Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 05 part 4


__ADS_3

Mendadak Keng Hong mendapat perasaan aneh dan menengok ke belakang. Alangkah kagetnya pada saat dia melihat bahwa dari arah belakang berindap-indap datang puluhan orang dan jelas sekali mereka berniat untuk menangkapnya.


Mereka adalah anak buah Pak-san Su-liong yang datang menghampirinya dengan sikap mengancam, seperti segerombolan serigala yang hendak menyergap seekor kijang. Keng Hong maklum akan bahayanya apa bila terjatuh ke tangan anak buah Pak-san Kwi-ong. Memang tidak enak juga menjadi tawanan dua orang gadis berhati ganas itu, akan tetapi menjadi tawanan orang-orang kasar ini agaknya akan lebih mengerikan pula.


Kenapa dia tidak membebaskan diri saja? Kalau tadinya dia masih belum membebaskan diri adalah pertama, dia suka melayani permainan asmara Cui Im yang benar-benar telah dinikmatinya dan ke dua, karena dia tertarik dan berterima kasih kepada Song-bun Siu-li yang menyelamatkan nyawanya.


Akan tetapi sekarang, melihat dirinya mulai diperebutkan seperti sebuah benda berharga, Keng Hong menjadi muak dan tiba-tiba timbul keinginannya untuk meloloskan diri selagi ada kesempatan mereka saling gasak itu.


Keng Hong mengerahkan sinkang-nya, mendesak pusat tenaga di pusar lalu menyalurkan hawa sakti yang dia luncurkan ke arah sepasang lengannya, kemudian sekuat tenaga dia merenggut. Tali sutera hitam yang mengikat pergelangan tangannya bukan sembarang tali, kuatnya melebihi kawat baja. Namun tali itu masih tidak dapat menahan sinkang yang tersalur di kedua lengan itu, yang kekuatannya amat luar biasa, seperti tarikan dua buah belalai gajah.


Tali itu mengeluarkan bunyi keras ketika terputus dan bergerak-gerak seperti tubuh ular terputus di atas tanah. Keng Hong hanya merasakan kulit pergelangannya panas. Dia cepat membungkuk dan melepaskan tali sutera putih yang mengikat kakinya. Dia tidak mau memutuskan tali kakinya yang dia tahu adalah sabuk sutera yang dijadikan senjata si nona baju putih, maka setelah tangannya bebas dia melepaskan tali kakinya.


Pada saat itu, empat orang tinggi besar telah menubruk dan menangkapnya, ada yang merangkul kaki, ada yang merangkul pinggangnya, ada yang memegangi tangan dan ada yang memiting leher. Akan tetapi Keng Hong tidak peduli, dia terus bangun dan berjalan mendekati kereta, menyeret empat orang itu yang melekat di tubuhnya seperti lintah. Keng Hong menyendal sabuk putih kemudian berseru kepada Song-bun Siu-li yang sibuk melayani tiga orang musuhnya.


"Song-bun Siu-li! Nih senjatamu, terimalah!"

__ADS_1


Dia sudah menggulung sabuk itu dan melemparkannya ke arah gadis berbaju putih yang mengeluarkan suara heran akan tetapi cepat menyambar senjatanya yang istimewa ini dan mengganti cambuknya dengan sabuk putih. Hebat bukan main gerakan Song-bun Siu-li setelah dia kini mainkan sabuk sutera putih itu.


Tampak sinar putih bergulung, sangat tebal menyilaukan mata laksana pelangi berwarna putih perak dan dalam tiga jurus saja sabuknya sudah melibat rantai seorang di antara tiga lawannya dan sekali renggut, rantai itu terlepas dari tangan lawan dan ujung sabuk yang sebelah lagi sudah menotoknya roboh!


Dua orang lawan yang lain menjadi marah dan menerjang lebih dahsyat lagi, akan tetapi dilayani oleh gadis baju putih itu dengan sikap tenang. Setelah kini senjatanya kembali ke tangannya, gadis ini menjadi lebih tenang dan penuh kepercayaannya pada diri sendiri.


