Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 13 part 7


__ADS_3

Wanita ini berbahaya sekali, selain lihai ilmunya, juga amat cerdik dan banyak akalnya.


"Cui Im, engkau pandai membual. Engkau sudah terjebak di tempat itu, maka engkau sengaja hendak membujukku, bukan?"


"Manusia sombong, keras kepala engkau! Memang di sini tidak ada jalan keluarnya, akan tetapi setelah kepandaianku meningkat, kiranya tak sulit bagiku mencari jalan keluar, atau kalau perlu menyerbumu ke situ! Bukan karena itu, dan jangan mengira kalau aku akan minta-minta kepadamu. Tidak, biar pun aku terjebak di sini, engkau pun terjebak di sana dan keadaanmu lebih buruk lagi. Engkau tahu? Di sini terdapat persediaan makanan yang akan cukup dimakan sampai bertahun-tahun. Terdapat roti-roti gandum kering yang asin, yang tidak rusak disimpan bertahun-tahun, apa lagi disimpan di dalam kamar yang rapat sekali. Di sini terdapat air jernih karena air kali kecil itu lewat di bagian sini. Dan di akhir terowongan menjadi tempat bersarangnya ratusan ribu burung sehingga aku dapat makan telur burung atau menangkap dan makan dagingnya. Sedangkan engkau di sana akan makan dan minum apa? Untuk mencari makan dengan menuruni batu pedang sama saja dengan menyerahkan diri kepada para tosu Kun-lun-pai. Nah, katakan, siapa yang sudah terjebak? Engkau amat membutuhkan aku, atau lebih tepat, tempat ini dan aku. Aku amat membutuhkan engkau untuk membacakan dan menuntunku mempelajari kitab-kitab ilmu silat..."


"Heeeee? Engkau buta huruf?"


Merah wajah Cui Im. "Buta sama sekali sih tidak. Kalau hanya membaca atau menulis surat-surat cinta saja aku bisa. Akan tetapi, kitab-kitab ini... terutama sekali kitab dari Siauw-lim-pai, tulisannya seperti cakar bebek dan bahasanya amat kuno, menggunakan sajak-sajak yang amat sukar dimengerti. Marilah kita berdamai dan saling membantu. Kita berdua dapat dapat hidup di sini mempelajari ilmu dan kelak kita menjadi jago-jago nomor satu di dunia ini, apakah tidak senang dan nikmat?"


Keng Hong mengerutkan keningnya. Biar pun amat menggemaskan hatinya, akan tetapi harus dia akui bahwa ucapan Cui Im ada benarnya. Kalau memang ransum makanan dan air minum berada di seberang sana, sudah tentu dia amat membutuhkannya. Dan gadis itu juga membutuhkan dia untuk membaca kitab-kitab ilu. Hemmmmm, dengan demikian, tentu saja dalam mempelajari ilmu-ilmu berdua, dia akan lebih menang karena lebih dulu membaca dan mudah saja untuk melewati bagian-bagian penting sehingga tingkat Cui Im akan tetap berada di bawahnya. Dengan demikian, kelak akan mudahlah menundukkan gadis ini kalau menjadi liar dan jahat. Tidak ada jalan lain pada saat seperti ini.


"Baiklah Cui Im, Tidak ada jalan lain bagi kita berdua selain berdamai dan bekerja sama. Nah, lontarkan ujung tambang itu agar jembatan tambang selalu terbentang!"


"Hi-hi-hik, nanti dulu Keng Hong."


"Ada apa lagi? Jangan engkau main-main, Cui Im."

__ADS_1


"Bukan aku yang main-main, melainkan aku khawatir kalau engkau yang akan main-main. Lebih dahulu bersumpahlah engkau, Keng Hong, baru aku mau bekerja sama denganmu. Siapa tahu engkau menipuku seperti ketika engkau memberikan Siang-bhok-kiam palsu, hi-hi-hik!"


