Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 07 part 6


__ADS_3

"Ibu, kalau begitu aku benar-benar mencintainya. Perasaanku membisikkan bahwa dialah satu-satunya pria yang kucinta karena aku agaknya rela untuk mengorbankan nyawaku untuknya." Gadis itu berhenti sebentar dan pandang matanya jelas membayangkan cinta kasih besar ketika dia mengingat pemuda itu. "Ibu, sekarang juga aku akan mengejarnya, aku harus berada di dekatnya..."


"Pergilah, akan tetapi jangan hanya mendapatkan dia, tetapi dapatkan pula peninggalan pusaka ayahmu."


Sepasang mata itu terbelalak penuh gembira, wajahnya menjadi kemerahan dan Biauw Eng yang kini bukan lagi seorang gadis berwajah dingin karena salju itu agaknya sudah mencair oleh panasnya api cinta, berkata,


"Ibu, terima kasih. Aku pergi sekarang...!"


Lam-hai Sin-ni memegang tangan puterinya dan berkata, "Hanya satu hal yang kuminta agar engkau suka berjanji kepadaku, anakku."


"Apakah itu, Ibu?"


"Berjanjilah, bersumpahlah bahwa engkau tidak akan melakukan kesalahan yang sama dengan ibumu dahulu. Engkau tidak akan menyerahkan dirimu kepada bocah itu di luar pernikahan! Kalian harus menjadi suami isteri yang syah! Nah, apa bila begitu, barulah ibumu akan memberi ijin dan doa restu. Kalau tidak, aku akan mengutukmu, Biauw Eng!"


Gadis itu memeluk ibunya dan berbisik, "Aku bersumpah, Ibu."

__ADS_1


Kemudian dia melepaskan ibunya dan cepat melesat pergi sesudah menyambar sabuk sutera putih yang tadi dirampas dan dilemparkan oleh ibunya.


Lam-hai Sin-ni, tokoh nomor satu dari Bu-tek Su-kwi, ‘ratu’ tak bermahkota dari daerah pantai laut selatan, masih duduk bersila. Tubuhnya tidak bergerak, wajahnya tetap dingin, akan tetapi dari kedua matanya keluar dua butir air mata yang perlahan-lahan menetes turun ke atas sepasang pipinya yang putih…..


...********************...


Sementara itu, semenjak Kun-lun-pai menerima Siang-bhok-kiam dari tangan Keng Hong, perkumpulan besar ini tidak pernah mengalami hari-hari aman tenteram lagi. Baru lewat beberapa hari sejak Keng Hong meninggalkan Pedang Kayu Harum itu, Kun-lun-pai telah diserbu oleh orang-orang kang-ouw dari bermacam partai. Cara penyerbuan mereka pun berbeda-beda, tergantung dari sifat perkumpulan atau partai mereka.


Golongan bersih yang merasa pernah ‘menghutangkan sesuatu’ kepada Sin-jiu Kiam-ong dan karenanya berhak untuk mendapatkan bagian dari pusaka peninggalan pendekar itu, mendatangi Kun-lun-pai secara berterang melalui pintu depan, kemudian terang-terangan menyatakan ‘minta bagian’ karena dengan diserahkannya Siang-bhok-kiam kepada pihak Kun-lun-pai, mereka ini menganggap bahwa Kun-lun-pai sudah mewarisi semua pusaka peninggalan Sin-jiu-Kiam-ong.


Tetapi, partai persilatan Kun-lun-pai adalah sebuah partai besar yang mempunyai banyak tokoh yang berilmu tinggi. Di samping ini, juga para tosu anak murid Kun-lun-pai rata-rata juga memiliki kepandaian yang lihai, jumlahnya banyak pula sehingga semua usaha para tokoh kang-ouw yang hendak merampas Siang-bhok-kiam dapat digagalkan.


Karena munculnya gangguan-gangguan ini, para tokoh Kun-lun-pai menjadi sibuk sekali dan akhirnya mereka sadar bahwa keputusan yang diambil oleh Kiang Tojin sebagai wakil suhu-nya, yaitu Thian Seng Cinjin ketua Kun-lun-pai, sungguh pun merupakan keputusan yang sangat baik demi menjunjung tinggi kedaulatan dan nama besar Kun-lun-pai, namun merupakan keputusan yang amat berbahaya.


