
Memang suara-suara mukjijat tidaklah begitu hebat pengaruhnya terhadap mereka yang tidak mengerti sama sekali, hanya menimbulkan suara tidak enak yang menusuk-nusuk telinga, dan getaran itu hanya membuat kaki menggigil dan lemas.
"Dasar manusia-manusia iblis!" Keng Hong menjadi marah karena rasa tidak enak pada telinganya hampir tak tertahankan olehnya.
Dia teringat akan sulingnya, maka dengan gemas dan marah dia lalu meniup sulingnya. Suara-suara itu begitu bising dan amat tidak enak didengar, pikirnya. Maka lebih baik aku memperdengarkan suara suling yang merdu untuk mengusir suara tidak enak! Pendapat secara ngawur ini segera dilaksanakan dan tak lama kemudian, suara-suara bising tidak enak itu sudah bercampur dengan suara tiupan sulingnya.
Bocah ini memang seorang ahli meniup suling yang berbakat. Tapi karena tidak ada yang membimbing, maka dia merupakan peniup murid alam! Dia dapat menirukan suara-suara yang didengarnya. Kalau hatinya senang, tiupannya mengandung suara yang gembira ria dan tentu terasa oleh siapa pun juga yang mendengarnya. Kalau dia berduka atau marah, suara sulingnya tentu membawa getaran perasaannya ini tanpa disadarinya.
Sekarang ia sedang marah, maka suara sulingnya juga penuh kemarahan, bergelora dan membubung tinggi, melengking-lengking bagai bocah rewel menangis. Akan tetapi akibat terpengaruh oleh bunyi-bunyi lain, kepandaiannya yang timbul dari bakatnya membuat dia meniru suara-suara itu sehingga terdengarlah suara suling yang amat aneh.
Kadang-kadang meniru suara berkeritik kuku-kuku Ang-bin Kui-bo, kadang-kadang seperti menggerengnya tenggorokan Pak-san Kwi-ong dan sering kali mengarah suara tambur di tangan Pat-jiu Sian-ong! Hiruk-pikuk tak karuan, akan tetapi justru kekacauan inilah yang mengacau pula daya tekan dan daya serang rangkaian tiga suara yang dikeluarkan oleh Bu-tek Sam-kwi!
Setelah meniup sulingnya untuk menyatakan kemarahannya terhadap suara-suara bising yang tak sedap didengar itu, Keng Hong merasa kekuatannya pulih kembali. Ia kemudian mengangkat muka memandang dan melihat betapa kakek tua renta yang duduk bersila itu kini tidak lagi menggigil sungguh pun wajahnya masih pucat.
Sepasang mata kakek itu ditujukan kepadanya, hanya sekilas pandang, akan tetapi Keng Hong dapat merasa betapa pandang mata kepadanya itu penuh kagum, rasa syukur dan gembira! Hal ini menimbulkan kegembiraan di dalam hatinya.
__ADS_1
Keng Hong bukan seorang anak bodoh. Tidak, sebaliknya malah. Dia sangat cerdik dan biar pun dia tidak mengerti mengapa demikian, namun dia dapat menduga bahwa suara sulingnya tadi sudah membantu kakek ini! Kegembiraannya membuat dia bertekad untuk mengacau terus suara-suara bising yang keluar dari tiga orang manusia iblis itu.
Setelah meniup sulingnya makin keras dan makin kacau, tiba-tiba ia menghentikan tiupan sulingnya untuk diganti dengan suara nyanyian yang nyaring. Bocah ini memang memiliki suara yang nyaring dan cukup merdu. Akan tetapi karena dia ingin mangejek orang-orang yang mengganggu kakek tua itu, dia teringat akan bunyi ujar-ujar dalam kitab-kitab kuno yang dibacanya, yang kini dia lupa lagi entah dari kitab mana. Kemudian dia menyanyikan ujar-ujar itu dengan lagu yang dikarangnya sendiri sejadi-jadinya:
Mengerti akan orang lain adalah bijaksana pikirannya,
mengerti akan diri pribadi adalah waspada batinnya!
Menaklukkan orang lain adalah perkasa tubuhnya,
Merasa puas dengan keadaannya berarti kaya raya,
memaksakan kehendak kepada orang lain berarti nekat!
