Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 09 part 5


__ADS_3

"Maaf, saya bukan dari golongan mana pun dan guruku yang sudah meninggal tidak boleh diganggu namanya. Harap Locianpwe suka jelaskan, kesalahan apakah yang telah saya lakukan dalam membela gadis dan adiknya yang dikeroyok itu?"


"Kami orang-orang gagah dari Tiat-ciang-pang merupakan pendukung-pendukung gerakan raja muda Yung Lo di utara yang perkasa dan yang sepatutnya dan seharusnya menjadi kaisar yang menguasai seluruh tanah air. Akan tetapi Hoa-san-pai begitu tidak tahu malu untuk membela kaisar palsu yang kini berkuasa di selatan, yang secara tidak tahu malu mengangkat diri sendiri menjadi kaisar padahal sesungguhnya singgasana menjadi hak raja Muda Yung Lo. Sudah sering kali terjadi bentrokan di antara anak murid pihak kami dengan anak murid Hoa-san-pai, maka saat terjadi bentrokan lain di dusun Ciang-cung, tanpa melihat perkaranya, engkau langsung turun tangan membantu pihak Hoa-san-pai dan membunuh orang-orang kami. Tidak salahkah itu?"


Keng Hong terkejut sekali. Hal ini sungguh tidak pernah disangkanya, bahkan ketika dia bercakap-cakap dengan Ciang Bi, gadis itu tak pernah menyebut-nyebut tentang itu, tidak pernah membicarakan tentang permusuhan antara Hoa-san-pai dan Tiat-ciang-pang yang diakibatkan perbedaan faham itu.


Dia merasa menyesal juga mengapa dia tergesa-gesa turun tangan membunuh orang. Ternyata perbuatannya itu menimbulkan kemarahan di pihak Tiat-ciang-pang. Betapa pun juga, Keng Hong seorang yang berwatak jantan yang diwarisinya pula dari suhu-nya. Dia tidak mengenal takut apa lagi karena dia merasa bahwa perbuatannya dalam urusan ini tidak salah!


Menurut ajaran suhu-nya, dalam keadaan benar dia harus berani menghadapi apa saja, bahkan mati pun bukan apa-apa apa bila mati dalam kebenaran. Lebih baik mati dalam kebenaran atau membela kebenaran dari pada hidup dalam keadaan tercemar atau pun terhina karena kejahatan! Tentu saja baik atau jahat menurut penilaiannya sendiri! Dan betapa pun dia pertimbangkan, dia tidak merasa salah dalam hal itu!

__ADS_1


"Maaf, Locianpwe. Baru sekarang setelah mendengar penuturan Locianpwe, saya tahu akan persoalannya. Akan tetapi pada waktu hal itu terjadi, saya hanya tahu bahwa ada seorang gadis muda yang dikeroyok oleh banyak laki-laki tinggi besar yang mengeluarkan ucapan-ucapan menghina. Tentu saja saya lalu turun tangan membela wanita itu, karena bukankah hal itu merupakan tugas seorang gagah yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan? Sekarang, ternyata ada sebab-sebab lain tersembunyi di dalam perkelahian itu, sebab-sebab yang tidak saya ketahui. Semua sudah terjadi, sekarang saya berhadapan dengan Locianpwe, harap jelaskan, apa yang harus saya lakukan dan apa pula yang akan Locianpwe lakukan terhadap saya?"


Kembali kakek itu diam-diam menjadi kagum sekali. Terang bahwa bocah ini bukan bocah sembarangan dan mulailah dia percaya bahwa pemuda ini memiliki kelihaian yang luar biasa, murid seorang sakti yang tentu amat terkenal. Walau pun dia merasa kagum dan sayang, namun sebagai ketua Tiat-ciang-pang, dia harus membela perkumpulannya dan harus menuntut atas kematian murid Tiat-ciang-pang agar tidak ditertawai dan dipandang rendah dunia kang-ouw, apa lagi dipandang rendah oleh Hoa-san-pai!


"Cia Keng Hong, ucapanmu membuktikan bahwa kau seorang laki-laki sejati yang tidak menyangkal perbuatan yang pernah kau lakukan. Kau sudah mengaku bahwa kau telah membunuh murid Tiat-ciang-pan, oleh karena itu, aku sebagai wakil ketua Tiat-ciang-pang berkewajiban untuk menangkap dan membawamu ke depan ketua kami untuk menerima keputusan dan hukuman."


Keng Hong mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala. "Permintaanmu ini sukar sekali untuk dapat saya terima, Locianpwe, karena apa pun yang sudah terjadi, saya berbuat demi kebenaran dan kebaikan, sedikit pun tidak mengandung dasar yang jahat dan buruk, sedikit pun tak merasa salah. Karena itu, saya tidak dapat menghadap Tiat-ciang-pangcu (ketua) untuk menerima hukuman. Harap Locianpwe suka memaafkan."


"Ahh, ternyata Locianpwe hanya ingin mencari benar sendiri!" kata Keng Hong.

__ADS_1


"Hemm, apakah bukan engkau yang hendak mencari benar sendiri, orang muda? Engkau sudah membunuh murid kami, dan kami sekarang hendak menangkapmu. Siapakah yang salah dan siapa benar dalam hal ini? Siapa yang jahat dan siapa yang baik?"


Mendadak terdengar suara ketawa, suara ketawa yang mengakak seperti suara burung gagak (goak) atau suara seekor ular besar. Mendengar suara tawanya, sepatutnya orang yang tertawa seperti itu tentulah seorang yang tinggi besar. Akan tetapi ternyata bahkan sebaliknya.


Ketika semua orang memandang ke atas karena suara ketawa itu terdengar dari atas, mereka melihat seorang kakek yang amat lucu tengah duduk dengan kedua kaki telanjang ongkang-ongkang di atas dahan pohon tak jauh dari tempat itu. Kakek ini tubuhnya kecil dan bongkok berpunuk, rambut, kumis dan jenggotnya panjang terurai akan tetapi bagian atas kepalanya botak dan kelimis.


Mukanya membayangkan kegembiraan total hingga tampak seperti wajah seorang bocah nakal yang selalu tertawa-tawa. Pakaiannya bersih sekali dan baru, akan tetapi sepasang kakinya telanjang. Tangan kirinya memegang sebuah guci arak, dan setelah tertawa dia lalu menuangkan isi guci ke mulut. Bau arak wangi memenuhi tempat itu.


"Ha-ha-ha-ha-ha!" Ia tertawa lagi setelah minum arak. "Semua salah, semua benar, tidak ada yang baik tidak ada yang buruk. Sama saja! Ha-ha-ha-ha! Yang tinggi yang pendek ya sama saja! Yang gemuk yang kurus ya sama saja! Yang salah yang benar, yang buruk yang baik, yang cantik yang bopeng, semua ya sama saja! Ha-ha-ha-ha-ha!"

__ADS_1


Bila semua orang merasa geli dan juga jengkel mendengar kata-kata tak karuan dan sikap seperti orang gila itu, Keng Hong sebaliknya menjadi tertarik sekali. Dia dapat menangkap inti sari ucapan yang tidak karuan itu maka lalu menjura ke atas terhadap kakek itu sambil berkata,


"Kebetulan sekali Locianpwe yang arif bijaksana muncul pada saat ini. Mohon petunjuk Locianpwe siapakah yang salah dan siapa yang benar dalam urusan antara saya dengan pihak Tiat-ciang-pang ini?"


__ADS_2