Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 09 part 9


__ADS_3

Yang menjemukan adalah, dua orang ini menjerit-jerti seperti dua ekor babi disembelih! Ingin Keng Hong melepaskan diri dari mereka, akan tetapi dia sendiri pun tak tahu bagaimana caranya!


Jawabannya yang memang sesungguhnya itu diterima salah oleh Kim-to Lai Ban, maka dia menjadi makin marah dan dicabutlah golok emasnya. "Terpaksa aku membunuhmu, pemuda iblis!" serunya dan dia menerjang maju, lalu meloncat ke atas dan berteriak keras menyerang Keng Hong.


Pemuda ini maklum betapa hebat dan berbahayanya serangan Kim-to Lai Ban itu. Maka dia pun mengeluarkan pekik melengking dan tubuhnya telah mencelat ke atas, membawa ke udara empat tubuh yang menempel di sebelah belakang tubuhnya sendiri itu.


Menghadapi serangan golok lawan yang sedemikian dahsyatnya, yang berubah menjadi sinar keemasan yang melengkung panjang, Keng Hong sudah mengerahkan tenaga dan menggunakan jurus In-keng Hong-wi (Awan menggetarkan Angin dan Hujan), yaitu jurus kedelapan atau jurus terakhir, jurus yang paling dahsyat dari pada ilmu silatnya, San-in Kun-hoat (Ilmu Silat Tangan Kosong Awan Gunung) yang hanya terdiri dari delapan jurus itu.


Jurus ini amat sulit dimainkan, namun juga amat hebat gerakannya, karena selagi berada di angkasa menyambut terjangan lawan yang juga meloncat ke udara itu, kaki kiri Keng Hong bekerja susul menyusul dalam rangkaian yang selain cepat tak terduga, juga amat aneh dalam kerja sama yang rapi sekali. Kedua kakinya sudah susul menyusul melakukan tendangan ke arah pergelangan tangan Kim-to Lai Ban yang memegang golok dan ke arah pusar, sedangkan kedua tangannya susul menyusul pula melakukan serangan, yang kiri mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala, sedangkan yang kanan mengikuti gerakan golok yang ditarik ke belakang karena tendangannya sedetik yang lalu!


"Hayaaaaa..!!"

__ADS_1


Selama hidupnya baru sekali ini Kim-to Lai Ban menjadi gugup. Tadinya dia memutar goloknya dan melompat ke atas melakukan serangan dengan jurus yang terampuh dari ilmu goloknya. Ia harus menyelamatkan dua orang sute-nya, maka dia tidak segan-segan lagi menurunkan serangan maut, goloknya membentuk lingkaran dan sasarannya adalah leher lawan, sedangkan tangan kirinya yang terbuka jarinya mencengkeram ke arah lehar Keng Hong.


Akan tetapi, siapa kira, lawannya itu malah meloncat pula dan menyambut serangannya secara terbuka di udara! Tentu saja tubuh mereka bertemu di udara dan dalam beberapa detik ini telah terjadi beberapa gebrakan hebat.


Kim-to Lai Ban terpaksa segera menarik goloknya karena pergelangan tangannya yang membacok itu dipapaki tendangan dari bawah, akan tetapi tangan kirinya berhasil ‘masuk’ dan mengcengkeram leher Keng Hong karena dia menang dulu. Tapi dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika jari-jari tangannya yang mencengkeram leher itu terasa bagaikan mencengkeram daging yang amat lunak dan sekaligus tenaganya tersedot dan tangannya melekat! Sebelum hilang rasa kagetnya, pusarnya sudah terancam tendangan yang cepat dia elakkan, akan tetapi tiba-tiba goloknya terampas oleh tangan Keng Hong dan juga ubun-ubunnya terancam oleh cengkeraman sebelah tangan pemuda luar biasa itu!


