Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 04 part 5


__ADS_3

Cui Im mengeluarkan sebuah guci arak kecil dari balik bajunya, membuka tutupnya dan terciumlah bau yang sangat wangi, seperti puluhan macam bunga wangi dikumpulkan di dalam guci arak itu. Keng Hong tidak banyak cakap lagi, namun dia haus dan bau arak itu amat sedap. Ia menerima guci itu dan menodongkan ke mulutnya.


"Racun atau obat penawar?" tanyanya sebelum minum.


Cui Im makin kagum. Di dunia ini tak mungkin menjumpai orang seperti pemuda ini, yang sedemikian tenang dan dinginnya menghadapi ancaman racun, padahal pemuda itu telah mengenal namanya sebagai Tok-sianli (Dewi Beracun)! Hebat bukan main!


"Kalau arak ini beracun, bagaimana?" Ia bertanya, memancing.


"Racun pun boleh, asal enak diminum. Aku sudah diracuni, bila ditambah lagi sedikit atau banyak apa bedanya?" Jawab Keng Hong lalu meminum arak itu dari guci.


Lidahnya segera dapat merasa bahwa di dalam arak ada racunnya, akan tetapi racun ini berbeda dengan racun tadi. Racun yang berada di dalam arak ini racun yang amat halus, bahkan bukan racun cair karena begitu diminum, racun itu menjadi segumpal hawa yang harum.


Dia tidak tahu racun apa ini, akan tetapi dia mengerahkan sinkang-nya menerima racun itu dan membiarkan gumpalan hawa wangi itu berkumpul di dalam dadanya. Setelah guci kecil itu kosong, baru dia mengembalikannya kepada Cui Im, kemudian mengusap mulut dengan ujung lengan bajunya.


Cui Im memandang dengan mata terbelalak, kemudian tersenyum-senyum ketika melihat pemuda itu menyandarkan diri di batang pohon dan meramkan mata seperti orang sangat mengantuk. Dia percaya penuh akan kemanjuran racun araknya dan mengharapkan hasil sekali ini.

__ADS_1


Arak yang dicampur racun itu amatlah kuatnya dan merupakan arak buatan gurunya yang ampuh sekali. Bukan racun untuk membunuh, melainkan racun untuk pembangkit birahi, racun perangsang yang dibuat dari beberapa macam lalat dan semut kemudian dicampur sari bunga-bunga wangi.


Dengan cara pembuatan yang sederhana, penduduk di kepulauan selatan menggunakan sebagian kecil saja untuk meracuni kuda yang hendak dikawinkan. Tanpa racun ini, sukar sekali untuk mengawinkan kuda betina. Kini, yang diminumkan oleh Cui Im kepada Keng Hong merupakan inti sarinya, kerasnya bukan main dan kiranya cukup untuk pembangkit nafsu birahi dua puluh ekor kuda! Mantap…!


Keng Hong yang meramkan mata itu sebenarnya tidak tidur. Dia mendengarkan semua gerak-gerik Cui Im yang menurut pendengarannya seperti orang gelisah. Akan tetapi dia tidak peduli dan meramkan mata, mengheningkan cipta dan mengerahkan sinkang untuk menahan gumpalan hawa beracun yang aneh itu.


Ia tahu bahwa racun ini amat berbahaya, biar pun dia tidak tahu bagaimana bahayanya. Tubuhnya menjadi panas, padahal racun itu masih tertahan olehnya. Ia menanti saat baik untuk menghembuskan keluar racun itu di luar tahu Cui Im, karena dia pun hanya ingin melihat apa yang akan dilakukan gadis itu selanjutnya.


Akan tetapi, apa yang akan dihadapinya sungguh di luar dugaannya sama sekali. Lewat tengah malam, Keng Hong yang mengantuk itu tiba-tiba saja mendengar panggilan yang mesra dan halus, dibisikkan dekat telinganya.


"Keng Hong..., ahhh, Keng Hong...!"


Keng Hong membelalakkan matanya, mulutnya ternganga dan dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika pada saat itu Cui Im mencium mulutnya yang sedang ternganga itu sehingga mulut mereka bertemu seperti guci arak dengan sumbatnya.


