
Sembilan orang tokoh kang-ouw, yang tadinya terpelanting ke kanan kiri, sesudah dapat memandang tiga orang ini, tampak terkejut sekali, tercengang dan gentar. Tiga orang manusia iblis ini memang jarang muncul di dunia ramai, namun sebagai tokoh-tokoh kang-ouw kenamaan tentu saja mereka mengenal siapa adanya tiga datuk persilatan, raja-raja dari golongan sesat ini.
Nenek itu bukan lain adalah Ang-bin Kwi-bo (Nenek Iblis Muka Merah) yang seolah-olah merajai kaum sesat pada sepanjang pantai laut timur. Kakek tinggi besar berkulit hitam dengan senjata dua buah tengkorak itu adalah Pak-san Kwi-ong (Raja Setan Gunung Utara) yang merajai kaum sesat di sepanjang tembok besar di utara, bahkan terkenal sekali dan ditakuti oleh bangsa-bangsa Mongol, Mancu dan lain-lain. Orang ketiga yang kate dan bersikap seperti dewa itu dikenal dengan nama julukan Pat-jiu Sian-ong (Raja Dewa Lengan Delapan), karena Pat-jiu Sian-ong ini selalu merantau ke barat dan tidak pernah ada tokoh yang sanggup menandinginya. Inilah tiga orang di antara empat datuk kaum sesat yang pada masa itu merupakan tokoh-tokoh yang tertinggi ilmunya dan yang tersebar merajai empat penjuru.
"Ha-ha-ha!" Pak-san Kwi-ong tertawa mengejek dan menyapu sembilan orang itu dengan pandang matanya. Biji matanya yang putih itu bergerak-gerak lliar ke kanan kiri, sungguh menyeramkan. "Ternyata sembilan tikus ini pun kepingin mendapatkan Siang-bhok-kiam! Ha-ha-ha! Memang benar sekali, sebelum berhak mendapatkan pedang pusaka, harus menjadi pemenang terlebih dulu. Kalian ini tikus-tikus pelbagai golongan, setelah melihat kami bertiga datang, tidak lekas menggelinding pergi, apakah ingin kami turun tangan dan menjadikan kalian sebagai setan-setan tanpa kepala?"
"Kwi-ong, usir saja anjing-anjing itu. Apa bila dibunuh, tentu kelak teman-temannya akan menggonggong, akan membikin repot saja!" kata Ang-bin Kwi-bo sambil menyeringai.
Sembilan orang itu adalah tokoh-tokoh dunia kang-ouw golongan bersih. Meski pun pada saat itu mereka saling bertentangan dalam memperebutkan Siang-bhok-kiam, akan tetapi mereka tetap merasa diri mereka bersih. Kini menghadapi tiga orang tokoh yang menjadi datuk kaum sesat, tentu saja mereka merasa bertemu dengan lawan sehingga otomatis mereka melupakan pertentangan sendiri, di dalam hati sudah bersatu untuk menghadapi tiga lawan yang mereka tahu memiliki kesaktian hebat itu. Namun sebagai tokoh-tokoh besar dunia persilatan, mereka tidak menjadi gentar.
__ADS_1
"Bagus! kalau kami tidak salah kira kalian bertiga ini tentulah tiga orang di antara Bu-tek Su-kwi (Empat Iblis Tanpa Tanding)! Memang, siapa yang paling kuat di antara kami berhak memiliki Siang-bhok-kiam, akan tetapi kalian ini iblis-iblis berwajah manusia tidak masuk hitungan, dan sudah menjadi kewajiban kami semua pendekar golongan bersih untuk membasmi iblis-iblis kaum sesat macam kalian bertiga!"
Terdengar suara ketawa terkekeh melengking tinggi dan Ang-bin Kwi-bo telah menerjang maju menyerang Sin-to Gihiap yang bicara tadi. Pendekar ahli golok yang sudah berusia delapan puluh tahun, sudah banyak pengalamannya bertanding dan pada masa itu sukar dicari tandingannya dalam permainan golok, menjadi kaget bukan main karena nenek itu menyerangnya dengan senjata yang amat luar biasa, yaitu....rambutnya!
