Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 08 part 7


__ADS_3

Akan tetapi untung baginya bahwa gemblengan mendiang gurunya ditekankan kepada sinkang dan ginkang sehingga tubuhnya yang mengelak dan meloncat ke sana-sini itu jauh lebih cepat dari pada gerakan para pengeroyoknya sehingga mereka menjadi bingung karena bagi mereka, tubuh pemuda itu seperti lenyap dan berkelebatan seolah-olah pemuda itu telah berubah menjadi sesosok bayangan yang sukar diserang.


Melihat betapa dengan mudah dan leluasa dia dapat bergerak di antara pengeroyoknya yang menurut pandangannya bergerak sangat lambat itu, timbul kegembiraan di hati Keng Hong. Baru sekarang dia mengerti kenapa suhu-nya dahulu menekankan latihan sinkang dan ginkang.


Kiranya, waktu yang amat pendek ketika dia belajar dahulu telah diisi dengan dasar dari pada syarat utama dalam ilmu silat, yaitu kecepatan gerakan dan kekuatan dalam. Kini, setelah dengan mudah dia dapat menghindarkan semua serangan dengan mengandalkan kecepatan gerakannya, dia mulai balas menyerang dan alangkah mudahnya merobohkan mereka itu. Dengan satu kali tamparan atau tendangan saja dia telah mampu merobohkan seorang pengeroyok.


Keng Hong lalu mengamuk. Walau pun dipandang oleh mata orang lain dia dikeroyok dan dikepung, namun kenyataannya, seorang demi seorang dari para pengeroyoknya dapat dia robohkan dan makin lama pengeroyokan itu menjadi makin kacau.


Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan para pengeroyok yang sudah kehilangan tujuh orang teman yang sudah dirobohkan Keng Hong. Para pengeroyok yang berada di sebelah luar berjatuhan dan dalam sekejap mata saja ada lima orang roboh!


Keng Hong melirik dan pandang matanya yang tajam hanya bisa melihat sinar-sinar putih berkelebatan. Maka, maklumlah dia bahwa ada orang yang sudah membantunya dengan menggunakan senjata rahasia untuk merobohkan para pengeroyok.


Dia menjadi gembira dan kembali dua orang dapat dia robohkan dengan tamparan kedua tangannya. Para pengeroyok menjadi makin panik dan akhirnya mereka itu melarikan diri pontang-panting, meninggalkan teman-teman yang tewas atau terluka.


"Sahabat baik yang telah membantu, harap suka keluar!" Keng Hong berteriak memanggil setelah semua pengeroyoknya pergi. Tetapi tidak ada jawaban, juga tidak tampak gerakan di balik pohon-pohon. Keadaan sunyi sekali, kecuali suara merintih yang keluar dari mulut mereka yang terluka.


"Dia sudah pergi, In-kong..."


Keng Hong membalikkan tubuhnya, melihat bahwa Ciang Bi telah berdiri di ambang pintu kuil dengan pandang mata penuh kagum dan bersyukur kepadanya. Sekarang gadis itu menyebutnya ‘in-kong’ (tuan penolong).


"Dia siapa, Nona?"

__ADS_1


"Entahlah, akan tetapi aku melihat berkelebatnya bayangan seorang wanita berpakaian putih di balik pohon sana. Dia membantumu dengan cara bersembunyi, tentunya kini telah pergi. Tentu In-kong mengenal dia."


Berdebar jantung Keng Hong. Gadis baju putih yang lihai? Siapa lagi kalau bukan Biauw Eng? Ia menghampiri lima orang pengeroyok yang tadi roboh dan melihat bahwa mereka ini telah tewas, pelipis mereka remuk oleh bola-bola putih berduri yang dia kenal sebagai senjata rahasia Biauw Eng!


Ahhh, kembali gadis itu telah menolongnya. Akan tetapi mengapa harus menolong sambil bersembunyi? Mengapa tidak menemuinya?


"In-kong tentu mengenal gadis yang lihai itu, bukan?"


Keng Hong mengangguk, kemudian bertanya, "Bagaimana dengan adikmu?"


