
Sin-jiu Kiam-ong mengangguk-angguk. "Ahh, jadi Toyu ini seorang di antara Kong-thong Ngo-lojin (Lima Kakek kong-thong-pai) yang tersohor hebat sekali ilmu kepandaiannya, yang puluhan tahun lamanya melatih diri dan kini kabarnya mencapai tingkat yang sukar dicari bandingnya? Bagus, bagus! Kabarnya Thian-te Sam-lo-mo (Tiga Iblis Tua Langit Bumi) yang menjadi tiga datuk sesat terbesar di seluruh dunia, juga merasa jeri untuk mengganggu Kong-thong-pai karena ada kalian lima kakek sakti ini! Dan kini seorang di antara mereka memberi kehormatan kepadaku? Ha-ha-ha, Kok Cin Cu toyu, engkau ini kakek yang ke berapakah?"
"Yang empat lain adalah para suheng-ku (kakak seperguruan)".
"Ahhh, jadi yang termuda? Yang tua-tua agaknya masih enggan merendahkan diri, akan tetapi aku percaya yang termuda sekali pun tentu memiliki kesaktian luar biasa. Namun sayang, Toyu, aku tidak dapat menyerahkan pedang ini kepadamu."
"Kalau begitu, perhitungan lama harus diselesaikan dengan mengadu ilmu!"
"Begitukah wawasanmu Toyu? Agaknya Toyu masih belum tahu ataukah pura-pura tidak tahu kenapa dulu lima orang anak murid Kong-thong-pai tewas di tanganku? Kami telah bentrok di tempat judi! Aku yang sudah terkenal sebagai seorang pengejar kesenangan di waktu muda, tidak usah disebut-sebut lagi mengapa aku bisa berada di tempat judi, akan tetapi lima orang tosu muda Kong-thong-pai, main-main di tempat judi yang dilayani para pelacur? Apakah mereka itu berada di sana untuk berceramah tentang kebatinan? Ahh…, betapa banyaknya orang-orang yang pada lahirnya berpura-pura menjadi orang suci akan tetapi batinnya kotor melebihi orang-orang yang mereka anggap sesat dan jahat. Karena pernyataan dan teguranku, mereka marah dan kami berkelahi. Di dalam perkelahian ada yang menang dan ada yang kalah, yang menang hidup dan yang kalah luka atau mati, apakah yang aneh dalam hal itu? Kalau Toyu menganggapnya suatu penasaran dan kini hendak mengulang kesalahan mereka menantangku, terserah."
Wajah tosu itu menjadi merah, kemudian menjawab, suaranya kereng, "Sebagai seorang tokoh Kong-thong-pai, tak mungkin pinto mendengarkan keterangan dari satu fihak saja. Untuk minta keterangan anak murid kami yang tewas, tak mungkin lagi. Yang jelas, anak murid Kong-thong-pai selalu menjunjung kebenaran, sedangkan nama Sin-jiu Kiam-ong, siapa tidak mengenalnya dan mengetahui orang macam apa? Kami Kong-thong Ngo-lojin berkewajiban membela nama Kong-thong-pai. Sin-jiu Kiam-ong, bersiaplah dan mari kita mulai!"
"Engkau yang berniat mengadu ilmu, engkau pulalah yang mulai, Toyu. Aku sudah siap melayanimu!"
__ADS_1
Tosu ini melangkah maju. Ia bertangan kosong dan dia menjura ke arah Sin-jiu Kiam-ong lalu berkata, "Pinto menghormat usiamu yang lebih tua. Karena dulu engkau membunuh lima orang murid Kong-thong-pai dengan tangan kosong, maka sudah semestinya kalau kini pinto juga menghadapimu dengan tangan kosong. Bila mana pinto kalah, biar lain kali kami dari Kong-thong-pai kembali lagi, apa bila engkau yang kalah, pinto akan membawa pergi Siang-bhok-kiam sebagai tebusan dosa!"
"Ha-ha-ha, dalam setiap perbuatan selalu tersembunyi pamrih, di mana-mana manusia sama, menjadi hamba nafsu pribadi. Silakan."
