
Karena dia menolong Keng Hong dan menbawa ke Kun-lun-san, maka bocah itu bertemu dengan Sin-jiu Kiam-ong dan menjadi muridnya, kemudian karena dia menjadi murid Si Raja Pedang maka dia dimusuhi semua orang kang-ouw, dijadikan rebutan dan nasibnya selalu sengsara karena dimusuhi orang-orang pandai sehingga akhirnya kini menggeletak pingsan di bawah kakinya!
Kiang Tojin menghela napas panjang, dan dia merasa betapa semua itu diakibatkan oleh pertolongannya kepada Keng Hong. Memang mungkin sekali kalau dia tidak turun tangan menolong Keng Hong, tentu pemuda itu telah mati pada waktu kecil. Akan tetapi apakah kematian lebih sengsara dari pada hidup?
"Cu-wi sekalian hendaknya maklum bahwa kedua orang muda yang pingsan ini adalah tawanan-tawanan kami. Pemuda ini kami tawan karena dia memiliki kesalahan terhadap Kun-lun-pai dan memang sedang kami cari-cari, ada pun gadis ini kami tawan karena dia berani melanggar wilayah Kun-lun-pai. Harap cu-wi (tuan sekalian) sebagai orang-orang luar tidak akan menghalangi kami bertindak di dalam wilayah kami sendiri."
Semua orang sakti yang hadir tak dapat membantah kebenaran ucapan Kiang Tojin yang memang pada tempatnya. Sudah menjadi peraturan tak tertulis di dunia kang-ouw bahwa para tamu harus tunduk kepada peraturan tuan rumah. Mereka semua berada di wilayah Kun-lun-pai sebagai tamu-tamu yang tak diundang, dan mereka semua sudah mendengar akan perbuatan Keng Hong dulu menipu para pimpinan Kun-lun-pai dengan menyerahkan Siang-bhok-kiam palsu.
Hal ini lalu menjadi buah tertawaan orang sedunia kang-ouw, tentu saja merupakan dosa besar pemuda itu terhadap Kun-lun-pai. Maka kalau sekarang pihak Kun-lun-pai hendak menangkapnya dan pemuda itu sedang berada di wilayah Kun-lun, tentu saja mereka tidak kuasa mencegah.
Di dalam hati mereka timbul rasa tidak puas dan penasaran, akan tetapi karena mereka segan dan jeri terhadap Kun-lun-pai, mereka tidak berani membantah. Hanya Tiat-ciang Ouw Beng Kok yang menyatakan penasaran hatinya, akan tetapi juga dia bersikap halus terhadap Kiang Tojin. Dia menjura sebagai penghormatan lalu berkata,
"Toyu, apa yang Toyu ucapakan semuanya memang benar. Akan tetapi, bocah itu sudah membunuh banyak anak murid Tiat-ciang-pang, apakah kami tak diberi kesempatan untuk menjatuhkan hukuman kepadanya?"
Pertanyaan ketua Tiat-ciang-pang ini membuka kesempatan kepada semua orang untuk mengatakan isi hati mereka dan ramailah mereka itu berkata susul-menyusul.
__ADS_1
"Benar, dia telah membunuh banyak anak murid kami!"
"Dia telah memperkosa murid wanita kami dan membunuhnya!"
"Sin-jiu Kiam-ong masih berhutang kepada kami, sudah sepatutnya kalau muridnya yang membayar hutangnya!"
"Gurunya mencuri kitab-kitab pusaka kami, muridnya yang harus mengembalikan!"
Kiang Tojin mengangkat kedua tangannya, minta agar mereka tidak ribut-ribut, kemudian berkata, "Pinto mengetahui akan hal itu semua. Siapa yang bersalah harus dihukum, akan tetapi karena kita berada di wilayah kami, maka kamilah yang berhak untuk mengadili dia. Kami akan membawanya ke Kun-lun-pai kemudian akan mengadili Cia Keng Hong. Di situ cu-wi boleh menjatuhkan tuduhan dan ia berhak membela diri, baru kemudian diputuskan hukumannya secara adil. Pinto mengharap cu-wi dapat menyetujui dan ikut bersama kami ke Kun-lun-pai." Tentu saja tidak ada yang dapat membantah kebenaran ucapan ini.