Karena kaget, Keng Hong mengeluarkan suara dari dadanya, "Ahhh…!"

__ADS_1


Dan... segumpal hawa racun wangi yang telah dia kumpulkan dan tahan dengan kekuatan sinkang kini sudah terhembus keluar, memasuki mulut Cui Im yang terbuka dan langsung ke dalam dada gadis itu.


"Aiiihhhh...!" Cui Im menjerit dan terjengkang ke belakang. Ia terbatuk-batuk, memegangi leher yang serasa tercekik, tubuhnya mengeliat-geliat seperti seekor ular terkena api.


Keng Hong memandang dengan mata terbelalak, setengah kasihan, setengah geli bahwa tanpa disengaja racun itu meracuni Cui Im sendiri, juga setengah kagum menyaksikan betapa tubuh yang indah itu mengeliat-geliat seperti itu.


Harus dia akui bahwa selama hidupnya belum pernah dia menyaksikan keindahan tubuh seperti tubuh Cui Im. Dalam mimpi pun tidak pernah. Kini barulah dia mengerti mengapa mendiang Sin-jiu Kiam-ong, suhu-nya itu, dikatakan mata keranjang dan tukang memikat wanita.


Kiranya tubuh indah serta wajah cantik seperti yang dimiliki Cui Im inilah yang membuat suhu-nya menjadi seperti itu. Hati pria mana takkan tertarik? Bukankah keindahan wanita memang khusus diciptakan untuk menarik hati pria? Kerbau, kuda, burung dan segala macam binatang tentu akan tertarik dengan keindahan wajah dan tubuh seorang wanita!


"Tamasya alam yang indah memang minta kita pandang dan kagumi. Kembang-kembang cantik wangi memang minta kita pandang dan ciumi. Wanita-wanita cantik jelita memang minta kita cinta dengan kasih mesra. Engkau bahagia dalam hidupmu kalau tidak terjerat cinta kasih yang mendalam, muridku. Sekali terjerat, engkau akan menikah, dan sekali engkau menikah, berarti engkau memberikan kaki tanganmu untuk diikat selama-lamanya dengan kewajiban-kewajiban! Karena itu jauhkan dirimu dari pada ikatan cinta kasih yang mendalam, walau pun engkau telah berhubungan dengan banyak wanita. Kalau memang engkau suka, jangan menolak cinta wanita, hanya jangan berikan hatimu, jangan berikan cinta kasihmu, cukup kau berikan tubuhmu." Demikianlah pernah dia mendengar nasehat gurunya yang terkenal sebagai seorang pemikat wanita!


Tadinya wejangan seperti itu hanya lewat saja di hatinya sebab belum terpikirkan olehnya bahwa dia akan menghadapi hal-hal seperti itu, tidak terpikirkan olehnya bahwa dia akan bertemu dengan wanita-wanita hingga timbul persoalan cinta kasih. Akan tetapi sekarang, baru saja dia turun dari Kiam-kok-san, dia telah bertemu dengan hal yang dikatakan oleh suhu-nya itu!


Kini Cui Im sudah tidak menggeliat-geliat lagi laksana cacing kepanasan. Gadis itu masih terengah-engah dan memegangi lehernya, kemudian mengangkat mukanya memandang Keng Hong. Rambutnya yang terurai itu sebagian menutupi wajahnya. Mukanya merah sekali, bibir dan rongga mulutnya yang agak terbuka lebih merah lagi, matanya menatap penuh gairah, hidungnya berkembang-kempis seakan-akan liangnya terlalu sempit untuk jalan keluar pernapasan.

__ADS_1


"Keng Hong... Ah-ahhh... Keng Hong..."


Cui Im yang tadinya berlutut itu kini merangkak maju menghampiri Keng Hong, kemudian menubruk pemuda itu, merangkul dan menciumi sambil membisikan kata-kata yang tidak ada artinya, kemudian tangannya meraba-raba ke arah kancing pakaian Keng Hong.


__ADS_2