Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 07 part 5


__ADS_3

Ibu dan anak itu sama sekali tidak tahu betapa Ang-kiam Tok-sian-li memandang ke arah Biauw Eng dengan sinar mata aneh, seolah-olah mengeluarkan api yang akan membakar seluruh tubuh gadis baju putih itu. Tidak tahu pula betapa diam-diam Bhe Cui Im pergi meninggalkan tempat itu dengan sikap aneh dan berkali-kali melirik ke arah Biauw Eng dengan sinar mata penuh kebencian!


Sesaat kemudian, Lam-hai Sin-ni membuka matanya dan melihat puterinya menangis di depanya, ia menghela napas panjang dan berkata halus sambil mengelus rambut kepala puterinya.


"Eng-ji, hukum karma selalu mengikuti kita..."


Biauw Eng memeluk ibunya dan tangisnya semakin memilukan. Sesungguhnya, gadis ini tidak mewarisi watak ibunya, tidak sedingin yang dia perlihatkan. Gadis ini perasa sekali, penuh semangat dan menatap dunia dengan sepasang mata yang penuh kegembiraan, bisa dengan mudah menangkap semua keindahan pada tiap benda yang dipandangnya, yang didengarnya, yang diciumnya.


Akan tetapi, oleh karena semenjak ia kecil ia sudah digembleng oleh Lam-hai Sin-ni untuk mengekang perasaan, untuk meniru sifatnya yang dingin bagai es, maka Song-bun Siu-li Sie Biauw Eng ini menjadi seorang gadis yang aneh dan dingin. Dingin paksaan, pada lahirnya saja, seperti sebuah gunung berapi yang diliputi salju.


Inilah sebabnya mengapa sekali jatuh cinta, ia menjadi nekat dan berani mengaku secara terus terang dan bahkan berani membela kekasihnya dengan melawan ibunya! Biar pun diselimuti salju, kalau gunung es itu meletus, tak akan ada yang dapat menahannya!


"Ibu..., kau ampunkan anakmu yang put-hauw (tak berbakti) ini..."

__ADS_1


Lam-hai Sin-ni kembali menghela napas. "Menanam bibit apel, maka memetik buah apel, menanam pohon korma, maka memetik buah korma. Aku dulu menentang ayahku karena cinta, kini engkau menentang aku karena cinta. Semua ini sudah adil...!"


Biauw Eng mengangkat mukanya memandang muka ibunya dan baru sekali ini ia melihat betapa wajah ibunya membayangkan sesuatu, membayangkan kedukaan hebat! Dan baru sekarang pula ia mendengar ibunya menyebut-nyebut keluarganya. Biasanya ibunya tak pernah bercerita, hanya menyatakan bahwa ayahnya adalah Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong yang akhir-akhir ini menjadi terkenal sekali.


Bahkan pedang pusaka Siang-bhok-kiam ayahnya itu lalu menjadi rebutan semua orang gagah di dunia kang-ouw karena Pedang Kayu Harum itu menjadi kunci rahasia tempat penyimpanan benda-benda pusaka yang dikumpulkan oleh ayahnya itu baik dengan jalan mencuri, merampas, atau diberi orang. Ketika dia pernah bertanya mengapa ayah dan ibunya berpisah, ibunya hanya menjawab dingin,


"Dia seorang laki-laki yang tidak setia! Semua laki-laki di dunia ini tidak ada yang setia! Karena itu, jangan kau mudah menjatuhkan cinta kasihmu kepada laki-laki, Eng-ji! Sekali cinta kasihmu jatuh, engkau akan menderita!"


Sekarang ibunya menyebut-nyebut mengenai ayah dari ibunya atau kakeknya, karena itu dengan perasaan ingin tahu sekali dia bertanya,


"Tidak hanya menentang, bahkan aku... membunuhnya..."


"Ibu...!!"

__ADS_1


"Ya! Memang aku telah membunuhnya! Membunuhnya karena cinta! Apakah engkau tadi juga tidak ingin membunuhku, Eng-ji?"


"Ibu...!" Dan Biauw Eng menangis lagi sambil merangkul ibunya.