"Teecu Cia Keng Hong siap untuk menerima pengadilan!"
"Cia Keng Hong, engkau harus ikut bersama kami di Kun-lun-pai. Dan engkau, Song-bun Siu-li, karena sudah berani melanggar wilayah Kun-lun-pai serta menimbulkan keributan, engkau pun harus ikut untuk menerima pengadilan."
Biauw Eng tidak menjawab dan agaknya tidak peduli karena dia sedang memandang ke arah Keng Hong dengan alis berkerut dan mata membayangkan kesedihan. Akan tetapi dia tidak membantah ketika dia digiring naik ke puncak Kun-lun-pai.
__ADS_1
Sebetulnya, keputusan Kiang Tojin untuk menawan pula Biauw Eng ada rahasia atau latar belakangnya. Tosu ini tadi telah mendengar pula akan tuduhan-tuduhan Keng Hong yang dilontarkan kepada gadis ini, karena itu dia ingin membawa gadis ini untuk memperingan dosa pemuda itu. Kalau tidak ada latar belakang ini, kiranya dia tidak begitu sembrono untuk menawan puteri Lam-hai Sin-ni hanya karena telah mendatang wilayah Kun-lun-pai tanpa ijin!
Keng Hong berjalan sambil menundukkan muka, sama sekali tidak mempedulikan Biauw Eng yang berjalan di sebelahnya. Di dalam hatinya, dia berterima kasih sekali terhadap Kiang Tojin karena biar pun tadi dia berada dalam keadaan pingsan, namun dia maklum bahwa sekiranya tidak ada Kiang Tojin di sana, tentu sekarang nyawanya telah melayang ke akhirat.
Rasa terima kasih yang bertumpuk-tumpuk semenjak dahulu terhadap tosu ini membuat dia tunduk dan menyerah, siap untuk melakukan segala perintah dan menerima segala hukuman yang dijatuhkan Kiang Tojin kepadanya.
...********************...
Keng Hong dan Biauw Eng dibawa masuk ke dalam ‘Ruangan Pengadilan Kun-lun-pai’ yang merupakan sebuah ruangan yang amat luas dengan lantai batu putih. Di situ telah menanti Thian Seng Cinjin ketua Kun-lun-pai dengan pakaian ketua yang sederhana nan agung dan berwibawa. Kakek tua ini telah diberi tahu lebih dulu sehingga dia menanti di situ.
Kiang Tojin beserta enam orang sute-nya lalu menjatuhkan diri berlutut dan Kiang Tojin melaporkan bahwa Cia Keng Hong sudah ditangkap bersama Song-bun Siu-li yang telah melanggar wilayah Kun-lun-pai. Keng Hong sudah pula menjatuhkan dirinya berlutut di depan ketua Kun-lun-pai dengan sikap tenang.
Akan tetapi Biauw Eng tidak mau berlutut, juga tidak ada yang memaksanya, dan gadis ini duduk di atas bangku yang berada di situ. Tak seorang pun melarangnya karena betapa pun juga, semua orang selain mengenal nama Song-bun Sin-li sebagai tokoh yang amat terkenal, juga nama besar Lam-hai Sin-ni membuat semua orang merasa jeri. Kalau tadi para tokoh sudah mengeroyok dan hendak membunuh Biauw Eng adalah karena gadis itu membela Keng Hong.
Para anak murid Kun-lun-pai yang lain menjaga di luar ruang sidang pengadilan, bersikap menjaga segala kemungkinan. Suasana di situ sunyi dan semua orang menunggu ketua Kun-lun-pai membuka mulut.
__ADS_1