Tosu itu mengangkat kedua lengannya ke atas kepala, lalu kedua tangan yang dibuka jari-jarinya itu mengeluarkan suara berkerotokan dan tergetar hebat. Kedua tangan itu kini bentuknya seperti cakar naga, ada pun kulit tangan itu berubah menjadi kemerahan!
Inilah Ilmu Ang-liong Jiauw-kang (Ilmu Cakar Naga Merah) dari Kong-thong-pai yang telah sangat terkenal kedahsyatannya! Kabarnya, ilmu ini kalau sudah mencapai tingkat tinggi, menjadi amat hebat sehingga tangan berubah seperti baja panas. Tidak saja kuat untuk melawan senjata tajam lawan, juga kalau mengenai tubuh lawan menimbulkan luka-luka terbakar yang tak terobati lagi!
Dengan beberapa langkah, tosu tua itu sudah berada di hadapan Sin-jiu Kiam-ong, kedua tangannya dengan telapak tangan terbuka digerakkan ke depan, mengarah kepala dan dada kakek yang duduk bersila dengan tenangnya itu.
Sin-jiu Kiam-ong tersenyum lebar. "Kiranya Kong-thong Ngo-lo-jin masih ingat akan watak pendekar. Sungguh menyenangkan sekali. Akan tetapi sayang masih dikotori rasa tamak. Biarlah kusambut Ang-liong Jiauw-kang, karena inilah nama ilmumu, bukan?"
Sambil berkata demikian, Sin-jiu Kiam-ong segera mengulurkan sepasang lengannya dan sebelum tosu tua itu sempat bergerak, dia telah menempelkan kedua telapak tangan tosu yang kemerahan itu.
__ADS_1
"Wesssss...!"
Sungguh luar biasa sekali. Begitu kedua telapak itu bertemu, terdengar suara seperti api membara bertemu benda basah dan tampak asap mengepul dari kedua pasang telapak tangan yang saling bertemu.
Tosu tua itu merendahkan tubuh sambil mengerahkan tenaga sinkang untuk memperkuat daya serang Ang-liong Jiauw-kang, namun sia-sia saja karena kedua telapak tangannya yang tadinya panas itu makin lama menjadi makin dingin, bahkan rasa dingin seperti salju mulai menerobos masuk melalui kedua telapak tangannya, menjalar dari telapak tangan ke atas!
Wajah tosu itu mulai berkeringat, matanya merah dan mulutnya terbuka karena nafasnya menjadi terengah-engah. Di lain pihak, Sin-jiu Kiam-ong masih tersenyum saja dan sama sekali tidak kelihatan lelah. Tahulah Kok Cin Cu bahwa kalau adu tenaga sinkang ini terus dilanjutkan, maka ia akan roboh binasa. Terpaksa tosu tua ini lalu menarik kembali kedua tangannya dan pada saat yang bersamaan, Sin-jiu Kiam-ong yang tidak ingin membunuh orang juga menarik kedua tangannya.
Kok Cin Cu melangkah mundur ke tempat semula. Tubuhnya menggigil dan sampai lama barulah dia dapat memulihkan keadaannya, lalu menjura dan membungkuk dan berkata dengan suara lemah,
"Sungguh hebat kepandaian Sin-jiu Kiam-ong, terpaksa pinto mengaku kalah dan lain kali pinto akan datang kembali bersama para suheng."
Melihat kekalahan tosu tua Kong-thong-pai, kini suami isteri tua yang semenjak tadi hanya menonton, melangkah maju. Mereka itu berusia tujuh puluh tahunan, dan si suami segera menudingkan telunjuknya.
__ADS_1
"Sin-jiu Kiam-ong, masih ingatkah engkau pada kami suami isteri yang pernah mengalami penghinaan darimu?"
Kakek itu memandang kepada mereka, terutama kepada wanita tua yang berdiri tegak di samping suaminya, kemudian dia menjawab, "Pernah aku berjumpa dengan kalian, akan tetapi aku lupa lagi entah dimana. Yang sudah pasti, aku tidak pernah menganggu wanita itu, karena kalau hal itu terjadi, sampai kini pun aku tentu akan ingat dan mengenalnya."