
Karena memang sudah mempunyai dasar batin lemah terhadap godaan nafsu, meski pun tadinya sungkan dan malu, atas desakan Bwee Ceng dan keramahan Keng Hong, pada akhirnya Swat Si mulai berani pula membalas rangkulan Keng Hong.
Pemuda ini melayani kedua orang murid Kong-thong-pai yang dimabuk nafsu itu dengan penuh kesediaan dan keramahan, tetapi dia hanya mencurahkan perhatiannya setengah saja untuk itu, karena sebagian perhatiannya lagi dia kerahkan untuk meneliti keadaan di sekeliling kebun itu, dan untuk dapat ‘menangkap basah’ apa bila Biauw Eng turun tangan melakukan serangan kejam terhadap dua orang nona dalam pelukannya.
Menjelang fajar, Swat Si sudah tertidur kelelahan, dan Bwee Ceng masih membelai dan memeluk Keng Hong. Janda ini benar-benar tergila-gila kepada pemuda perkasa itu dan dia berbisik-bisik mesra,
"Keng Hong, kekasihku... Engkau jangan khawatir, kelak di hadapan para supek-ku, aku akan membelamu dan akan kuceritakan bahwa bukan engkau yang membunuh suhu dan keempat orang suheng-ku, melainkan Song-bun Siu-li. Aku akan bersumpah dan dengan segala daya akan kubela engkau, kekasihku."
Keng Hong lalu menciumnya sambil tersenyum. "Engkau baik sekali, Bwee Ceng. Terima kasih."
Pada saat itu, Keng Hong cepat melepaskan pelukan Bwee Ceng dan tubuhnya bergerak ke depan, menangkap dua benda yang mengeluarkan sinar putih dan yang menyambar cepat ke arah pelipis Bwee Ceng dan Swat Si. Tepat seperti dugaannya, Biauw Eng turun tangan menyerang dengan senjata rahasianya, yaitu bola-bola putih berduri!
"Biauw Eng, perempuan keji...!" Keng Hong cepat meloncat ke arah dari mana datangnya senjata-senjata rahasia itu, tidak peduli bahwa tubuhnya masih telanjang. Akan tetapi tak tampak bayangan seorang pun manusia.
Keng Hong cepat-cepat kembali dan mengenakan pakaian, sedangkan dua orang wanita itu sudah cepat kembali ke dalam kuil. Karena tidak berhasil menangkap Biauw Eng, Keng Hong dengan hati panas kembali ke ruangan belakang kuil, lalu tertidur sampai pagi.
Pada keesokan harinya, dengan wajah berseri dan kedua pipi kemerahan, Bwee Ceng dan Swat Si sudah memasak makanan. Pagi-pagi benar mereka telah membeli beberapa ekor ayam dan gandum dari penduduk dusun, bahkan Bwee Ceng membawa pula seguci arak.
__ADS_1
Keng Hong yang melihat betapa wajah mereka berseri, diam-diam harus mengakui bahwa mereka itu cantik-cantik dan manis, maka hatinya menjadi makin girang. Apa lagi melihat Swat Si yang menahan senyum dan dengan malu-malu kadang-kadang mengerling ke arahnya, dia mengakui gadis ini dan membandingkannya dengan Ciang Bi. Untung bahwa dia bersikap waspada, kalau tidak, tentu dua orang wanita cantik ini sekarang sudah menjadi mayat, pelipis mereka telah pecah oleh dua bola putih berduri korban keganasan Biauw Eng. Ia makin marah dan benci kepada Biauw Eng.
"Wah, Ji-wi Siocia (Nona Berdua) sungguh rajin, sepagi ini sudah mendapatkan makanan pagi yang lengkap!" Keng Hong berseru gembira sambil mendekati salah seorang murid Kong-thong-pai minta dibukakan belenggunya.
Murid Kong-thong-pai itu lalu membuka belenggu tangannya untuk memberi kesempatan Keng Hong ikut makan pagi.