Rambut yang gimbal kasar panjang ini bagai ratusan ekor ular serentak menerjangnya, mengeluarkan suara seperti anak panah menyambar dan didahului bau amis seperti ular beracun. Cepat Sin-to Gi-hiap memutar goloknya untuk menjaga diri, namun sebagian dari pada rambut itu menggulung goloknya dan sebagian lagi terus menyambar ke arah lehernya!
Thian Ti Hwesio menggunakan Liong-cu-pang menghantam kepala nenek itu, sedangkan Thian Kek Hwesio menggerakkan jubahnya menangkis ke arah rambut yang mengancam nyawa Sin-to Gi-hiap! Sambil terkekeh aneh Ang-bin Kwi-bo menarik kembali rambutnya dan melangkah mundur kemudian ia mengulurkan kedua lengan, lengan kiri menyampok Liong-cu-pang sehingga hampir saja terlepas dari pegangan Thian Ti Hwesio, sedangkan lengan kanannya melingkar di depan dada.
Kini sepuluh buah kuku jari tangan nenek itu telah berubah makin menghitam dan jari-jari tangan itu bergerak-gerak aneh, sangat mengerikan. Betapa pun juga, dua orang tokoh Siauw-lim-pai bersama Sin-to Gi-hiap tidak menjadi gentar dan siap-siap mengurungnya.
__ADS_1
Pendekar-pendekar tua yang lain tidak tinggal diam. Walau pun tidak ada yang memimpin dan tidak ada komando, mereka sudah menerjang maju. Kiu-bwe Toanio bersama dua orang tokoh Hoa-san-pai telah maju mengurung Pak-san Kwi-ong. Kiu-bwe Toanio lantas menggerak-gerakkan pecut berekor sembilan yang mengeluarkan bunyi ledakan-ledakan kecil, sedangkan kedua orang tokoh Hoa-san-pai itu sudah menyatukan pedang mereka.
Sedangkan sepasang suami isteri piauwsu, yakni Hek-houw Tan Kai Sek dan isterinya, bersama Kok Cin Cu tokoh lihai Kong-thong-pai, telah mengurung Pat-jiu Sian-ong yang tampak tenang-tenang saja. Si kate kepala besar ini hanya mengebut-ngebutkan hudtim di tangannya seperti orang mengusir lalat, namun hudtim yang hanya dikebut-kebutkan perlahan-lahan itu mengeluarkan suara bersiutan seakan-akan datang angin topan yang dahsyat! Suara ini diimbangi oleh suara menderu yang keluar dari rantai yang ujungnya ada sepasang tengkoraknya, yaitu senjata yang kini diayun-ayun oleh Pak-san Kwi-ong.
Keng Hong menonton dengan jantung berdebar-debar. Sungguh keadaan telah berubah amat mengherankan. Sembilan orang yang tadinya saling bertanding dan bayangannya lenyap terganti oleh sinar-sinar berkelebatan, kini bersatu padu menghadapi ketiga orang manusia iblis yang mengerikan. Meski pun mereka itu belum saling serang, akan tetapi keadaan sudah amat menegangkan.
Ketika Keng Hong melirik ke arah kakek tua renta yang duduk bersila, dia melihat betapa Sin-jiu Kiam-ong masih duduk diam tidak bergerak, namun senyum mengejek di bibirnya kini tidak tampak lagi dan kedua mata yang tadinya dipejamkan kini terbuka. Keng Hong terkejut karena sepasang mata kakek tua renta itu mengeluarkan sinar yang berkilat!
Akan tetapi perhatian Keng Hong segera tertarik dengan pertandingan yang telah dimulai. Begitu dia mengalihkan pandangan matanya, dia menjadi pening. Pertandingan sekali ini ternyata lebih hebat dan cepat dari pada tadi. Bayangan-bayangan manusia berkelebat, sukar dia mengenali bayangan siapa, berkelebatan cepat di antara sinar-sinar terang dan gulungan-gulungan uap hitam, kemudian terdengar pula bermacam-macam suara yang menusuk-nusuk telinga, selain itu tercium bau yang amis dan keras memuakkan.
__ADS_1