
Melihat ini, Thian Kek Hwesio, menjadi agak pucat wajahnya dan maklumlah dia bahwa tingkat kekuatan sinkang kakek tua renta itu jauh lebih tinggi dari padanya. Ia melangkah mundur sambil merangkapkan kedua tangan di depan dada dan menggumam,
"Omitohud...!"
"Maaf, sute-ku dan pinceng melupakan kebodohan sendiri!" kata Thian Ti Hwesio dan si hwesio kurus ini sekarang menggerakkan kedua tangan ke depan, ke arah pedang kayu yang tergeletak di depan kaki Sin-jiu Kiam-ong dan... pedang itu tiba-tiba melayang naik seperti tersedot besi sembrani lalu terbang ke arah kedua tangan tokoh Siauw-lim-pai itu.
Semua tokoh yang berada di situ tahu belaka bahwa kekuatan sinkang hwesio alis putih ini jauh lebih tinggi dari pada kekuatan sute-nya. Sin-jiu Kiam-ong bahkan mengeluarkan suara memuji,
"Bagus! Siang-bhok-kiam, sebelum kuijinkan, kau tidak boleh berganti majikan. Sekarang kembalilah!"
Dia menggapaikan tangan kirinya dan... pedang kayu yang sudah terbang ke arah kedua tangan Thian Ti Hwesio itu tiba-tiba berputaran lalu membalik, melayang ke arah Sin-jiu Kiam-ong!
Thian Ti Hwesio menjadi penasaran sekali. Dia segera menambah kekuatan pada kedua lengannya, bahkan tubuhnya agak merendah ketika dia menggerakkan kedua tangan ke arah pedang. Siang-bhok-kiam kembali berputaran di udara seolah-olah bimbang hendak terbang kemana, akan tetapi akhirnya terbang kembali ke Sin-jiu Kiam-ong dan jatuh ke depan kakek itu di tempatnya yang tadi.
__ADS_1
Thian Ti Hwesio mengusap peluh pada keningnya, lalu menjura sambil merangkap kedua tangan di depan dada.
"Sin-jiu Kiam-ong makin tua semakin gagah, tepat seperti apa yang sudah diperingatkan suhu kami. Siancai....siancai....!"
"Thian Ti Hwesio terlalu memuji," kata Sin-jiu Kiam-ong.
"Orang she Sie! Kalau lain orang menghormatimu, aku Sin-to Gi-hiap tidak! Aku sudah mengenal isi perutmu! Aku adalah seorang dari golongan pendekar, termasuk kaum benar dan bersih, bagaimana aku dapat berdiri sederajat dengan engkau seorang tokoh sesat dan kotor? Aku bilang bukan untuk minta-minta diberi Siang-bhok-kiam, melainkan untuk memenggal kepalamu dan merampas pedangmu!"
Sin-jiu Kiam-ong memandang orang yang berbicara dengan suara keras itu. Dia adalah seorang kakek berusia tujuh puluh tahun lebih, namun tubuhnya masih berdiri tegak dan tegap, wajahnya membayangkan kegagahan dan ketampanan. Sebatang golok telanjang mengeluarkan cahaya berkeredepan berada di tangan kanannya, pakaiannya ringkas dan sederhana, berwarna kuning bersih.
"Lidah ular! Isteriku telah meninggal dunia, namun dendamnya dan dendamku kepadamu tidak akan lenyap sebelum golokku berhasil memenggal lehermu! Biarlah disaksikan oleh para orang gagah di sini yang mendengarkan pengakuanku, karena aku bukan seorang pengecut. Pada lima puluh tahun yang lalu, dengan kepandaianmu merayu engkau sudah mengganggu isteriku dan memaksanya melakukan hubungan perjinahan denganmu. Lima puluh tahun yang lalu memang aku kalah terhadapmu, akan tetapi sekarang coba-coba kita buktikan! Bangkitlah dan lawan golokku!"