Keng Hong masih dikeroyok oleh empat orang tinggi besar yang hendak menawannya, dan sambil berteriak-teriak belasan orang tinggi besar lain merubungnya, siap membantu teman-teman mereka kalau kewalahan. Keadaan Keng Hong seperti seekor jengkrik yang dirubung semut.


Keng Hong menjadi marah dan tidak sabar lagi. Dia mengeluarkan seruan keras sambil menggoyang tubuhnya, gerakannya seperti seekor harimau yang menggoyang tubuhnya sehabis tertimpa air hujan. Terdengar pekik kaget kemudian tubuh empat orang yang tadi menempel di tubuhnya, mencelat ke empat penjuru sampai lima enam meter jauhnya lalu menimpa teman-teman sendiri!


"Jangan sampai dia lari!"


Orang-orang yang menjadi kaki tangan Pak-san Su-liong itu terus berteriak-teriak sambil mengepung. Mereka ini hanya merupakan segerombolan orang liar yang mengandalkan tenaga, keberanian dan pengalaman bertempur karena orang-orang ini datang dari utara, menjadi anak buah Pak-san Su-liong yang terkenal sebagai pemimpin orang-orang liar di luar tembok besar sebelah utara.


Namun tenaga mereka hanyalah tenaga otot dan tebalnya kulit, tentu saja menghadapi Keng Hong mereka itu tidak banyak artinya. Keng Hong mulai mengamuk untuk mencari kebebasannya. Ia menggunakan kaki dan tangannya, menendang dan memukul.

__ADS_1


Para pengeroyok berteriak-teriak kesakitan karena setiap pertemuan kaki tangan mereka dengan kaki tangan Keng Hong pasti mengakibatkan tulang patah dan kulit pecah. Melihat anak buah mereka kocar-kacir, ditambah lagi seorang di antara mereka sudah tertotok roboh, tiga orang di antara Pak-san Su-liong menjadi kacau permainannya.


Apa lagi kini Song-bun Siu-li sudah memegang senjatanya sendiri yang sangat ampuh, maka tiga orang tinggi besar murid-murid Pak-san Kwi-ong itu tidak dapat bertahan lagi. Pedang merah di tangan Cui Im berhasil melukai pundak kiri lawannya, sedangkan kedua ujung sabuk sutera putih di tangan sumoi-nya yang amat lihai itu telah merampas sehelai rantai dan memecut muka seorang lawan lagi sehingga pipinya terluka dan berdarah.


Melihat empat lawannya mundur dan para anak buah mereka pun kocar-kacir dan mulai menjauhi Keng Hong, Song-bun Siu-li cepat berkata dan meloncat mendekati Keng Hong, "Lekas masuk kereta. Kita melanjutkan perjalanan!"


Keng Hong berdiri memandang gadis itu, kemudian menjawab, "Aku tidak mau! Aku ingin melanjutkan perjalananku sendiri, Nona."


"Kau... kau hendak melawanku?" Song-bun Siu-li berkata halus, namun suaranya dingin, dan sabuknya siap di tangan.


"Hati-hati, Sumoi. Dia memiliki tenaga mukjijat!" kata Cui Im yang juga sudah melompat dekat, tidak mempedulikan Pak-san Su-liong yang mulai menolong teman-temannya dan meninggalkan tempat itu karena maklum bahwa mereka tidak mungkin dapat melanjutkan usaha mereka merampas tawanan.


"Cia Keng Hong, lekas kembali ke kereta. Mereka tentu akan datang kembali, dan kalau yang muncul guru mereka Pak-san Kwi-ong, atau guru Thian-te Siang-to tadi yaitu Pat-jiu Sian-ong, kami tidak akan dapat mempertahankan engkau lagi!" berkata pula Song-bun Siu-li, suaranya tetap halus akan tetapi bukan merupakan bujukan, melainkan peringatan.


Keng Hong masih berdiri dengan kedua kaki terpentang, kokoh kuat seperti batu gunung, akan tetapi pakaian pada sebelah belakangnya sudah compang-camping tak karuan.

__ADS_1


__ADS_2