
PADA SAAT yang hampir bersamaan tadi, Lian Ci Tojin juga sudah melayang naik sambil membawa pedangnya yang telah dia cabut dari atas tanah. Ia pun menggunakan pedang itu menyerang Keng Hong dengan bacokan dahsyat, tepat pada saat Keng Hong habis menendang roboh Sian Ti Tojin.
"Ngo-sute (adik kelima), sungguh keterlaluan engkau!" Kiang Tojin berkata dan sebelum Keng Hong bergerak menyambut serangan Lian Ci Tojin, Kiang Tojin sudah mengangkat kedua tangannya yang terbelenggu dan menyambut sambaran pedang itu.
"Cring-tranggggg..! Auhhh…!"
Tubuh Lian Ci Tojin juga terlempar ke bawah gentang, pedangnya terlepas dari pegangan ketika bertemu dua kali dengan baja belenggu dan dia roboh oleh tendangan Kiang Tojin yang gerakannya sama dengan gerakan Keng Hong merobohkan Sian Ti Tojin tadi!
"Cia Keng Hong, bagaimana engkau dapat mengenal Hek-liong Lo-hai tadi dan mampu mainkan jurus Hui-eng Coan-in (Garuda Terbang Menerjang Awan) tadi? Kedua jurus itu merupakan jurus-jurus simpanan tingkat tinggi dari Kun-lun-pai!" tegur Kiang Tojin, lebih banyak merasa kagum akan kesempurnaan gerakan Keng Hong yang bahkan melebihi gerakannya sendiri itu dari pada marah dan penasaran.
Dengan dua tangannya Keng Hong kembali menyodorkan kitab pusaka itu kepada Kiang Tojin. "Maaf, Totiang, saya bukan sengaja mencuri dan tidak akan saya berani membuka rahasia ilmu-ilmu itu kepada orang lain. Saya mendapatkannya dari sini, dan terimalah pusaka peninggalan Thai Kek Couwsu ini! Dan karena Sian Ti Tojin telah begitu baik hati untuk menyerahkan tongkat ketua kepada Totiang, sebaiknya Totiang menerima tongkat itu sekalian!"
Kiang Tojin tertegun, bagaikan orang terpesona dia memandang ke arah kitab, suaranya gemetar dan kedua kakinya menggigil saat dia bertanya lirih, "Keng Hong, bersumpahlah. Benarkah kitab itu peninggalan Couwsu?"
__ADS_1
"Saya bersumpah demi kehormatan saya, Totiang."
Mendengar ini, Kiang Tojin lalu menerima kitab dengan kedua tangan, membukanya dan membaca huruf-huruf indah di halaman pertama: THAI-KEK SIN-KUN INI DICIPTAKAN UNTUK CALON-CALON KETUA KUN-LUN-PAI. Wajah Kiang Tojin makin berseri ketika dia membuka-buka kitab itu, lantas mengangkat tinggi-tinggi kitab itu di atas kepalanya, menghadapi semua tosu di bawah genteng dan berteriak,
"Para murid Kun-lun-pai! Ternyata kitab ini benar-benar peninggalan Couwsu kita! Marilah kita menghaturkan terima kasih kepada Couwsu!" Kiang Tojin, menjatuhkan diri berlutut dan semua tosu di bawah genteng pun lalu menjatuhkan diri berlutut di atas tanah!
"Teecu sekalian menghaturkan syukur dan terima kasih atas budi kecintaan Couwsu yang sudah meninggalkan kitab ini kepada teecu sekalian. Teecu bersumpah untuk menjunjung tinggi peninggalan Couwsu dan mencamkan semua ajaran Couwsu!"
Wajah Kiang Tojin berseri-seri dan matanya bersinar saat dia bangkit berdiri lagi. Dengan lantang dia berkata, "Engkau benar, Keng Hong. Kesulitan-kesulitan dan urusan-urusan pribadi harus disingkirkan dan dikesampingkan ketika menghadapi urusan perkumpulan! Kun-lun-pai perlu dibangun, perlu diperkuat dan karena couwsu berkenan meninggalkan pusaka ini kepada pinto, maka pinto berhak menjadi ketua! Juga tongkat ketua, berkat ketangkasanmu, sudah berhasil dirampas kembali. Siapakah di antara para saudara yang tidak setuju kalau pinto menjadi ketua Kun-lun-pai?"