Sin-jiu Kiam-ong menudingkan telunjuknya ke arah hidung pendekar yang kini sudah tua itu. "Sin-to Gi-hiap, sebelum memaki orang kenapa tidak meraba hidungmu lebih dahulu? Dahulu aku memang melakukan hubungan cinta gelap dengan isterimu, akan tetapi apa salahnya hal itu kalau dia sendiri juga menghendakinya? Dan ketahuilah, aku sampai hati melakukan perbuatan itu karena mengingat betapa engkau mendapatkan isterimu yang cantik jelita itu dengan jalan merampas dan memaksa! Engkau mendapatkan dia dengan membunuh suaminya si perampok tunggal di Taibu, kemudian merampas isterinya yang cantik. Apakah kau sangka aku tidak tahu bahwa engkau membunuh perampok itu bukan sekali-kali akibat terdorong jiwa pendekarmu, melainkan terdorong nafsu birahimu melihat isterinya yang cantik? Engkau merampas wanita dengan jalan kekerasan, aku merampas cintanya dengan cara halus. Apa bedanya? Setidaknya, aku lebih berhasil mendapatkan cintanya!"
__ADS_1
"Dasar keparat! Penjahat cabul engkau, jai-hwa-cat (pemetik bunga) yang tak tahu malu. Sebentar lagi engkau tentu mampus di sini dan biarlah nanti akan kubuatkan arca seorang jai-hwa-cat untuk ditaruh di atas makammu agar setiap orang dapat meludahinya!"
Setelah berkata demikian, Sin-to Gi-hiap kemudian meloncat ke arah sebuah batu gunung sebesar manusia, goloknya mendahuluinya merupakan sinar putih cemerlang, berkelebat dan menggulung-gulung di sekitar batu itu sehingga terdengar suara keras dan bunga api berpijar-pijar menyilaukan mata.
Sesudah gulungan sinar berkilauan lenyap dan semua orang memandang ke arah batu di antara debu itu, kini tampaklah bahwa batu itu telah menjadi arca yang menggambarkan kepala Sin-jiu Kiam-ong! Biar pun kasar akan tetapi jelas tampak bahwa itu adalah arca si kakek tua renta yang kini duduk bersila sambil memandang arca itu dan tersenyum!
"Wah, makin hebat saja kepandaianmu, Si Golok Sakti! Akan tetapi bukan ilmu goloknya yang kumaksudkan, melainkan ilmu ukirannya! Sayang begitu kasar! Apakah tidak dapat diperhalus lagi? Biar kubantu engkau."
Setelah berkata demikian, Sin-jiu Kiam-ong lalu mengambil Siang-bhok-kiam yang masih menggeletak di depan kakinya, dan sekali dia memutar pedang kayu itu terdengar suara bercuit nyaring.
Segulung sinar hijau menyambar ke depan, ke arah patung, terus sinar itu mengelilingi arca batu kemudian terbang kembali ke arah Sin-jiu Kiam-ong. Semua orang memandang dan... arca batu yang tadinya kasar, kini telah menjadi halus seperti digosok pisau tajam dan agak mengkilap indah!
"Kiam-sut (ilmu pedang) yang hebat, akan tetapi siapa takut? Lihat golok!" Sin-to Gi-hiap yang sudah marah sekali menerjang maju dengan goloknya.
__ADS_1
Sin-jiu Kiam-ong tertawa dan menggerakkan Siang-bhok-kiam, membuat gerak berputar mengelilingi golok lawan. Yang berputaran hanya sinar pedangnya, oleh karena kakek itu sendiri hanya duduk bersila dan jarak antara mereka masih jauh. Namun si Golok Sakti berteriak kaget dan cepat melompat mundur kemudian memandang ujung lengan bajunya yang sudah buntung!
"Kiam-ong masih pantas menjadi Kiam-ong (Raja Pedang)!" Terdengar suara memuji dan kini dua orang kakek yang berpakaian seperti petani, bersikap sabar tenang dan gagah, telah maju. "Namun sayang Kiam-ong hanya memajukan lahir tanpa mengingat kemajuan batin, sehingga kulitnya indah akan tetapi isinya busuk! Sin-jiu Kiam-ong, kami Hoa-san Siang-sin-kiam (Sepasang Pedang Sakti Hoa-san) menjadi utusan dari Hoa-san-pai untuk minta pertanggungan jawabmu terhadap dosa-dosamu. Engkau pernah mencuri seorang murid perempuan Hoa-san-pai, mencuri pedang pusaka, dan mencuri ramuan obat yang dibuat oleh Sucouw kami. Ketua kami akan berpikir untuk bersikap bijaksana melupakan dosa-dosamu terhadap kami kalau engkau suka menyerahkan pedang Siang-bhok-kiam kepada kami!"