Tahan tanpa derita berarti terus berlangsung,
__ADS_1
mati tapi tidak musnah berarti panjang usia!
Karena banyak membaca kitab-kitab kuno tanpa mengerti betul maknanya, bocah ini lupa bahwa yang tadi dinyanyikannya adalah ujar-ujar dalam kitab To-tik-kheng yang menjadi pegangan penganut Agama To, dan tidak tahu bahwa ujar-ujar itu mengandung makna yang amat dalam. Akan tetapi sebagian dari pada kata-kata itu kena betul dan mengejek mereka semua yang berada di sana, tidak hanya tiga orang manusia iblis, bahkan juga sembilan orang sakti yang kini sudah tidak lagi terpengaruh suara-suara tiga iblis yang dikacau oleh Keng Hong dan yang mendengarkan dengan mata terbelalak.
Mereka ini, sembilan orang gagah tokoh kang-ouw, mengerti bahwa jiwa Sin-jiu Kiam-ong sudah tertolong. Tadinya, setelah tiga orang iblis itu menambah serangan mereka dengan suara-suara menekan, kakek itu telah terdesak amat hebat dan sewaktu-waktu pasti akan roboh binasa. Kini, karena suara itu diganggu, Sin-jiu Kiam-ong kembali dapat menekan mereka tiga orang lawannya.
Tiga orang iblis itu marah sekali. Mereka menghentikan suara mereka dan sambil berseru marah mereka itu lantas meloncat ke depan, menubruk Sin-jiu Kiam-ong. Kakek ini dalam keadaan masih bersila mengeluarkan seruan panjang pula. Tubuhnya mencelat ke atas menyambut terjangan ke tiga orang lawan.
Pertemuan hebat terjadi di udara dan terdengar suara nyaring bertemunya senjata yang disusul dengan jeritan kesakitan tiga orang manusia iblis itu yang terpelanting ke kanan kiri. Kakek itu pun melayang turun lagi dan berdiri tegak dengan pedang Siang-bhok-kiam di tangan.
Tiga orang manusia iblis itu pucat wajahnya, kulit leher mereka bertiga lecet dan terluka oleh guratan Siang-bhok-kiam. Setelah memandang sejenak, mereka cepat membalikkan tubuh dan dengan hanya beberapa kali loncatan saja ketiganya sudah lenyap dari tempat itu. Kiranya mereka kini menjadi jeri karena maklum bahwa mereka bertiga tidak akan dapat menenangkan Sin-jiu Kiam-ong sungguh pun selisihnya hanya sedikit saja. Mereka menyesal mengapa tidak mengundang Lam-hai Sin-ni (Wanita Sakti Laut Selatan) yang menjadi orang keempat dari Bu-tek Su-kwi!
Setelah tiga orang manusia iblis itu lenyap dari tempat itu, Sin-jiu Kiam-ong menarik nafas panjang dan tiba-tiba dia terhuyung-huyung lalu roboh! Dengan gerakan lemah kakek ini lalu bangkit dan duduk bersila, wajahnya pucat, napasnya terengah-engah dan tiba-tiba dari mulutnya menetes-netes darah segar!
Melihat keadaan kakek ini, sembilan orang tokoh sakti itu maklum bahwa Sin-jiu Kiam-ong sudah terluka parah dan mereka melihat kesempatan yang sangat baik untuk merampas pedang Siang-bhok-kiam yang kini masih berada di dalam genggaman Sin-jiu Kiam-ong. Agaknya mereka sudah dapat menerka isi hati masing-masing, karena seperti mendapat komando, sembilan orang itu lalu bergerak maju menghampiri Sin-jiu Kiam-ong.
__ADS_1
Terdengar kakek itu tertawa di balik batu, kemudian berkata, "Ha-ha-ha...! Kalian hendak mengambil Siang-bhok-kiam? Sudah kukatakan, aku tidak akan melawan, apa lagi dalam keadaan seperti ini... uh-huh... Bu-tek Sam-kwi betul-betul tangguh... Nah, ambillah siapa yang berjodoh...!" Ia menancapkan pedang kayu itu di depannya di atas tanah.