"Cia Keng Hong, selama hidup pinto takkan melupakan perbuatanmu ini dan sekali waktu pinto akan membalas dendam ini!" bentak Lian Ci Tojin sambil mengertakkan giginya.
"Cia Keng Hong, kau telah berani merampas tongkat ketua dan menggunakan kekerasan untuk mencampuri urusan Kun-lun-pai. Selamanya Kun-lun-pai akan mengutukmu, selalu menganggapmu sebagai musuh besar!" kata pula Sian Ti Tojin.
__ADS_1
Keng Hong tertawa, "Pemutar balikan fakta merupakan fitnah keji, Ji-wi Totiang. Aku tidak mencampuri urusan Kun-lun-pai dan tentang tongkat, siapakah yang bergerak lebih dulu melakukan serangan? Aku hanya membela diri dan salahmu sendiri mengapa sebagai ketua kurang sempurna ilmumu, dan mengapa pula engkau meninggalkan tongkatmu ke tanganku. Bukankah seorang ketua Kun-lun-pai harus selalu menjaga tongkatnya seperti menjaga nyawa sendiri? Sekarang terserah padamu. Lawanlah Kiang Tojin jika memang kau merasa lebih berhak dan lebih pandai. Ada pun aku..., hemmm, aku hanya menjadi saksi dan aku yang akan turun tangan menghadapinya kalau kau minta bantuan kepada tokoh-tokoh kaum sesat!"
Melihat betapa kedua orang tosu itu diam saja, hanya memandang kepada Keng Hong dengan pandang mata melotot penuh kebencian, Kiang Tojin lalu menggerakkan kedua tangannya dan terdengarlah suara berkerotokan ketika belenggu pergelangan tangannya patah-patah.
"Ji-sute dan Ngo-sute, kalian juga mengerti sendiri kenapa dulu pinto mengalah. Pertama untuk memenuhi janji bahwa siapa yang kalah harus memberikan kedudukan ketua. Pinto telah kalah oleh Ang-kiam Bu-tek yang mewakilimu, dan tongkat ketua juga sudah dapat dirampas dari tangan pinto. Hanya karena pinto tidak menghendaki perpecahan di tubuh Kun-lun-pai sesuai dengan pesan suhu, maka pinto mengalah, suka diperlakukan sebagai orang hukuman. Andai kata pinto tidak mau menerima dan melawan setelah Ang-kiam Bu-tek pergi tentu kalian berdua tak akan mampu melawan dan mengalahkan pinto. Kini pinto sadar bahwa sesungguhnya kalian telah menyelewengkan Kun-lun-pai dan bahwa sikap mengalah dari pinto bukan hal benar, bahkan merupakan pengkhianatan terhadap Kun-lun-pai, terhadap suhu yang telah menaruh kepercayaan kepada pinto. Dulu tongkat ini dirampas dari tangan pinto oleh Ang-kiam Bu-tek, kini kembali ke tangan pinto atas bantuan Cia Keng Hong. Hal ini sudah sewajarnya maka pinto suka menerima kembali ini. Apa lagi setelah pinto harus memimpin anak murid Kun-lun-pai seperti yang dikehendaki pendirinya, yaitu Couwsu kita!"
"Kiang Tojin, kelak kita akan saling berjumpa kembali!" Terdengar suara Sian Ti Tojin penuh kemarahan dan dendam. "Mulai detik ini, aku bukan lagi tosu Kun-lun-pai!"
"Sute...!" Kiang Tojin berseru.
Akan tetapi Sian Ti Tojin sudah menoleh kepada Lian Ci Tojin dan berkata singkat, "Hayo kita pergi!"
Dua orang tosu itu sudah meloncat pergi. Keng Hong bergerak hendak mengejar sambil berkata lirih, "Dia harus dibasmi...!"
__ADS_1
Kiang Tojin mengira bahwa Keng Hong hendak membunuh mereka karena sikap mereka sebagai murid-murid Kun-lu-pai yang murtad, maka dia cepat-cepat mencegah, "Jangan, biarkan mereka pergi... ini urusan Kun-lun-paii..."