Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 06 part 4


__ADS_3

Tentu saja dia sudah memakai obat penawar sehingga sapu tangannya itu takkan dapat meracuninya. Akan tetapi karena sapu tangannya itu secara tiba-tiba menyerang ke arah mukanya, sejenak dia tidak dapat melihat apa-apa dan tiba-tiba dia merasa pergelangan tangan kanannya terasa nyeri sekali sampai menjadi lumpuh dan pedangnya terlepas dari pegangan. Ternyata pergelangan tangan kanannya sudah kena disentil oleh telunjuk kiri Keng Hong.


Melihat betapa dia berhasil membuat gadis yang ganas itu sementara ini tidak berdaya, Keng Hong cepat meloncat untuk lari pergi dari sana. Akan tetapi selagi tubuhnya masih melayang di udara, tiba-tiba kaki kirinya dilibat oleh sesuatu, kemudian kakinya tertarik ke belakang sehingga tanpa dapat dia cegah lagi tubuhnya terjungkal lantas terbanting jatuh ke atas tanah!


Keng Hong cepat meloncat bangun dan seperti yang sudah dia duga, Biauw Eng sudah berdiri di hadapannya dengan senjatanya yang aneh, yaitu sabuk sutera putih yang kini ujungnya telah melibat kaki kirinya seperti ekor ular. Biauw Eng mengerahkan tenaganya menarik lagi untuk membuat Keng Hong terjungkal, akan tetapi pemuda itu juga sudah mengerahkan tenaga ke kaki kirinya sehingga biar pun gadis yang lihai itu membetot-betot, sedikit pun tubuhnya tidak bergeming!


Biauw Eng menjebikan bibirnya dan mendengus. Sabuk yang melibat kaki itu mendadak saja terlepas dan sinar putih berkelebat ketika ujung sabuk itu bagaikan bernyawa sudah meluncur dengan kecepatan mengagumkan, kini menyerang seperti ular mematuk ke arah mata Keng Hong!


Pemuda ini kaget sekali. Cepat dia miringkan kepala dan berusaha untuk mencengkeram sinar putih itu. Akan tetapi ujung sabuk putih itu amat cepat gerakannya, tahu-tahu telah meluncur ke bawah dan tanpa dapat dielakkan lagi oleh Keng Hong, ujung sabuk itu telah menotok jalan darahnya di tiga bagian secara bertubi-tubi.


Sungguh lihai nona itu, gerakan sabuknya amat cepat sehingga dalam waktu sedetik saja ujung sabuk telah menotok jalan darah di kedua pundak disusul totokan di atas ulu hati! Bila hanya pendekar biasa saja yang terkena totokan berantai itu, yang dilakukan dengan cepat dan keras karena tenaga lweekang tersalur melalui sabuk membuat ujung sabuk menjadi kaku, tentu roboh lemas tak mampu berkutik lagi.

__ADS_1


Untung bagi Keng Hong bahwa sungguh pun suhu-nya belum cukup menggemblengnya dengan ilmu-ilmu silat tinggi, namun pemuda ini mempunyai sumber tenaga sinkang yang sangat kuat sehingga begitu tubuhnya disentuh pengaruh dari luar, otomatis sinkang-nya bergerak dan pergerakan hawa sakti ini cepatnya melebihi segala macam gerakan yang dapat dilakukan manusia, maka totokan-totokan itu sedikit pun tidak mempengaruhi jalan darah di tubuh Keng Hong, bahkan hampir tak terasa olehnya.


Sebaliknya, tangan Biauw Eng yang memegang sabuknya tergetar hebat karena tenaga totokan-totokan itu membalik dan menyerang tangannya sendiri! Namun Biauw Eng yang merasa penasaran itu menerjang terus, kini dia memegang cambuknya di bagian tengah sehingga cambuk itu bergerak-gerak sedemikian rupa, kedua ujungnya menyerang cepat dan seolah-olah telah berubah menjadi ratusan banyaknya.