"Celaka..!" Lai Ban berseru keras, berusaha membetot tangannya dan pada detik lain, dia mengirim tusukan dengan dua buah tangannya ke arah mata Keng Hong dan hal ini sama sekali tak dapat dielakkan mau pun ditangkis oleh pemuda itu! Dalam detik itu, nyawa Lai Ban terancam maut oleh cengkeraman pada ubun-ubunnya, ada pun keselamatan Keng Hong terancam kebutaan oleh dua jari tangan Kim-to Lai Ban.


Yang sebutir menyambar siku lengan Lai Ban yang menusukkan jari tangannya ke arah mata Keng Hong, ada pun yang sebutir lagi melayang ke arah siku lengan Keng Hong yang mencengkeram ke arah ubun-ubun lawannya. Biar pun buah mentah itu tidak keras, namun ternyata tenaga luncuran dan tenaga totokannya dahsyat sekali sehingga tiba-tiba kedua lengan yang tertotok buah-buah mentah itu menjadi lumpuh dan kedua orang itu meloncat turun ke bawah.


Untung bagi Lai Ban bahwa ketika dia tertotok oleh buah mentah yang melayang tadi, kelumpuhannya membuat dia terlepas dari tenaga mukjijat Keng Hong yang menyedot dan menempelnya sehingga dia dapat meloncat ke bawah. Dia terkejut bukan main dan hanya dapat memandang kepada Keng Hong dengan mata terbelalak, ada pun mulutnya menggumamkan bisikan, "Iblis...!"

__ADS_1


Kemudian dia terbelalak kaget ketika tubuh dua orang sute-nya beserta dua orang anak buahnya, mereka berempat yang tadi melekat di belakang Keng Hong seperti lintah, kini sudah menggeletak tak bernyawa lagi! Kiranya tadi karena terlalu lama mereka tersedot sinkang-nya dan mereka sama sekali tidak berdaya, hawa sakti tubuh mereka tersedot sampai habis sama sekali sehingga mereka dengan sendirinya terlepas dan jatuh ke atas tanah dalam keadaan tak bernyawa lagi.


Melihat ini, Kim-to Lai Ban menjadi makin marah. Selagi dia bersiap untuk mengerahkan anak buahnya yang amat banyak dan mengeroyok mati-matian untuk menebus kematian dua orang sute-nya, tiba-tiba Keng Hong meloncat pergi, melempar golok rampasannya ke atas tanah sambil berseru,


"Locianpwe, tunggu dulu...!"


Ketika Lai Ban memandang lebih teliti, kiranya pemuda iblis itu telah lari mengejar kakek bongkok yang juga telah melarikan diri amat cepatnya. Kim-to Lai Ban menggeget giginya sambil memandang jauh ke depan sampai dua bayangan itu lenyap, kemudian menghela napas dengan penuh duka sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Sungguh tak dia sangka bahwa hari ini nama besarnya, juga nama besar Tiat-ciang-pang akan hancur hanya oleh seorang bocah yang tak ternama! Dengan hati penuh penasaran dan dendam terhadap Keng Hong, Kim-to Lai Ban segera menyuruh para anak buahnya mengangkut empat jenazah itu dan membawa pergi dari tempat itu.


Dia maklum bahwa mengejar pemuda itu takkan ada gunanya. Sudah dia saksikan betapa ilmu berlari cepat pemuda itu amat hebatnya ketika mengejar si kakek bongkok, bagaikan terbang saja. Dan ilmu kepandaiannya pun mukjijat. Belum lagi diingat kakek bongkok itu yang juga memiliki kesaktian.

__ADS_1


Biarlah untuk sekali ini Tiat-ciang-pang boleh mengaku kalah, akan tetapi urusan ini tidak akan habis sampai di situ saja! Pada suatu saat, dendam ini harus terbalas! Demikianlah tekad hati Lai Ban sambil mengiring jenazah ke empat orang kawan, atau lebih tepat, dua orang sute dan dua orang anak buah itu kembali ke pusat Tiat-ciang-pang yang berada di sebuah di antara puncak-puncak pegunungan Bayangkara&.


__ADS_2