Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 08 part 8


__ADS_3

"Sudahlah, kau mengasolah Lai Sek. Kulihat dia itu tak begitu suka untuk diingatkan akan budinya."


"Tetapi... kau harus bertanya tentang gurunya, partainya..."


Gadis itu menutup mulut adiknya dengan telapak tangannya yang halus. "Akan kulakukan itu, sekarang minumlah obat ini lebih dulu."


Ciang Bi telah membuat api unggun dan memanaskan obat dalam tempat obat dari tanah yang tadi dibawanya, obat dan tempatnya yang didapatkan oleh Keng Hong sebelum para penjahat tadi datang menyerbu.


Lai Sek terpaksa minum obat yang pahit itu dan rasa pahit melenyapkan nafsu bicaranya sehingga dia mulai memejamkan matanya. Tubuhnya masih letih sehingga sebentar saja dia telah tertidur pulas.


Keng Hong datang membawa beberapa buah bakpauw panas dan seguci besar terisi air teh yang dibelinya dari dusun tak jauh dari sawah itu. Ia menawarkannya kepada Ciang Bi dan mereka lalu makan minum tanpa bicara, menyisihkan bagian Lai Sek supaya dapat dimakan pemuda itu kalau sudah bangun. Kemudian keduanya duduk dekat api unggun.


"Syukurlah kalau adikmu sudah sembuh, Nona," Keng Hong berkata untuk memecahkan kesunyian yang mencekam sambil memandang wajah jelita itu yang disinari cahaya api unggun kemerahan.


"Berkat pertolonganmu, In-kong."


"Harap kau jangan menyebutku In-kong atau taihiap. Namaku Cia Keng Hong dan sebut saja kakak kepadaku karena tentu aku lebih tua darimu. Usiaku sudah hampir sembilan belas tahun."

__ADS_1


"Kau juga harap jangan menyebut nona. Namaku Sim Ciang Bi dan usiaku delapan belas tahun, Twako."


Keng Hong tersenyum. "Baiklah, Bi-moi (adik Bi). Dan harap jangan menyebut-nyebut lagi tentang pertolongan, kau membuat aku menjadi malu saja."


"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, Twako. Engkau telah menolong kami enci dan adik, bolehkah aku mengetahui, engkau dari perguruan mana? Ilmu kepandaianmu hebat sekali." Gadis itu memandang dengan sangat kagum, kekaguman yang setulusnya dan yang terbayang sepenuhnya pada pandang mata yang tajam itu, pada wajah yang jelita itu.


Keng Hong menarik napas panjang. Dia kini sudah cukup kenyang dengan pengalaman pahit apa bila orang mengetahui akan dirinya, mengetahui bahwa dia adalah murid Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong, dan terutama sekali, bila mengetahui bahwa dia pewaris pedang Siang-bhok-kiam yang diperebutkan oleh seluruh orang kang-ouw karena mereka mengira bahwa pedang itu ialah kunci tempat penyimpanan pusaka-pusaka peninggalan gurunya. Karena itu, kini mendengar pernyataan gadis jelita ini, dia sangat enggan untuk memperkenalkan perguruannya untuk menghindari masalah yang tidak diinginkan.


"Ahh, aku bukan dari perguruan mana-mana, Bi-moi dan sebaiknya aku tidak membawa nama guruku yang telah meninggal dunia. Riwayatku juga tak menarik, aku seorang sebatang kara, rumah pun tidak punya. Lebih baik mendengar riwayatmu, Bi-moi, kalau kau tidak berkeberatan. Mengapa engkau dan adikmu bermusuhan dengan mereka itu? Di mana tempat tinggalmu dan hendak ke mana kalian pergi?"


"Twako, engkau terlalu merendahkan diri. Seorang dengan kepandaian seperti engkau ini tentu berasal dari perguruan yang tinggi dan ternama, atau setidak-tidaknya tentu murid seorang yang sangat sakti. Akan tetapi kalau engkau hendak merahasiakannya, aku pun tidak akan berani memaksa. Tentang aku... ahhh, aku dan adikku hanya murid-murid kecil dari Hoa-san-pai."


