Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 11 part 8


__ADS_3

Masa Lian Ci Tojin akan melakukan hal yang sangat rendah terhadap gadis itu? Bukankah para tosu Kun-lun-pai ini bukan sembarangan tosu melainkan tosu murid langsung Thian Seng Cinjin?


Kembali sinar mata Lian Ci Tojin yang ditangkapnya ketika tosu itu mengempit tubuh Hun Bwee menggoda hatinya. Betapa pun percaya dia akan alasan Sian Ti Tojin tadi, namun sinar mata itu! Seperti mata orang kehausan melihat air, mata orang kelaparan melihat makanan enak, mata seekor anjing melihat daging, mata yang penuh memancarkan nafsu birahi!


Kalau benar seperti yang dikhawatirkannya, celakalah nasib Hun Bwee di tangan tosu itu. Gadis yang sudah begitu baik kepadanya, dan jelas tampak kebaikannya pada saat gadis itu membelanya melihat dia dipukuli oleh kedua orang tosu Kun-lun-pai. Betapa beraninya membela dia dari dua orang tosu yang lihai! Gadis yang berwatak pendekar dan gagah perkasa. Dan kini terancam bahaya yang bagi seorang gadis lebih hebat dari pada maut!


"Totiang, terpaksa teecu harus menyusul non Tan..."


"Cia Keng Hong, berhenti! Kalau tidak, terpaksa kupukul kau!"


Namun Keng Hong sudah meloncat pergi hendak mengejar Lian Ci Tojin.


"Keng Hong, kalau engkau tidak berhenti, pinto akan memukulmu!" Kembali teriakan Sian Ti Tojin menggema di belakangnya dan tosu itu telah mengejarnya.


Keng Hong berpikir cepat. Kalau dia menggunakan ginkang-nya, dia hanya akan menang sedikit karena para tosu Kun-lun-pai tentu saja memiliki ginkang yang hebat. Dan kalau dikejar-kejar, bagaimana dia dapat mencari Hun Bwee? Setelah berpikir, dia lalu berlari terus, sengaja memperlambat larinya.


"Peringatan terakhir, Keng Hong. Berhentilah!"


Keng Hong berlari terus.


"Siancai! Pinto terpaksa memukulmu!"

__ADS_1


Angin pukulan dahsyat terasa menyambar dari belakang. Keng Hong cepat membalikkan tubuhnya, mengerahkan sinkang-nya ke lengan dan segera menangkis pukulan itu terus mendorong ke samping.


"Dukkk!"


Tubuh Sian Ti Tojin terpental ke belakang bagaikan disambar angin yang kuat bukan main sehingga dia berseru kaget. Untung bahwa dia telah memiliki lweekang yang sangat kuat sehingga dia dapat mencegah tubuhnya terbanting, akan tetapi dia merasa betapa tenaga lweekang dalam pukulannya tadi membalik dan membuat dadanya sesak. Ia tahu bahwa jika dia kembali mengerahkan tenaga, maka dia akan terluka. Karena itu cepat dia duduk bersila mengumpulkan hawa murni untuk memulihkan keadaannya dan tentu saja ia harus membiarkan pemuda yang luar biasa itu pergi.


Keng Hong berlari terus secepatnya. Memang dia sudah melakukan hal yang membuat hatinya menjadi semakin tidak enak terhadap Kun-lun-pai, akan tetapi karena dia hanya menangkis dan yang memukul adalah Sian Ti Tojin, maka dia menekan kekhawatirannya. Mengejar dan menolong Tan Hun Bwee lebih penting lagi.


Ia tadi melihat bayangan Lian Ci Tojin yang membawa lari nona itu naik ke atas, maka kini dia pun mengejar, akan tetapi hingga sekian lama berlari belum juga dia dapat menyusul. Hatinya menjadi penasaran dan gelisah sekali.


