Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 12 part 7


__ADS_3

Semua orang tercengang memandang kepada Biauw Eng yang menundukkan mukanya yang menjadi pucat sekali. Suasana menjadi sunyi senyap dan Kiang Tojin memandang wajah yang menunduk itu penuh perhatian.


Ia percaya akan keterangan Keng Hong berdasarkan pengetahuannya bahwa Keng Hong tidak memiliki watak atau dasar watak jahat dan kejam. Sebaliknya, meski pun dia belum mengenal kepribadian Song-bun Siu-li, namun mengingat bahwa gadis ini adalah puteri Lam-hai Sin-ni yang terkenal sebagai tokoh nomor satu dari Bu-tek Su-kwi (Empat Iblis Tanpa Tandingan), tidak akan mengherankan kalau gadis yang kelihatan cantik jelita dan dingin seperti salju ini memiliki watak iblis seperti ibunya.


"Cia Keng Hong, engkau yang dijatuhi tuduhan, kenapa engkau menimpakannya kepada orang lain?" Kiang Tojin pura-pura mencela, padahal kehendak hatinya ialah memancing agar tuduhan Keng Hong itu dapat diperkuat.


"Maaf, totiang. Saya sama sekali tidak menuduh sembarangan, bukan menuduh karena saya takut menghadapi hukuman. Meski dihukum mati sekali pun, apa bila memang saya bersalah, saya tidak akan gentar dan siap mempertanggung jawabkan perbuatan saya. Akan tetapi sesungguhnya bukan saya melainkan perempuan iblis inilah yang melakukan pembunuhan-pembunuhan keji, curang dan pengecut itu. Apa bila Totiang tidak percaya, harap bertanya kepadanya dan ingin sekali saya mendengar apa yang akan dijawabnya."


Memang Keng Hong ingin sekali mendengar jawaban Biauw Eng. Pada saat gadis ini tadi membelanya ketika dia dikeroyok orang-orang sakti dan dia melancarkan tuduhannya, gadis ini menyangkal. Sekarang, di dalam sidang pengadilan di depan orang-orang sakti, bagaimana gadis ini akan dapat menyangkal pula?


Bukti-buktinya sudah cukup lengkap, yaitu senjata-senjata rahasianya, dan saksi-saksinya juga sudah banyak, terutama sekali dia yang menjadi saksi utama karena beberapa kali dia melihat gadis baju putih ini berkelebat pergi setiap ada pembunuhan-pembunuhan itu, dan masih teringat olehnya, bahkan masih terasa belaian-belaian kasih sayang penuh nafsu dari gadis baju putih yang kelihatannya dingin dan alim ini!


"Nona, jawablah apakah semua yang dikatakan Cia Keng Hong itu benar? Apakah benar Nona yang membunuh murid-murid Hoa-san-pai, Kong-thong-pai dan Tiat-ciang-pang?"


Biauw Eng memandang kepada Keng Hong dengan muka pucat, sinar matanya berduka sekali, bibirnya bergerak-gerak dan gemetar seperti wanita kalau hendak menangis. Akan tetapi gadis yang keras hati ini cepat menggigit bibirnya yang bawah sehingga tampak kilatan gigi putih disusul warna merah karena bibir bawahnya pecah tergigit!

__ADS_1


Agaknya dengan kekerasan hati Biauw Eng hendak mengeluarkan kata-kata yang segera ditekan dan ditahannya sendiri dengan gigitan pada bibirnya. Wajahnya tidak pucat lagi, bahkan mulai menjadi kemerahan, sinar matanya menyapu semua orang yang hadir di situ, kemudian memandang Kiang Tojin dan sejenak sinar mata kedua orang itu bertemu.


Dalam detik pertemuan sinar mata itu, keduanya seperti orang bermufakat dan saling saling maklum bahwa masing-masing merasa suka dan mengandung hati kasih sayang terhadap Keng Hong! Akan tetapi hanya sedetik saja pertemuan getaran perasaan ini dan terdengarlah suara Biauw Eng nyaring dan tetap, sedikit pun tidak gemetar dan dia sudah bangkit berdiri.


