wi Ciangkun sekarang membawa pulang pasukan masing-masing karena kami melarang pasukan Ji-wi bertempur di wilayah kami. Apa bila larangan yang menjadi hak Kun-lun-pai ini dilanggar, maka terpaksa kami turun tangan tanpa memandang bulu, tanpa memihak siapa pun juga!"

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara ketawa seperti kaleng dipukul disusul suara keras, "Ha-ha-ha! Tosu tua bangka, berikan Siang-bhok-kiam kepadaku!"


"Tidak, aku lebih berhak!"


"Berikan kepadaku!"


"Padaku!"


Semua tosu Kun-lun-pai terkejut dan kiranya berturut-turut di situ sudah muncul banyak orang-orang kang-ouw yang mempergunakan kesempatan selagi semua tosu Kun-lun-pai bersiap menghadapi dua pasukan yang bermusuhan itu, menyelinap masuk dan tiba di tempat itu!


Melihat tokoh-tokoh Siauw-lim-pai, Hoa-san-pai dan Kong-thong-pai bersama orang-orang kang-ouw yang semenjak dulu mengejar-ngejar Sin-jiu Kiam-ong, para tokoh Kun-lun-pai ini tidak mengambil pusing. Akan tetapi melihat orang yang tadi mengeluarkan suara tawa dan dua orang lain di dekatnya, Thian Seng Cinjin sendiri menjadi terkejut dan maklum bahwa sekali ini Kun-lun-pai benar-benar menghadapi saat gawat.


Suara tertawa tadi keluar dari mulut seorang kakek tinggi besar yang tubuhnya berkulit hitam bagaikan arang, matanya lebar, putih dan telinganya seperti gajah. Tubuh hitam itu berbulu dan di pinggangnya tergantung rantai baja terhias dua buah tengkorak manusia. Ketua Kun-lun-pai mengenal orang ini yang bukan lain adalah Pak-san Kwi-ong datuk dari utara!

__ADS_1


Dan tak jauh dari situ, berdiri sambil tersenyum-senyum, tampak Pat-jiu Sian-ong kakek tua renta yang bertubuh kecil kate, berkepala besar dengan muka sempit, mengebut-ngebut lehernya dengan sebuah kebutan hudtim dengan sikap tenang sabar seolah-olah dia benar-benar seorang dewa!


Sedikit di belakang kelihatan nenek yang menyeramkan, menyeringai sehingga gigi yang besar-besar itu menonjol keluar. Mukanya berwarna merah darah, rambut riap-riapan dan pakaiannya serba hitam. Nenek yang menjadi datuk di timur, yang namanya tidak kalah terkenalnya dari Pat-jiu Sian-ong datuk barat atau pun Pak-san Kwi-ong datuk utara, yaitu Ang-bin Kwi-bo...!


__ADS_2