Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 06 part 3


__ADS_3

Sembilan orang anak murid Kong-thong-pai itu marah sekali karena nama baik guru-guru mereka dicela terang-terangan oleh pemuda yang masih ingusan ini. Akan tetapi karena mereka mengerti bahwa melawan tak akan ada gunanya, mereka lalu membalikkan tubuh dan pergi meninggalkan tempat itu sambil membantu kawan-kawan mereka yang terluka.


"Bagus… bagus, Keng Hong! Engkau telah memberi tamparan dengan kata-kata kepada orang-orang yang mengaku sebagai golongan pendekar-pendekar itu, golongan suci, dan golongan bersih, hi-hi-hik!" Cui Im berkata girang sambil merangkul pundak pemuda itu dengan sikap manja memikat.


"Cukup, Suci! Kita lanjutkan perjalanan!" terdengar Biauw Eng berkata, suaranya dingin dan sikapnya seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.


"Kereta sudah hancur oleh setan-setan itu, semua kuda binasa oleh Keng Hong. Wah, kita harus melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki, padahal masih amat jauh!" kata Cui Im dengan wajah jengkel. Akan tetapi gadis ini lalu tertawa memandang Keng Hong.


"Keng Hong, perjalanan masih jauh dan kita harus berjalan kaki. Menggunakan ilmu lari cepat memang tidak kalah dengan berkuda atau berkereta, akan tetapi amat melelahkan. Bagaimana kalau kita saling gendong? Bergantian, kan enak? Kalau sumoi mau, biarlah aku mengalah dan kau lebih dulu menggendong sumoi..."


"Suci, diam! Bukan waktunya untuk main-main!" bentak Biauw Eng dengan suara dingin dan ketus sehingga Cui Im tidak berani lagi membuka mulut.


"Nona berdua tak perlu repot-repot karena perjalanan bersama kita hanya sampai di sini. Aku tidak dapat menemani kalian lebih lama lagi," kata Keng Hong dengan suara tenang. "Sudah cukup aku mendatangkan kerepotan dan bahaya kepada kalian, karena aku tahu bahwa selama nona berdua melakukan perjalanan bersamaku, tentu akan menghadapi bahaya serangan orang-orang kang-ouw yang kini seolah-olah memperebutkan aku."

__ADS_1


"Ahhh...!" Cui Im mengeluarkan suara kecewa dan lenyap pula sikap gadis ini yang manis tadi, bahkan tangan kanannya bergerak mencabut pedangnya.


"Cia Keng Hong, engkau harus ikut bersama kami dan menghadap ibuku, Lam-hai Sin-ni, mau atau tidak, hidup atau mati!" Suara Song-bun Siu-li Sie Biauw Eng terdengar tegas dan mengandung ancaman yang mengerikan.


Berbeda dengan Cui Im yang sudah mencabut pedangnya, gadis berbaju putih ini masih berdiri tenang, belum mengeluarkan senjata, bahkan sikapnya masih biasa, hanya kedua matanya yang mengeluarkan sinar penuh ancaman maut.


Keng Hong menggelengkan kepalanya. "Tadinya memang aku berniat untuk menghadap Lam-hai Sin-ni dan niat itu terdorong oleh rasa terima kasihku terhadap Sie-siocia yang telah menyelamatkan nyawaku dari ancaman pedang Cui Im. Akan tetapi, tadi pada saat nona dikeroyok, aku sudah membantumu dan berarti aku sudah pula menyelamatkanmu, dengan demikian hutangku telah kubayar lunas. Karena itu, kini aku telah bebas dan aku tidak berniat lagi untuk ikut bersama Ji-wi menghadap Lam-hai-Sin-ni!"


Setelah berkata demikian, Keng Hong mengangkat tangan ke depan dada dan memberi hormat, kemudian membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan dua orang gadis yang tertegun penuh kekecewaan.