"Yang bersalah dihukum, yang tak bersalah dibebaskan. Itu sudah sewajarnya maka saya minta kepada cu-wi sekalian untuk membebaskan Keng Hong! Dia tidak bersalah karena benar seperti yang dikatakannya tadi, semua pembunuhan itu akulah yang melakukannya! Dan aku siap menerima hukuman, akan tetapi Keng Hong harus dibebaskan sekarang juga!”


Keng Hong menatap gadis itu dengan sinar mata tajam. Begitu Biauw Eng mengucapkan pengakuannya, sungguh heran sekali, kebenciannya menghilang dan dia kini memandang penuh kekhawatiran! Gadis itu jelas telah mengucapkan keputusan kematian sendiri!


Kiang Tojin menghadapi para tokoh tiga buah partai persilatan besar itu, lantas berkata, "Nah, cu-wi telah mendengar sendiri pengakuan Song-bun Siu-li dan berarti bahwa Keng Hong tidak bersalah dalam urusan ini. Kalau dia membela diri pada waktu diserang dan dikeroyok sehingga jatuh korban di antara para pengeroyok, sangatlah tidak adil kalau dia dipersalahkan. Terserah cu-wi sekalian sekarang, apa yang akan cu-wi lakukan kepada yang bersalah."


Juga Coa Kiu sudah menggerakkan pedangnya menyusul, sehingga tampak sinar terang dan suara mencuit ketika sinar pedang ini menyambar dan saat berikutnya, Kok Sian Cu menggerakkan pula tongkat bambunya menusuk ke dada gadis itu. Tiga serangan maut dari tiga tokoh kang-ouw yang sakti ini datang secara beruntun dalam detik-detik yang hampir bersamaan.


Sedangkan Biauw Eng hanya menundukkan muka dan siap menerima datangnya maut. Ia sama sekali tidak menjadi gentar, matanya hanya ditujukan kepada Keng Hong dengan pandang mata sayu penuh kesedihan.


"Tidak! Jangan bunuh dia...!" Keng Hong berseru keras dan dia pun lalu menubruk maju menghadang di depan Biauw Eng sambil menggerakkan tangannya mendorong ke depan dengan maksud melindungi gadis ini.

__ADS_1


Karena pukulan Tiat-ciang Ouw Beng Kok datang lebih dahulu, maka pukulan tangan baju inilah yang bertemu dengan tangan Keng Hong sehingga terdengarlah suara keras dan tubuh Ouw Beng Kok terjengkang ke belakang, juga Keng Hong terbanting ke kiri!


"Tak boleh melakukan pembunuhan di sini!" terdengar suara halus dan sinar pedang Coa Kiu yang sudah meluncur dekat dan kini telah mengancam Keng Hong karena tubuh Keng Hong masih menutupi tubuh Biauw Eng, mendadak terpental ketika tertangkis tongkat di tangan Thian Seng Cinjin.


Tongkat bambu di tangan Kok Sian Cu lihai sekali. Biar pun ada tubuh Keng Hong yang menghadang, akan tetapi tongkat itu bisa meliuk melalui punggung Keng Hong kemudian langsung menukik dan menusuk ke arah dada Biauw Eng.


"Trakkk!"


Tongkat bambu di tangan orang tertua dari Kong-thong Ngo-lojin itu menyeleweng dan menghantam lantai sehingga membuat lantai itu berlubang!


"Hi-hi-hi-hik, segala kecoa berani lancang tangan hendak membunuh puteriku?" Tiba-tiba saja Lam-hai Sin-ni sudah berada di situ sehingga mengejutkan semua orang.


Pukulan jarak jauh yang sudah berhasil menangkis tongkat bambu di tangan Kok Sin Cu ini benar-benar mengejutkan dan mengagumkan. Lam-hai Sin-ni memandang puterinya dan berkata dengan suara gemetar,


"Eng-ji... ahh, Eng-ji.., mengapa engkau begini lemah? Mengapa engkau menyia-nyiakan nyawa untuk kau korbankan? Begitu murahkah nyawamu kau korbankan untuk seorang pria berhati palsu macam Keng Hong ini…?"

__ADS_1


__ADS_2