
Arak beracun! Seorang wanita petani menjual seguci arak kepada Bwee Ceng! Seperti kemasukan setan Keng Hong meloncat dan lari memasuki dusun. Hari masih pagi sekali akan tetapi seperti kebiasaan dusun-dusun, sepagi itu para penduduk telah bangun.
Melihat Keng Hong berlari-lari, mereka semua merasa terkejut dan amat heran. Bukankah pemuda ini yang kemarin menjadi tawanan enam orang gagah yang bermalam di dalam kuil? Pemuda tampan ini tentulah seorang penjahat, maka menjadi tawanan enam orang pendekar itu.
"Siapa yang sudah menjual seguci arak kepada kami?" Keng Hong berteriak-teriak seperti orang gila.
Seorang wanita setengah tua dengan muka pucat dan mata terbelalak melangkah maju dan berkata, "Saya yang menjual seguci arak kepada mereka tadi pagi. Ada apakah orang muda? Arakku hanya ada seguci itu, kalau mau tambah lagi harus pergi ke kota..!"
Wanita itu menghentikan kata-katanya, berganti mengaduh-aduh sebab Keng Hong telah mencekeram lengannya. Tadinya pemuda ini mengira bahwa nenek yang telah meracuni mereka tentu mempunyai kepandaian lihai, akan tetapi ketika memegang lengannya dan mendapat kenyataan bahwa wanita ini tidak bisa apa-apa dan sangat lemah, dia segera mengendurkan cengkeramannya dan membentak,
"Lekas katakan! Dari mana engkau mendapat arak itu? Awas kalau membohong, kubunuh kau!"
Para penduduk dusun itu menjadi marah menyaksikan kekasaran Keng Hong terhadap seorang wanita. Mereka itu, yang laki-laki, sudah menyerbu sambil memaki, "Orang gila! Kenapa datang-datang mengamuk? Engkau adalah seorang tawanan, tentu seorang yang jahat!" Melayanglah pukulan dan tendangan ke tubuh Keng Hong.
Tapi pemuda ini tidak mempedulikan mereka semua dan tetap memegangi lengan wanita setengah tua yang menggigil ketakutan. Terdengar suara bak-bik-buk ketika serangan itu mengenai tubuh Keng Hong, disusul teriakan-teriakan mengaduh-ngaduh para penyerang itu sendiri karena kaki tangan mereka bertemu dengan tubuh yang kerasnya seperti baja!
"Dia setan...!"
"Siluman...!" teriakan-teriakan mereka yang mengaduh-ngaduh ini membuat suasana di situ menjadi gaduh sekali.
__ADS_1
"Saudara-saudara jangan bertindak sembrono!" Keng Hong berteriak lantang, "arak yang dijual oleh wanita ini mengandung racun karena semua sahabatku yang meminum arak itu kini mati semua!"
Mendengar penjelasan ini, orang-orang dusun itu menjadi pucat mukanya dan otomatis mereka melangkah mundur lalu memandang ke arah wanita itu dengan mata terbelalak. Wanita itu sendiri kemudian menjatuhkan diri berlutut sambil menangis.
"Aku tidak tahu apa-apa... Aku tidak tahu tentang arak dan tentang racun. Seguci arak itu aku terima dari seorang puteri dengan pesan supaya kuberikan kepada rombongan yang menginap di kuil... Dan… karena niocu (nona) itu berbaik hati memberi hadiah uang..., tentu kuterima…"
Keng Hong melepaskan cengkeraman tangannya dan mendorong tubuh wanita setengah tua itu yang terhuyung-huyung ke belakang sambil memegangi pergelangan tangan yang terasa nyeri, menangis dengan muka pucat.
"Lekas katakan, seperti apa macamnya nona yang memberi arak kepadamu itu?"
"Dia masih muda, cantik sekali bagaikan dewi... pakaiannya serba putih, suaranya halus dan..."