Pengalaman-pengalaman pahit telah membuat Keng Hong berhati-hati sekali menghadapi Cui Im. Mendengar desing senjata yang menyerangnya, Keng Hong cepat memiringkan tubuh sehingga sinar merah meluncur lewat di samping lehernya, kemudian mengangkat tangannya yang dikibaskan ke arah pedang dan tangan yang memegang pedang.


Hawa pukulan yang amat kuat mendorong pedang dan tangan Cui Im dari bawah. Gadis itu maklum akan lihainya tangan Keng Hong, cepat menarik tangannya namun masih saja tangannya terdorong ke samping begitu kerasnya sehingga tubuhnya ikut terdorong dan hampir dia terpelanting kalau tidak cepat meloncat menjauhi Keng Hong ke sebelah kiri.

__ADS_1


"Kau tahu, aku tak ingin bermusuhan denganmu, Cui Im," kata Keng Hong. "Harap kalian suka membiarkan aku pergi."


Akan tetapi dengan muka merah karena marahnya, Cui Im sudah siap menerjang lagi. Sekarang tangan kirinya mencabut keluar sehelai sapu tangan merah, sapu tangan yang mengandung bubuk beracun dan yang pernah merobohkan Keng Hong.


Sambil berteriak keras Ang-kiam Tok-sian-li Bhe Cui Im maju menerjang lagi, pedangnya diputar menjadi sinar pedang merah bergulung-gulung seperti seorang penari selendang sutera merah, kemudian ia menerjang Keng Hong dengan bacokan bertubi-tubi mengikuti perputaran pedang.


Keng Hong sudah siap dan waspada karena maklum bahwa bahaya besar mengancam dirinya, bukan dari pedang itu melainkan terutama sekali dari sapu tangan merah. Maka dia segera menghindarkan diri dari terjangan pedang itu dengan meloncat cepat ke kanan.


Cui Im sudah menduga akan hal ini, bahkan sudah siap-siap. Begitu tubuh Keng Hong berkelebat ke kanan, tangan kirinya langsung bergerak dan tiga batang jarum menyambar dari dalam sapu tangannya ke arah sepasang mata dan tenggorokan Keng Hong.


Pemuda yang berilmu tinggi tetapi belum banyak pengalamannya dalam pertandingan ini terkejut, cepat merendahkan tubuhnya setengah berjongkok sambil mengibaskan tangan kirinya ke atas sehingga tiga batang jarum itu terlempar entah ke mana. Akan tetapi pada saat yang memang sengaja diciptakan Cui Im ini, sinar merah dari sapu tangan sudah menyambar ke arah muka Keng Hong, didahului oleh asap kemerahan dari bubuk racun berwarna merah.


Semenjak menjadi murid Sin-jiu Kiam-ong, Keng Hong setiap hari diberi minuman racun sedikit demi sedikit oleh Kiam-ong sehingga dari mulut sampai ke perutnya, Keng Hong mengenal segala macam racun, bahkan sudah menjadi kebal. Akan tetapi dia tidak kebal jika menghadapi hawa beracun berupa asap atau bubuk yang tersedot melalui hidung dan menyerang paru-paru.

__ADS_1


Pengalamannya ketika dia roboh oleh racun sapu tangan merah itu membuat dia menjadi waspada. Walau pun saat itu dia baru saja lolos dari cengkeraman maut yang dibawa jarum-jarum itu sedangkan posisi tubuhnya setengah berjongkok sehingga sukar baginya untuk mengelak, dia masih ingat akan bahaya ini.


Maka dia telah menyedot napas dalam-dalam kemudian menutup saluran pernapasannya dan begitu gadis itu menubruk sambil mengebutkan sapu tangan ke arah mukanya, dia meniup ke arah sapu tangan itu dengan pengerahan tenaga lweekang. Sapu tangan itu tiba-tiba saja membalik ke arah Cui Im sendiri tanpa mampu dicegah lagi oleh gadis ini yang menjadi terkejut dan menjerit.


__ADS_2