"Ehh, ada araknya pula. Dari mana Ji-wi bisa mendapatkan arak?"
Swat Si tidak dapat mengeluarkan suara. Ia masih merasa malu dan jengah dan sehingga khawatir kalau-kalau suaranya akan gemetar. Bwee Ceng tersenyum dan menjawab,
"Kebetulan sekali ada seorang wanita petani membawa hendak ditawarkan kepada kita. Aku lalu membelinya dan araknya baik sekali, wangi."
Ketika Bwee Ceng membagikan arak dan menuangkan arak pada cawan masing-masing yang diambilnya dari bungkusan perbekalan mereka, tercium bau arak yang wangi dan sedap sekali. Mereka menjadi gembira dan segera mengangkat cawan arak dan minum arak yang ternyata manis dan enak sekali.
Akan tetapi, mendadak Keng Hong mengerutkan alisnya ketika arak itu melalui lidahnya. Mulutnya yang sudah sangat peka itu dapat merasakan ada racun yang amat kuat berada di dalam arak, racun yang sama sekali tidak berbau dan tidak ada rasanya. Akan tetapi begitu tersentuh racun itu lidahnya sudah dapat merasakan dan tahulah dia bahwa dia hendak di racun!
Keng Hong tersenyum ketika dia mengerling ke arah Swat Si yang kebetulan mengerling ke arahnya pula dari balik cawannya. Hemm, tentu cawan untuknya itu saja yang diberi racun. Diam-diam dia mengeluh hatinya.
__ADS_1
Agaknya kedua orang wanita itu, ataukah Bwee Ceng itu karena dia tidak percaya bahwa Swat Si yang begitu halus dan mesra akan suka meracuninya, sengaja ingin membunuh dia karena khawatir kalau-kalau peristiwa semalam akan terbongkar dan diketahui orang lain. Kalau Keng Hong mati, tentu rahasia itu takkan pernah dapat terbongkar lagi. Begini kejamkan wanita? Keng Hong hanya mengeluh dalam hatinya, akan tetapi terus meneguk habis araknya karena baginya, racun itu tidak akan ada bahayanya.
Tiba-tiba Keng Hong meloncat bangun ketika melihat perubahan pada wajah enam orang itu. Mendadak saja wajah enam orang itu berubah. Mendadak saja wajah mereka yang tadinya duduk di atas lantai itu menjadi biru.
"Aduhhh... Keng Hong..!" Swat Si mengeluh.
Melihat wajah Swat Si, hati Keng Hong penuh keharuan dan kekhawatiran. Dia cepat meloncat dekat dan merangkul leher gadis itu. Wajah gadis itu menjadi agak menghitam, tubuhnya berkelojotan, akan tetapi matanya memandang wajah Keng Hong dan mulutnya agak tersenyum walau pun giginya yang kecil rata dan putih mengkilap itu menggigit bibir bawah menahan rasa nyeri yang menusuk-nusuk perut.
"Swat Si... kenapa...?" Keng Hong yang mendekapnya bertanya khawatir.
"Keng Hong... jangan lupakan aku…" Swat Si berbisik kemudian tubuhnya menjadi lemas, matanya mendelik.
Tak salah lagi, tentu arak itu! Dan Bwee Ceng yang membelinya! Ia melepaskan tubuh Swat Si yang sudah sekarat lalu membalik menubruk Bwee Ceng, mengangkat tubuh itu yang lalu di rangkulnya.
Seperti juga Swat Si, ketika memandangnya, Bwee Ceng berusaha untuk tersenyum.
"Keng Hong... arak... itu... ada racun.. aku tidak penasaran... setelah semalam..." Ia tidak dapat melanjutkan karena tubuhnya berkelojotan dan matanya mendelik pula.
__ADS_1
Keng Hong segera melepaskan Bwee Ceng dan memeriksa keempat orang murid pria Kong-thong-pai. Semua sama keadaannya, merasa sekarat dan dalam perjalanan maut.