Dengan mencegah Keng Hong membawa pergi Siang-bhok-kiam dan merampas pedang itu lalu menyimpannya di Kun-lun-pai, maka kini perhatian semua orang kang-ouw tertuju kepada Kun-lun-pai. Jika dahulu para tokoh kang-ouw mengejar-ngejar Sin-jiu Kiam-ong, kini mereka menyerbu Kun-lun-pai untuk merampas pedang Siang-bhok-kiam!

__ADS_1


Sungguh pun sejauh ini pihak Kun-lun-pai selalu berhasil menghalau para penyerbu yang hendak merampas Siang-bhok-kiam, akan tetapi dalam pertandingan-pertandingan yang terjadi selama pedang itu berada di sana, di pihak mereka sudah jatuh korban sebanyak empat orang murid yang tewas dalam pertempuran. Hal ini masih ditambah pula dengan perasaan gelisah, selalu harus berjaga-jaga sehingga para tosu itu tidak dapat lagi tidur nyenyak.


Mulailah timbul perasaan tidak senang mereka terhadap keputusan Kiang Tojin dulu yang mereka anggap tidak tepat dan hanya menyusahkan Kun-lun-pai saja. Murid-murid Thian Seng Cinjin yang lainnya mulai mengomel dan menyatakan ketidak senangan mereka di depan ketua Kun-lun-pai itu sehingga kakek ini yang melihat adanya bahaya perpecahan, pada suatu pagi mengumpulkan murid-muridnya untuk diajak berunding mengenai pedang Siang-bhok-kiam!


Murid-murid Thian Seng Cinjin jumlahnya ada tujuh orang. Kiang Tojin merupakan murid kepala, bahkan dialah merupakan calon ketua kelak kalau Thian Seng Cinjin meninggal dunia atau mengundurkan diri. Segala urusan mengenai Kun-lun-pai juga sudah banyak yang diserahkan kepadanya oleh kakek yang sudah amat tua itu.


Karena Kiang Tojin adalah orang yang luas pandangannya, berpengalaman dan memiliki watak teguh dan adil, selain kelihaiannya yang hanya berada di bawah tingkat gurunya, maka segala urusan berjalan lancar apa bila dia yang mengatur penyelesaiannya. Hal ini saja sudah membuat beberapa orang sute-nya diam-diam merasa iri hati.


Pagi hari itu, di dalam ruangan yang diberi nama Ruangan Ketenangan yang letaknya di bagian belakang asrama Kun-lun-pai, Thian Seng Cinjin duduk di atas lantai yang ditilami kasur bundar, bersila dihadap oleh tujuh orang murid-muridnya yang juga duduk bersila dalam bentuk setengah lingkaran menghadap guru mereka.


Suasana di ruangan itu memang sangat hening, bersih dan nyaman. Angin pegunungan bersilir masuk karena ruangan itu memang tidak tertutup dinding sehingga dari situ dapat tampak tamasya pegunungan yang sangat indah. Memang tepat sekali nama ruangan ini karena suasana di situ benar-benar tenang dan menimbulkan ketenangan di hati, cocok untuk bersemedhi atau untuk bertukar pikiran.


Untuk kepentingan perundingan ini, Thian Seng Cinjin sengaja membawa serta pedang Siang-bhok-kiam yang ia letakkan di depannya di atas lantai. Kemudian, sesudah sejenak ke delapan orang tosu ini bersama-sama mengheningkan cipta membersihkan pikiran, kakek itu menggerakkan tangan untuk mengelus jenggot panjangnya dan berkata dengan suara halus,


"Sekarang kita semua sudah berkumpul dengan pikiran jernih. Pinto tahu bahwa pedang peninggalan Sin-jiu Kiam-ong ini telah menimbulkan banyak keributan yang biasanya aman tenteram dan tenang. Akan tetapi, keributan itu ditimbulkan oleh orang-orang luar yang hendak merampas pedang dan sudah seharusnya kalau kita mempertahankannya dan menghalau para penyerbu, hal itu tidaklah menyusahkan hati. Yang membuat pinto prihatin dan sekarang mengumpulkan kalian untuk berunding adalah karena pinto melihat adanya ketidak tenangan yang timbul di antara kita karena getaran bentrokan ketidak cocokan itu dan mencari jalan keluar dengan musyawarah. Keluarkan semua isi hati dan pendapat kalian untuk kita telaah dan pelajari."

__ADS_1


__ADS_2