
Kemudian dia menggerakkan kedua tangan setelah menancapkan tongkat di atas tanah. Dengan kedua tangannya dia memegang dua pangkal lengan Keng Hong, lalu merenggut dan menghentak keras.
Keng Hong merasa betapa sebuah tenaga raksasa menariknya, dan tenaga yang jauh lebih kuat dari pada tenaga kelima tosu yang membocor ke dalam tubuhnya ini sudah menghentikan hubungan atau aliran hawa sakti itu, melepaskan dua lengannya sehingga tahu-tahu tubuhnya terlempar sampai sepuluh meter lebih jauh sampai bergulingan.
Keng Hong meloncat bangun, loncatannya amat ringannya dan dia berteriak kaget sebab tubuhnya itu mencelat jauh lebih tinggi dari pada yang dikehendakinya. Tubuhnya terasa seperti penuh dengan hawa yang membuatnya ringan sekali, akan tetapi juga amat berat di sebelah dalam. Hawa yang memenuhi tubuhnya minta dikeluarkan, membuat mulutnya menghembuskan suara mendesis seperti orang yang mulutnya kepedasan!
"Aahhhh... minggir... aaahhhhh... minggir semua...!" pekiknya dengan suara menggereng bagaikan seekor harimau, kemudian tubuhnya sudah melesat ke depan, menuju ke arah pohon-pohon besar.
Para tosu yang menyaksikan keadaannya ini menjadi amat kaget, heran dan juga gentar sehingga otomatis mereka lalu minggir dan menjauhkan diri. Keng Hong hanya merasa bahwa dia harus menyalurkan semua hawa sakti yang kini memenuhi tubuhnya, harus mengeluarkan tenaga yang membuat dadanya serta kepalanya bagaikan akan meledak.
Maka dia terus saja menggunakan kedua kaki tangannya untuk menghajar pohon-pohon yang tumbuh di hadapannya. Dia memukul, menendang dan mendorong. Dengan ngawur saja dia lantas memainkan keseluruhan delapan jurus dari ilmu silat San-in Kun-hoat.
“Dessss… kraaak-kraaaaak... bruuuuk!"
Terdengar suara-suara dahsyat berkali-kali, dan begitu ia selesai mainkan delapan belas jurus Ilmu Silat San-in Kun-hoat maka dia telah merobohkan delapan belas batang pohon besar yang menjadi tumbang, batangnya remuk dan kini malang melintang seperti baru saja diamuk topan!
__ADS_1
Setelah dapat mengeluarkan sebagian hawa sinkang yang mendesak-desak di tubuhnya itu melalui pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan yang merobohkan belasan batang pohon, barulah Keng Hong merasa tubuhnya tidak tersiksa lagi. Dadanya dan kepalanya tidak lagi terasa seperti mau meledak, napasnya tidak sesak dan dia seperti baru timbul dari keadaan seorang yang hampir tenggelam ke dalam air yang amat dalam tanpa dapat berenang!
Ia kini menggoyang-goyang kepalanya untuk mengusir sisa kepeningan, lalu memandang ke depan. Ia melihat betapa Kiang Tojin dan empat orang sute-nya sudah duduk bersila mengatur pernapasan serta mengumpulkan tenaga dengan wajah pucat. Teringatlah dia akan semua peristiwa akibat gara-garanya, maka cepat dia menghampiri Kiang Tojin dan menjatuhkan diri berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepala penuh penyesalan.
"Saya mohon ampun dari Totiang sekalian...!" Suaranya pilu dan tak terasa lagi pemuda ini menangis sesenggukan!
"Siancai..., engkau bocah telah mewarisi ilmu iblis milik Sin-jiu Kiam-ong, masih baik tidak mewarisi wataknya yang ugal-ugalan. Hatimu masih bersih...!" Thian Seng Cinjin memuji sambil mengelus jenggotnya yang putih.
Tosu tua ini maklum bahwa kalau hati anak muda itu mengandung kekejaman, pasti dia akan kehilangan beberapa orang murid. Malapetaka besar tentu akan timbul kalau saja pemuda itu menyalurkan hawa sinkang yang hebat itu bukan kepada pohon-pohon, akan tetapi kepada manusia.