Hebatnya, kini ujung cambuk tidak lagi menotok jalan-jalan darah yang diketahui gadis itu takkan ada hasilnya, melainkan menotok ke arah bagian-bagian berbahaya seperti kedua mata, telinga, tenggorokan, pusar dan bawah pusar, pergelangan tangan, siku, dan lutut.


Tentu saja Keng Hong menjadi sibuk sekali. Selain mengelak ke sana ke mari juga dia mengibaskan dua tangannya untuk menghalau sinar putih yang mengeroyoknya secara hebat itu. Selagi dia terdesak, tampak sinar merah berkelebat dan kiranya Cui Im sudah pula membantu sumoi-nya!


Akan tetapi kesempatan itu dipergunakan oleh Keng Hong untuk meloncat jauh hendak melarikan diri. Sesungguhnya, kalau pemuda ini menggunakan ginkang-nya, biar pun dua orang murid Lam-hai Sin-ni itu dapat bergerak cepat, mereka masih tidak akan mampu mengimbangi ginkang yang dimiliki Keng Hong.


Akan tetapi karena mereka itu pandai menggunakan senjata rahasia, mereka mengejar sambil terus menyerang Keng Hong dengan senjata rahasia ini. Cui Im menghujankan jarum-jarum beracun, bahkan meledakkan bola-bola peledak yang mengeluarkan asap hitam akan tetapi kini tak dapat mempengaruhi Keng Hong yang sudah menahan napas. Ada pun Biauw Eng menyerang dari belakang dengan senjata rahasia tusuk konde perak yang kepalanya berukiran bunga bwee.

__ADS_1


Mendengar desir angin senjata-senjata rahasia ini, Keng Hong cepat-cepat mengelak dan mengibaskan kedua tangannya sambil membalik sehingga semua senjata rahasia runtuh oleh angin yang menyambar dari dua tangannya. Karena itu tentu saja larinya terlambat dan dua orang gadis itu sudah menerjangnya lagi dengan dahsyat.


Keng Hong menjadi repot sekali setelah sinar merah pedang Cui Im menyambar-nyambar di antara sinar putih sabuk Biauw Eng yang berkelebatan membentuk lingkaran-lingkaran maut. Dalam keadaan terdesak timbul marahnya.


Tadinya dia tidak mau membalas karena dia tidak tega untuk melukai dua orang gadis itu, terutama sekali Biauw Eng yang dalam pandangannya merupakan seorang gadis remaja yang selain cantik jelita dan tidak genit seperti Cui Im, namun juga telah menyelamatkan nyawanya. Akan tetapi setelah sekarang didesak dengan sangat hebat sekali, mau tidak mau dia harus membela diri.


Untuk menggunakan sinkang-nya yang luar biasa, yaitu menggunakan daya sedot yang telah mengalahkan banyak orang pandai, di samping tidak tega juga dia tidak mempunyai kesempatan. Dua orang gadis yang berilmu tinggi ini agaknya maklum akan ilmu yang mukjijat itu dan mereka tidak pernah mendekatkan diri, sehingga tidak pernah memberi kesempatan untuk ditangkap oleh tangan pemuda yang mempunyai ilmu mukjijat, melainkan menyerang dari jarak jauh mengandalkan panjangnya senjata mereka.


Tiba-tiba lingkaran sinar putih itu berkelebat menyambar ke arah kedua matanya, bukan hanya dengan satu kali totokan, melainkan secara bertubi-tubi sehingga repotlah Keng Hong harus mengelak ke kanan kiri dan ke belakang juga. Pada waktu itu pandangan matanya mulai menjadi silau dan kabur, dan dia mendengar desing pedang Cui Im mengarah lambungnya.


Cepat dia miringkan tubuh, namun pedang itu mengejarnya dan merobek celana berikut kulit dan sedikit daging pahanya. Darah mengalir dan Keng Hong menjadi marah sekali. Sambil mengeluarkan gerengan yang dahsyat, tangannya meraih ke arah pedang yang tajam.

__ADS_1


Tangannya berhasil mencengkeram pedang dengan sangat kuat dan sekali renggut pedang itu telah berpindah tangan!


__ADS_2