Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 14 part 2


__ADS_3

Tentu gurunya itu telah masuk ke kamar ini dan mempelajari isi kitab maka dia menghaturkan terima kasih, kemudian minta maaf karena tidak dapat menjadi ketua Kun-lun-pai seperti yang diharapkan oleh Thai Kek Couwsu.


Dia sendiri pun telah masuk ke kamar ini, dan hal itu merupakan jodoh baginya, membuat dia berhak memiliki kitab. Ada pun mengenai menjadi ketua Kun-lun-pai, dia sama sekali tak menghendakinya seperti yang diharapkan oleh pencipta kitab ini. Biarlah seperti suhu akan kupelajari isi kitab ini dan kelak akan kuserahkan kitab ini kepada ketua Kun-lun-pai, pikirnya.


Demikianlah, lupa bahwa agaknya tak ada harapan lagi baginya untuk keluar dari tempat itu, Keng Hong mengambil kitab kemudian meneliti keadaan kamar itu. Ia melihat sebuah peti hitam di sudut kamar dan saat peti itu dibukanya di dalamnya penuh dengan pakaian-pakaian sutera putih dan kitab-kitab tentang Agama To!


Sudah banyak dia membaca kitab-kitab Agama To ketika menjadi kacung di Kun-lun-pai, dan tentang pakaian itu, dia merasa berterima kasih sekali oleh karena memang dia amat memerlukan pakaian sebagai pengganti pakaiannya yang sudah empat tahun tak diganti, dan kini robek-robek ketika dia berjuang melawan maut di tambang tadi.


Setelah makan dan minum untuk memulihkan tenaganya. Terkejut dan giranglah hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa kitab tebal ini terisi petunjuk-petunjuk inti sari ilmu silat tinggi sekali, termasuk petunjuk mengenai penggunaan sinkang, ilmu silat tangan kosong dan ilmu silat pedang yang berdasarkan ilmu sakti Thai-kek Sin-kun!

__ADS_1


Baru sekarang ia mengerti bahwa kesaktian gurunya sebagian besar disempurnakan oleh isi kitab ini dan dia dapat menduga kenapa gurunya tidak menurunkan ilmu ini kepadanya. Tiada lain adalah karena gurunya merasa tak dapat menjadi ketua Kun-lun-pai maka tidak berhak untuk menurunkan ilmu itu kepada orang lain. Diam-diam dia kagum sekali kepada gurunya yang biar pun merupakan seorang petualangan, namun sesungguhnya memiliki jiwa gagah perkasa yang tidak sudi melanggar janji tak tertulis dan tak terucapkan antara dia dan Thai Kek Couwsu!


"Teecu pun bersumpah tidak akan memperlihatkan kitab ini atau memberitahukan isinya kepada orang lain kecuali ketua Kun-lun-pai," demikian bisik hati Keng Hong dan mulailah dia membaca kitab itu penuh perhatian.


Mulailah dia berlatih dengan tekun sekali dan dengan hati girang dia mendapat kenyataan bahwa semua yang telah dipelajarinya, baik dari mendiang suhu-nya mau pun tambahan-tambahan yang dia dapatkan dari berbagai kitab pusaka peninggalan gurunya yang dia bacakan kepada Cui Im, semua inti sarinya termuat dalam kitab ini, maka semua ilmu itu dapat disempurnakan.


Lebih gembira lagi hatinya ketika mendapatkan petunjuk mengenai cara untuk menguasai tenaga sinkang dan di bagian akhir kitab itu dia menemukan pula cara untuk menguasai tenaga sedot dari sinkang-nya! Tanpa disengaja karena terciptanya tenaga sedot di tubuh Keng Hong memang merupakan suatu kebetulan yang tidak disengaja oleh gurunya mau pun olehnya sendiri, kini ia telah menguasai ilmu yang dianggap sudah musnah dari dunia kang-ouw, yaitu ilmu mukjijat Thi-khi I-beng!


Setahun lamanya Keng Hong melatih diri menurut petunjuk kitab itu dan sekarang di luar kesadarannya sendiri, dia telah mendapat kemajuan yang jauh melampaui yang diperoleh Cui Im selama berlatih empat tahun!

__ADS_1


Setelah dia mempelajari kitab sampai habis dalam waktu setahun, mulailah dia merenung dan sering kali dia duduk di pinggir jurang, memandang jarak yang didudukinya dan tepi jurang di seberang yang kini amat sunyi, tidak lagi terdengar suara ketawa Cui Im, tidak lagi tampak berkelebatnya bayangan merah pakaian gadis cantik dan genit itu. Keningnya berkerut apa bila membayangkan betapa kini semua pusaka dibawa lari Cui Im, terutama sekali kalau membayangkan betapa gadis itu tentu akan melakukan perbuatan-perbuatan yang luar biasa sehingga menggegerkan dunia kang-ouw.


Betapa mungkin keluar dari tempat ini? Sungguh merupakan hal yang amat sukar untuk menyeberang ke sana tanpa jembatan.


Sukar? Bukankah suhu-nya dahulu sering mengatakan bahwa tidak ada hal yang sukar di dunia ini? Ataukah dia yang bodoh? Namun gurunya juga pernah mengatakan bahwa tak ada manusia pintar atau bodoh di dunia ini.


Keng Hong memejamkan matanya dan mengingat-ingat, apa pun yang dikatakan gurunya dahulu tentang sukar dan mudah, tentang bodoh dan pintar. Dia ingat betapa dahulu dia membantah, kemudian betapa dia dapat menangkap inti sari wejangan itu sehingga dapat membenarkannya. Ahhh…, dia ingat sekarang.


"Di dunia ini tidak ada hal yang sukar mau pun yang mudah, muridku. Juga tidak ada atau tidak tepat bila disebut seseorang itu bodoh atau pun pintar. Biasanya, orang berpendapat sukar adalah pendapat orang bodoh dan mudah itu pendapat orang pintar. Sebenarnya tidak demikian. Tidak ada sukar, tidak ada mudah, tidak ada bodoh tidak ada pintar. Yang ada hanya MENGERTI dan BELUM MENGERTI. Yang mengerti tentu bisa dan apa bila sudah bisa menjadi mudah. Yang belum mengerti tentu tidak bisa dan kalau belum bisa menjadi sukar. Jadi, tidak ada hal yang sukar di dunia ini selama orang mau belajar agar mengerti dan bisa. Kalau belum mengerti, carilah, gunakan akal budi yang dianugerahkan kepadamu sebagai manusia. Segala hal pasti akan dapat diatasi!"

__ADS_1


Demikianlah wejangan gurunya yang kini terngiang di telinganya. Cari, cari caranya! Pasti akan dia dapatkan! Biar dia terhalang jurang begini lebar, biar pun tampaknya amat sukar dan tidak ada jalan keluar, hal ini hanya karena dia BELUM MENGERTI jalannya maka harus dia cari sampai dapat!


Dengan landasan wejangan gurunya ini, sejak saat itu Keng Hong memutar otak, mencari akal bagaimana dia akan dapat keluar dari tempat itu. Menggunakan ilmu kepandaiannya melompati jurang, tidak akan mungkin. Hal seperti ini tentu hanya mampu dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam dongeng seperti Sun Go Kong atau Kauw Cee Thian si raja kera putih dalam dongeng See-yu saja!


__ADS_2