"Cinta memang membuat manusia, terutama wanita seperti kita ini, menjadi gila, Eng-ji." Lam-hai Sin-ni menghelus-elus kepala puterinya. "Tadi aku amat marah kepadamu. Sakit hatiku melihat betapa engkau mencinta seorang pemuda sehingga rela kau melawanku, rela menyerangku untuk menyelamatkannya, menyerang untuk membunuh ibunya sendiri. Akan tetapi aku teringat akan keadaan diriku di waktu muda, dan aku dapat memaklumi perasaanmu, anakku. Aku tahu betapa cinta membuat mata kita seperti buta. Aku dahulu pun mencinta Sie Cun Hong. padahal aku seorang puteri terhormat, ayahku seorang yang sangat berkuasa dan berpengaruh di selatan, seakan-akan menjadi seorang raja muda, dan... dan Sie Cun Hong terkenal sebagai seorang pria mata keranjang yang mempunyai ratusan, bahkan ribuan orang kekasih! Akan tetapi aku nekat, bahkan pada waktu ayahku melarang aku melawannya. Aku sudah menerima beberapa macam ilmu pukulan sakti dari Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong, sehingga dalam pertempuran yang didorong oleh marah itu, aku kelepasan tangan, membunuh ayahku sendiri...!"


"Ahhh, Ibu..." Biauw Eng menjadi kasihan sekali kepada ibunya.


Dalam keadaan seperti itu, ibu dan anak ini benar-benar amat berbeda dengan keadaan biasanya. Andai kata Cui Im tidak diam-diam pergi meninggalkan mereka, gadis itu tentu akan lebih bengong terheran-heran menyaksikan ibu dan anak itu bercakap-cakap dengan penuh kemesraan dan keharuan seperti itu. Biasanya, ibu dan anak itu seperti dua buah arca es yang dapat bergerak!


"Kemudian, Sie Cun Hong lelaki tak setia itu tidak mau menikah denganku, seperti yang ia lakukan terhadap ribuan orang wanita lain. Sedangkan aku telah mengandung engkau, Eng-ji. Kami bertengkar, atau lebih tepat, aku memusuhinya, akan tetapi dia terlampau sakti. Sampai belasan tahun aku belajar ilmu, puluhan tahun aku menggembleng diri sehingga menjadi tokoh utama di selatan, akan tetapi tetap saja aku belum pernah dapat menangkan dia. Karena itu, aku ikut pula berusaha mendapatkan pusaka-pusakanya. Kini dia sudah mati, dan pusakanya itu seharusnya jatuh ke tanganmu, karena engkau adalah keturunannya, engkau puterinya. Itulah sebabnya aku hendak memaksa muridnya tadi menyerahkan Siang-bhok-kiam! Ketika mendengar pedang itu terjatuh ke tangan para tosu Kun-lun-pai, aku menjadi mendongkol dan marah, apa lagi melihat bahwa Sie Cun Hong agaknya sudah menurunkan Ilmu Thi-khi I-beng kepadanya, padahal dahulu aku hanya menerima petunjuk itu sedikit saja... aku menjadi benci kepada muridnya. Juga kulihat pandang mata dan gerak bibir bocah itu sama benar dengan keadaan Sie Cun Hong di waktu muda. Dia pun seorang laki-laki yang tidak setia. Akan tetapi kau... kau sudah… jatuh cinta kepadanya!"


Biauw Eng menarik napas panjang. Sungguh hebat riwayat ibunya itu. "Ibu, aku sendiri hanya menduga saja bahwa aku mencinta dia, karena perasaan hatiku jadi aneh, aku ingin membelanya, aku tidak suka melihat dia terbunuh. Hal ini timbul dalam lubuk hatiku ketika dia menyelamatkan aku dari pada ancaman Ang-bin Kwi-bo. Sejak detik itu aku... aku suka kepadanya, aku tidak ingin terpisah darinya... ahh, benarkah ini adalah cinta, Ibu?"

__ADS_1


"Hukum karma... hukum karma...! Aku sendiri dahulu pun mencinta Sie Cun Hong karena pertama-tama dia menolongku dari perkosaan Go-bi Jit-kwi (Tujuh Orang Setan Go-bi)."


__ADS_2