Gadis itu memandang penuh rasa terima kasih. "Berkat pertolonganmu, adikku telah turun panasnya. Berkat pertolonganmu, kami kakak beradik masih dapat bernapas sampai saat ini. Tidak tahu bagaimana kami akan dapat membalas budimu yang besar." Tiba-tiba saja gadis itu menjatuhkan diri berlutut.


Sekali meloncat, Keng Hong sudah tiba di depan gadis itu, memegang pundaknya dan mengangkatnya bangun. Darahnya berdesir ketika dia menyentuh kedua pundak itu. Dari luar baju dia dapat merasakan alangkah halusnya kulit pundak itu. Cepat dia melepaskan kedua tangannya sesudah Ciang Bi bangkit berdiri.


"Jangan memberi penghormatan secara berlebihan, Nona. Telahkukatakan bahwa semua yang kulakukan bukanlah pertolongan, akan tetapi kewajiban. Sekarang kita harus cepat pergi dari sini. Tempat ini amat tidak baik dan tidak enak untuk tinggal di sini." Dia lantas memandang ke arah mayat-mayat dan orang-orang terluka. "Mari kita mencari tempat lain untuk merawat adikmu sampai sembuh."


Ciang Bi mengangguk dan Keng Hong lalu memasuki kuil. Sim Lai Sek, pemuda remaja berusia enam belas tahun itu, demamnya sudah turun dan hanya tubuhnya masih lemah. Ia tersenyum dan wajahnya yang pucat itu menyinarkan kekaguman saat dia memandang Keng Hong.


"Engkau hebat dan baik sekali..., Taihiap...," katanya lemah.


Keng Hong tak menjawab, hanya membungkuk dan memondongnya sambil berkata, "Kita harus pergi dan mencari tempat lain."

__ADS_1


Pemuda itu kelihatan sungkan. "Aku dapat berjalan sendiri, Taihiap."


"Engkau masih lemah dan kita perlu melakukan perjalanan cepat pergi dari tempat ini," kata Keng Hong yang segera lari dari kuil itu, diikuti oleh Ciang Bi.


Mereka berlari terus keluar dari hutan itu tanpa bercakap satu kata pun. Ciang Bi selalu tersenyum dan kadang-kadang melontarkan kerling penuh kagum dan bersyukur ke arah pemuda yang memondong adiknya. Keng Hong berlari sambil melamun karena pikirannya penuh dengan bayangan Biauw Eng yang dia anggap aneh sekali, menolongnya secara sembunyi-sembunyi dan tidak mau menemuinya.


Karena malam tiba, akhirnya mereka terpaksa menghentikan perjalanan. Untung mereka mendapatkan sawah ladang yang luas dan di sana terdapat beberapa buah gubuk kecil, tempat para petani berteduh dan menjaga sawah.


Sunyi senyap di tempat itu dan langit amat cerah. Meski pun malam itu tidak ada bulan, akan tetapi bintang-bintang memenuhi angkasa dan tidak ada satu pun bayangan pohon yang menggelapkan tempat itu.


Keng Hong merebahkan tubuh Lai Sek di dalam sebuah gubuk, kemudian dia pergi untuk mencari bahan makanan untuk mereka. Ada pun Ciang Bi menjaga adiknya yang masih amat lemah.


"Cici, dia baik sekali...," kata pemuda remaja itu kepada kakaknya setelah bayangan Keng Hong lenyap ditelan cuaca yang suram.


Gadis itu mengangguk, termenung sampai lama kemudian terdengar bisikan adiknya.


"Dia lihai sekali. Murid siapakah dia, Cici? Dari golongan mana?"


Gadis itu menggelengkan kepalanya sambil menarik napas panjang. Seluruh perasaannya terselimut dengan bayangan Keng Hong, rongga dada dan kepalanya penuh oleh pemuda penolongnya yang amat menarik hatinya itu.


"Aku tidak tahu..., kami belum sampai bicara tentang itu..."

__ADS_1


"Ehhh, mengapa begitu, Cici? Kita sudah ditolongnya, dibebaskannya dari ancaman maut sampai dua kali, bahkan dia terus menjaga serta merawatku. Kita harus tahu siapa dia, bagamana keadaannya dan dari golongan mana. Betapa pun juga, budi sebesar ini harus kita balas kelak. Bahkan kita harus melaporkan kepada suhu supaya Hoa-san-pai kelak dapat membalas budinya."


__ADS_2