Dari sebuah puncak dia telah dapat melihat dinding tinggi dari Kun-lun-pai dan tak tampak bayangan tosu itu. Kalau Lian Ci Tojin membawa Hun Bwee ke Kun-lun-pai, dia tak usah khawatir. Akan tetapi dia merasa curiga dan menduga bahwa tentu nona itu tidak dibawa ke sana.


Mendadak Keng Hong menghentikan langkahnya dan membungkuk, mengambil sehelai pita sutera hijau yang berbau harum. Agaknya pita rambut atau pita pelindung leher dan tak salah lagi, warna hijau muda ini menyatakan bahwa pita ini milik Tan Hun Bwee. Tentu orangnya berada tak jauh dari tempat ini. Hatinya makin tidak enak dan berdebar.


"Tan-siocia (nona Tan )...!" dia memanggil. Tiada jawaban.


Ia meneliti dan akhirnya melihat tapak kaki di atas tanah yang agak basah. Namun cukup baginya. Jejak kaki itu menuju ke arah serumpun alang-alang atau rumput tinggi di sebelah kirinya. Cepat dia menerobos semak-semak itu dan akhirnya dia melihat Tan Hun Bwee menggeletak di atas rumput, tersembunyi di balik semak-semak yang tebal.


Gadis itu dalam keadaan pingsan, agaknya tertotok dan melihat keadaan pakaiannya, hati Keng Hong seperti ditusuk pisau. Gadis ini sudah diperkosa! Dengan hati penuh iba, dia membereskan pakaian itu sebisa mungkin, kemudian ia mengurut tengkuk dan punggung Tan Hun Bwee.


Gadis itu mengeluh, lalu membuka matanya dan berteriak kaget sambil meloncat berdiri. Sepasang mata yang tajam itu sejenak menunduk, meneliti keadaan dirinya, kemudian wajah itu diangkat memandang Keng Hong, wajah yang pucat sekali dan matanya liar.

__ADS_1


"Kau... kau… laki-laki jahat… apa yang sudah kau perbuat atas diriku...?" Air mata deras mengalir di sepasang pipi yang semakin pucat, ada pun mata itu makin beringas.


"Tenanglah, Nona. Aku mendapatkan Nona menggeletak di sini, dan..."


"Bohong! Engkau telah melakukan kekejian kepadaku! Aihhh, engkau adalah murid Sin-jiu Kiam-ong..., keparat busuk!" tiba-tiba saja Hun Bwee menerkam ke depan dan menyerang Keng Hong dengan pukulan ke arah dada pemuda itu.


Saking kaget dan menyesal menyaksikan kesalah pahaman ini, Keng Hong sampai tidak sempat mengelak. Akan tetapi begitu dadanya terpukul, otomatis sinkang pada tubuhnya bergerak.


"Dukkkk...!" Dan tubuh gadis itu terjengkang roboh sendiri.


"Aah, Nona, sungguh mati, aku tidak..."


"Laki-laki jahanam! Pengecut hina dina! Telah berani berbuat tapi tidak berani bertangung jawab, malah menyangkal, keparat!" kembali Hun Bwee memaki.


Akan tetapi kemarahan yang begitu meluap membuat gadis ini lemah, selain berduka dan malu. Juga air matanya membuat kedua matanya sukar melihat. Serangan-serangannya menjadi ngawur dan asal pukul saja.


Keng Hong merasa kasihan, akan tetapi juga bingung menghadapi gadis yang mengamuk tidak karuan itu. Akhirnya dia berhasil menangkap kedua pergelangan tangan gadis itu sehingga tak dapat bergerak lagi, lalu berkata,


"Dengarlah Nona, aku tak melakukan sesuatu apa pun kepadamu, kudapati engkau telah menggeletak pingsan di sini…"


"Bohong! Bohong...!" Gadis itu meronta-ronta sehingga terpaksa Keng Hong melepaskan pegangannya. Karena maklum bahwa terhadap pemuda ini dia tidak akan dapat menang, gadis itu kemudian membalikkan tubuh dan berlari pergi dari tempat itu sambil menangis terisak-isak, meninggalkan Keng Hong yang berdiri bengong.

__ADS_1


__ADS_2