Juga dia teringat dengan cerita gurunya akan pengalaman-pengalaman gurunya dimusuhi oleh kaum Hoa-san-pai, yaitu karena gurunya dahulu pernah mencuri ramuan obat dan pedang pusaka dari Hoa-san-pai. Bahkan kemudian terdapat pula seorang murid wanita Hoa-san-pai yang tergila-gila pada Sin-jiu Kiam-ong dan melarikan diri bersama pendekar yang nakal itu! Teringat akan penuturan gurunya, mau tidak mau Keng Hong tersenyum lebar.


"Kenapa engkau tertawa, Twako?"


"Ahh, tidak apa-apa, Bi-moi. Hanya aku girang bahwa aku sudah bertemu dengan murid Hoa-san-pai yang telah lama kudengar nama besarnya. Pantas saja ilmu pedangmu amat indah dan juga sangat hebat!"

__ADS_1


"Ihhh, apanya yang hebat?"


Gadis itu memandang penuh kekaguman dan sama sekali tidak menyembunyikan rasa tertarik pada sinar matanya yang bening dan meneduhkan itu. "Engkau lihai luar biasa, engkau baik budi dan manis bahasa, engkau pandai merendahkan diri dan sekarang ternyata engkau pandai pula memuju-muji orang untuk menyenangkan hatinya."


"Wah-wah, yang pandai memuji-muji ini aku atau engkau?" Keng Hong tertawa.


Melihat pemuda ini tertawa dan memperlihatkan deretan gigi yang putih dan kuat, gadis itu pun tertawa sambil berkata,


"Kita sama-sama pandai memuji orang. Akan tetapi salahkah itu? Memuji orang berarti menyenangkan hati orang, dan aku ingin menyenangkan hatimu, Twako, sungguh pun hal itu merupakan balas budi yang tak ada artinya."


"Sudahlah, Bi-moi. Lebih baik kau ceritakan mengapa kau dan adikmu dimusuhi mereka itu."


Gadis itu menarik napas panjang. "Aahhh, semua adalah salahku, gara-gara akulah maka terjadi permusuhan itu...," katanya, kemudian dia bercerita.


Gadis yang bernama Sim Ciang Bi dan adiknya, Sim Lai Sek ini adalah putera dan puteri seorang sastrawan di kota Liok-keng yang terkenal karena pandai sekali membuat sajak dan melukis, dikenal dengan sebutan Sim-siucai (sastrawan Sim). Karena sudah banyak mengalami kesengsaraan akibat perang dan kerusuhan, di mana kepandaian bun (sastra) tidak mampu melindunginya, Sim-siucai lalu membawa kedua anaknya itu ke Hoa-san-pai untuk mendidik kedua anaknya dengan ilmu silat, karena siucai ini berpendapat bahwa dalam jaman perang dan kerusuhan itu ilmu silat lebih berguna dari pada ilmu sastra.


Dengan demikian, Ciang Bi yang ketika itu berusia tiga belas tahun sedangkan Lai Sek berusia sebelas tahun lalu menjadi murid-murid Hoa-san-pai. Selama lima tahun mereka berdua belajar ilmu silat.

__ADS_1


Setelah pimpinan Hoa-san-pai merasa bahwa mereka sudah memiliki kepandaian cukup untuk menjaga diri, apa lagi mengingat bahwa Ciang Bi sudah menjadi seorang gadis dewasa berusia delapan belas tahun dan sudah sepatutnya berada di rumah orang tua sendiri untuk kemudian berumah tangga, kedua orang anak murid Hoa-san-pai ini disuruh pulang ke tempat tinggal mereka.


Pada saat mereka berdua melakukan perjalanan sampai di dusun Ciang-cung, kecantikan yang selalu menghiasi wajah Ciang Bi lalu menimbulkan urusan besar.


__ADS_2