Keng Hong mendongkol sekali. Gadis ini terlalu cerdik, dia harus berhati-hati. Hanya ada satu harapannya, yaitu bahwa Cui Im agaknya benar-benar mencintainya sehingga dia tidak khawatir gadis itu akan tega mencelakainya. Pula, kalau dipikir secara mendalam, sangatlah merugikan kalau kitab-kitab peninggalan suhu-nya itu dibawa pergi oleh Cui Im yang tentu minta bantuan orang-orang lain untuk membacakannya. Dengan demikian, isi kitab-kitab itu akan diketahui orang ke tiga. Lebih baik dia sendiri yang membacakannya dari pada orang lain!


"Baiklah, Cui Im. Apa bila engkau kurang percaya kepadaku, aku akan bersumpah. Harus bersumpah bagaimana?"


"Berlututlah dan bersumpahlah demi nama suhu-mu, Sin-jiu Kiam-ong!"


Keng Hong terkejut dan ingin membantah, akan tetapi dia sudah mengenal watak Cui Im yang keras dan dalam persoalan mereka sekarang ini kedudukan dialah yang lebih lemah dan tak menguntungkan. Ia hanya menghela napas panjang. Untuk bersumpah saja, asal dia memegang sumpahnya, menggunakan nama suhu-nya juga tidak mengapa. Maka dia lalu berlutut dan mengucapkan kata-kata yang dikehendaki Cui Im.


"Pertama, engkau tidak akan membunuhku!"


"Bahwa teecu tidak akan membunuh Ang-kiam Tok-sian-li Bhe Cui Im."


"Kedua, bahwa engkau akan membacakan kitab-kitab ilmu silat dengan sebenarnya dan tidak menipuku!"


Celaka, pikir Keng Hong dalam hatinya. Gadis ini cerdik bukan main!

__ADS_1


Terpaksa dia mengucapkan kata-kata menurut kehendak Cui Im, "...Bahwa teecu akan membacakan kitab-kitab ilmu silat dengan sebenarnya dan tidak menipunya..."


"Ke tiga, bahwa engkau akan menerima aku belajar hingga selesai dan tidak menghalangi bila sewaktu-waktu aku menghentikan pelajaran dan keluar dari tempat ini!"


Keng Hong meniru ucapan itu dan hatinya lega ketika Cui Im menyatakan sudah cukup puas. Cepat dia bangkit berdiri dan berkata dengan wajah dan berseri, "Cui Im, lontarkan tambang itu dan aku ingin meninjau tempat di seberang situ!"


Cui Im menjadi heran kenapa Keng Hong kelihatan demikian gembira setelah bersumpah. Akan tetapi dia percaya bahwa seorang pemuda seperti Keng Hong ini sekali bersumpah, apa lagi demi nama gurunya, sampai mati pun tidak akan sudi melanggar sumpahnya. Maka tanpa ragu-ragu lagi ia lalu melontarkan ujung tambang yang ada besi kaitannya ke seberang.


Tepat seperti dugaannya tadi, besi kaitan itu melayang dan mengait batu. Di seberang sana Cui Im mengait ujung yang satu lagi pada batu di sana. Akan tetapi Keng Hong memeriksa lagi kaitannya, dan setelah mendapat kenyataan bahwa besi itu mengait baik dan kuat-kuat, dia lalu meloncat ke atas tambang dan berlari di atas tambang menuju ke seberang.


Diam-diam dia kagum kepada Cui Im. Tadinya gadis itu merasa ngeri ketika mendaki batu pedang, akan tetapi begitu mendapat kitab-kitab itu, gadis itu tidak merasa ngeri untuk berjalan di atas jembatan tambang yang lebih mengerikan lagi.


Begitu dia meloncat di daratan seberang, Cui Im cepat-cepat menyambutnya dengan bibir mencari-cari bibirnya. Akan tetapi Keng Hong menghindarkan mukanya dan dengan halus mendorong pundak Cui Im.


"Keng Hong, mengapa? Bukankah kita sudah menjadi sahabat baik?"


"Cui Im, kita bersahabat untuk saling membantu dalam mengejar ilmu di sini, dan tentang cinta, ingat, tidak ada disebut-sebut dalam sumpahku tadi!"

__ADS_1


__ADS_2