"Totiang, saya bersumpah bahwa semua itu terjadi di luar kehendak saya. Sekarang saya mohon kepada Totiang agar Totiang sudi melenyapkan daya sedot yang mencelakakan orang tanpa saya kehendaki ini. Tolonglah, Totiang...!" Pemuda ini merasa tersiksa sekali batinnya dan dia menganggap ilmu kepandaian aneh yang berada di dalam dirinya, daya sedot yang ajaib itu, tidak lain hanya sebagai sebuah penyakit hebat yang menyeramkan dan menjijikkan!
"Keng Hong, tingkat kepandaianku masih belum sampai ke situ, tidak mungkin aku dapat melenyapkan ilmu iblis itu. Entah kalau suhu, barang kali bisa kalau kau suka memohon kepada suhu."
Keng Hong sudah menoleh dan hendak memohon kepada ketua Kun-lun-pai, akan tetapi Thian Seng Cinjin sudah mengangkat tangannya sambil berkata, suaranya halus namun penuh wibawa.
__ADS_1
"Ada semacam ilmu hitam yang disebut Thi-khi I-beng (Mencuri Hawa Pindahkan Nyawa) yang cara kerjanya juga menyedot kekuatan tubuh lawan. Namun pinto rasa untuk masa kini tak ada lagi yang mempunyai ilmu yang mukjijat itu. Kini secara aneh ilmu itu dimiliki olehmu, Keng Hong. Entah Sin-jiu Kiam-ong sengaja atau tidak telah menurunkan ilmu itu kepadamu. Melihat betapa kau sendiri tidak sadar akan ilmu itu, agaknya dia pun tidak menurunkannya kepadamu dan sudah terjadi keanehan yang sangat ajaib. Engkau bukan anak murid Kun-lun-pai, maka tidak berhak bagi Kun-lun-pai untuk melenyapkan ilmu itu dari tubuhmu. Pula, melenyapkan ilmu itu dari tubuhmu berarti membahayakan nyawamu dan nyawa dia yang mengusahakannya. Ilmu tetap saja ilmu, baik buruknya atau hitam putihnya tergantung dia yang mempergunakannya. Walau pun Thi-ki-i-beng kelihatannya ganas dan keji, namun kalau engkau dapat menguasainya dan mempergunakan untuk kebaikan, perlu apa dilenyapkan?" setelah berkata demikian, kakek ini lalu merenung dan memejamkan mata, mulutnya berkomat-kamit seperti orang membaca doa.
"Bagaimana, Kiang Totiang...?" sekarang Keng Hong menujukan pertanyaannya kepada penolongnya.
Kiang Tojin tersenyum dan menghela napas. "Tepat seperti yang dikatakan suhu, engkau bukan murid Kun-lun-pai, karena itu kami tidak berhak mencampuri urusan ilmu silatmu. Sekarang, kau pun terpaksa harus meninggalkan pula pedangmu kepada kami."
Keng Hong menarik napas panjang. Tosu-tosu ini terlalu angkuh, pikirnya. Kalau ketuanya tahu akan cara melenyapkan ‘penyakit’ yang berada dalam tubuhnya, kenapa tidak mau menolongnya?
Anak ini memiliki keangkuhan dan tidak sudi merengek-rengek merendahkan diri. Dia lalu mencabut pedang kayu dari pinggangnya dan meletakkannya di depan kaki Kiang Tojin sambil berkata,
"Saya tidak mempunyai niat buruk, kenapa membawa-bawa pedang? Kalau Kun-lun-pai merasa bahwa pedang itu hak mereka, biarlah saya tinggalkan. Selain pedang ini, saya hanya mempunyai pakaian yang saya pakai ini. Apakah ini pun harus ditinggalkan pula?"
Kiang Tojin memandang dengan sinar mata sedih, lalu menggeleng-gelengkan kepala. "Sungguh sayang, Keng Hong. Saat ini hatimu dipenuhi oleh kemarahan dan dendam, engkau masih belum mengerti akan maksud baik kami. Akan tetapi biarlah, kelak engkau akan mengerti sendiri mengapa kami minta kau meninggalkan Siang-bhok-kiam kepada kami."
"Ehh, bocah tolol! Namamu Keng Hong tadi, ya? Kenapa kau begitu tolol menyerahkan Siang-bhok-kiam kepada para tosu bau itu? Jangan berikan! Kau sudah ditipu, mereka itu menginginkan pedang pusaka itu. Ambil lagi dan lekas pergi! Dengan ilmu kepandaianmu yang mukjijat seperti iblis mereka takkan bisa memaksamu!" Teriakan ini adalah teriakan wanita cantik yang diikat pada pohon.
__ADS_1