Pagi tadi, menyaksikan dua orang gadis Kong-thong-pai dilayani bercinta kasih oleh Keng Hong, dalam cemburunya gadis berwatak iblis itu lalu menyerang dengan senjata rahasia. Kemudian, karena ada Keng Hong yang menghalangi niat kejinya, dia lalu menggunakan racun secara keji dan cerdik sekali. Tentu gadis itu tahu bahwa Keng Hong kebal akan racun, akan tetapi enam orang Kong-thong-pai tidak!
"Biauw Eng, engkau sungguh jahat!" Keng Hong berkata dengan hati penuh penyesalan dan duka ketika dia tiba di dalam kuil dan berdiri memandang ke arah enam sosok mayat murid-murid Kong-thong-pai itu.
Dengan perasaan berat Keng Hong kemudian menggali lubang di pekarangan kuil dan menguburkan mayat-mayat itu. Setelah selesai dia meninggalkan kuil dan baru mendapat kenyataan bahwa banyak penduduk menonton dari jauh dan secara sembunyi-sembunyi. Ketika dia melangkah dekat, mereka melarikan diri dan terdengar suara mereka,
"Pembunuh...! Pembunuh keji…!"
__ADS_1
Keng Hong menghela napas panjang. Semua murid-murid Kong-thong-pai dibunuh Biauw Eng, dan kembali dialah yang tertuduh. Dia tak menyalahkan orang-orang dusun itu yang menuduhnya, dan ia merasa tak ada gunanya untuk memberi penjelasan kepada mereka. Semakin keras hasrat hatinya untuk cepat kembali ke Kiam-kok-san, di mana dia tak akan berhubungan lagi dengan dunia ramai, takkan terlibat segala urusan manusia yang hanya membuat kegetiran-kegetiran dan permusuhan. Dia berjalan terus mendaki lereng Pegunungan Kun-lun-san.
...********************...
Keng Hong berhenti melangkahkan kakinya dan memandang ke kiri dengan rasa kagum. Gadis itu, dia berani menduga bahwa bayangan tubuh ramping gesit itu tentulah seorang gadis, berlari dengan cepat sekali.
Tadinya jantungnya berdebar dan mukanya terasa panas karena mengira bahwa gadis itu Biauw Eng. Akan tetapi setelah agak dekat dan pakaian gadis itu hijau muda, tidak putih seperti pakaian Biauw Eng, dia menduga-duga. Jelas bukan Biauw Eng, bukan pula Cui Im, sungguh pun gerakan gadis itu menunjukkan ginkang yang sudah tinggi.
Yang jelas berbeda dan tampak dari jauh adalah cara gadis ini menyanggul rambutnya, disanggul tinggi di atas kepala seperti sebuah menara yang bergoyang-goyang ketika dia berlari cepat. Di punggungnya tampak sebatang pedang dalam sarung pedang merah.
Ketika gadis yang ternyata cantik manis dengan pandang mata tajam dan penuh gairah hidup itu tiba di dekat Keng Hong yang duduk di bawah pohon, gadis itu kelihatan kaget, akan tetapi dia bahkan langsung menghampiri Keng Hong. Sejenak gadis itu memandang tajam kemudian mengangkat kedua tangan ke depan dada sebagai penghormatan ketika dia bertanya,
"Maafkan kalau aku yang sesat jalan mengganggu Twako dengan pertanyaan."
Keng Hong tersenyum. Senang hatinya menyaksikan sikap gadis yang membayangkan kegagahan ini ternyata sangat peramah dan sopan santun. Dia cepat bangkit berdiri dan membalas penghormatannya, kemudian menjawab,
"Sudah sewajarnya apa bila dua orang yang saling jumpa di tempat sesunyi ini saling bertanya. Nona hendak bertanya tentang apakah?"
Gadis itu kembali tertegun. Agaknya dia sama sekali tak mengira bahwa pemuda tampan yang duduk mengaso di pohon itu adalah seorang yang demikian halus tutur sapanya, membayangkan seorang yang tahu akan kebudayaan dan sama sekali bukanlah seorang penduduk pegunungan yang buta huruf. Maka pandang matanya menjadi semakin tajam dan penuh selidik.
__ADS_1