Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 13 part 6


__ADS_3

Tentu tambang itu tadinya terpasang melintang di atas jurang. Dan setelah menyeberang mempergunakan ginkang-nya yang memang sudah mencapai tingkat tinggi, yaitu berjalan di atas tambang, gadis itu kemudian melepaskannya dan menggulungnya. Tentu ada cara melepaskan yang mudah dari seberang, mungkin juga kedua ujung tambang itu dipasangi kaitan dan karena kedua tempat itu terdiri dari batu-batu yang kasar dan runcing, maka mudahlah melemparkan kaitan ke seberang sehingga dapat tercipta jembatan tambang dan dengan menyendal-nyendal dapat pula kaitan di seberang dilepaskan.


"Hi-hi-hik, engkau mimpi, Keng Hong. Andai kata kelak engkau dapat mencariku, setelah aku mempelajari lima buah kitab ini, engkau akan bisa berbuat apakah terhadap aku? Pula, engkau tidak akan dapat bertahan lama bertahan di situ, tidak ada bahan makanan, tidak ada air dan belum lagi diingat bahwa tokoh-tokoh itu tentu akan mencarimu. Aku akan pergi meninggalkanmu di situ dan membawa kitab-kitab ini. Sudah kuperiksa isinya dan kalau dapat berlatih selama lima tahun saja, di dunia ini tidak akan ada orang yang mampu melawanku!"


Keng Hong bukan seorang yang bodoh. Tidak, sebaliknya malah. Dia cerdik sekali dan pikirannya dapat dikerjakan secara cepat menarik kesimpulan-kesimpulan. Mengapa Cui Im setelah mengambil jembatan tambang itu tidak lekas pergi malah menantinya di situ? Hanya untuk mengejek? Tak mungkin!


Seorang yang sudah mendapatkan pusaka kitab-kitab yang diinginkan oleh seluruh tokoh kang-ouw tentu merasa terlalu tegang untuk main-main dan mengejek, tentu akan terus pergi melarikan diri dan cepat-cepat mempelajari isi kitab. Akan tetapi Cui Im menantinya di situ. Membual! Ya, gadis itu tentu sengaja membual untuk menutupi kelemahannya. Ia mengangguk-angguk dan berkata,


"Cui Im, siapa percaya bualanmu? Engkau menemui jalan buntu, tak dapat meninggalkan tempat itu. Jalan keluar hanya melalui lorong ini dan kau terjebak di situ, tidak dapat terus dan tidak dapat kembali. Nah, katakan, apa kehendakmu dariku?"


Cui Im terperanjat sekali hingga meloncat berdiri. "Eh, eh, eh, bagaimana kau bisa tahu?" Saking kaget dan herannya dia sampai tidak dapat menyimpan rahasianya lagi.


Keng Hong tersenyum. "Kalau ada jalan keluar di sebelah sana, tentu engkau tidak akan menunggu hanya untuk berbicara denganku. Engkau sudah mencuri lima buah kitab dan mungkin dapat kau pelajari di situ hingga engkau menjadi seorang sakti. Akan tetapi apa gunanya kalau kau tak dapat keluar, menjadi nenek-nenek dan mati kering di situ?"


"Aku akan menanti kesempatan. Setelah kepandaianku meningkat tinggi, maka aku akan menggunakan jembatan tambang ini menyeberang ke situ dan membunuhmu!"

__ADS_1


"Ha-ha-ha, bicara sih mudah. Akan tetapi boleh kau coba. Aku tidak bodoh, nona manis. Aku akan selalu waspada dan sekali saja tambang itu kau lontarkan ke sini, akan kunanti sampai kau menyeberang di tengah-tengah, kemudian tambang itu akan kubikin putus di sebelah sini. Wah, tentu lucu sekali melihat kau terbang ke bawah sana."


Cui Im lalu membanting-banting kakinya. "Keng Hong engkau manusia kejam!" Kemudian suaranya mengandung isak ketika dia berkata lagi, "Engkau laki-laki yang tidak mengenal budi, tidak tahu dicinta orang! Sesudah dengan susah payah aku selalu membayangimu, melindungimu, menyatakan cinta kasihku dengan perbuatan, membiarkan diriku terancam bahaya, membebaskanmu dari tangan musuh-musuhmu, kau… kau..." Akan tetapi Cui Im segera teringat bahwa dia kelepas bicara, akan tetapi terlambat karena Keng Hong sudah meloncat berdiri dan muka pemuda itu menjadi merah sekali.


"Cui Im! Jadi... engkaukah orangnya...? Engkaukah yang selama ini terus membayangiku, membunuh murid wanita Hoa-san-pai lalu membunuh murid-murid Kong-thong-pai dengan racun? Engkaukah gerangan orangnya?"


Cui Im tidak dapat mundur kembali dan baginya sudah kepalang. Kini dia tidak perlu lagi merahasiakan perbuatannya.


"Benar! Akulah orangnya yang melakukan itu semua! Demi cintaku padamu, Keng Hong, dengarkah engkau? Demi cintaku kepadamu, bukan cinta seperti yang pernah kurasakan terhadap pria mana pun juga. Aku cinta kepadamu, akan tetapi engkau buta!"


Jantung Keng Hong berdebar keras. "Jadi engkaukah yang membunuh Sim Ciang Bi dan membunuh murid-murid wanita Kong-thong-pai pula? Mengapa?"


"Dan... ketika malam gelap itu... yang datang kepadaku, merayuku penuh cinta kasih... Engkau pulakah itu?"


Cui Im tertawa genit. "Hi-hik-hik, benar aku! Masa engkau tidak mengenal aku? Biar pun aku tidak bicara banyak, apakah engkau tak mengenal suaraku, tak mengenal kesedapan keringatku? Hi-hi-hik!"

__ADS_1


"Cui Im...! Kenapa kau lakukan itu?"


"Kenapa? Sebab kau selalu menolakku dan aku sudah amat cinta kepadamu. Hatiku perih sekali harus berpura-pura seperti itu..."


"Bukan itu maksudku! Kenapa engkau mengenakan pakaian putih, menggunakan senjata rahasia dan senjata-senjata Biauw Eng? Kenapa engkau menyamar sebagai Biauw Eng?"


"Kenapa? Ahh… biar dia rasakan! Sumoi berani sekali merampas engkau dari tanganku! Berani dia berlancang mulut menyatakan cinta kasihnya kepadamu, padahal biasanya sumoi menganggap cinta sebagai sebuah pantangan besar! Panas hatiku, dan biar dia tahu rasa, berani merebut cinta kasih kasih suci-nya!"


Kedua telinga Keng Hong terasa panas dan andai kata Cui Im berada di depannya tentu sudah ditamparnya perempuan itu. Akan tetapi dia menekan kemarahannya dan hatinya menjadi girang sekali. Girang, terharu dan menyesal.


Girang karena sekarang ia mendapat kenyataan bahwa Biauw Eng bukanlah wanita jahat seperti yang dikiranya. Biauw Eng suci dan bersih. Terharu karena teringat betapa Biauw Eng melindungi dirinya mati-matian, bahkan mengakui segala perbuatan yang dituduhkan olehnya dengan dasar membela dan melindunginya. Betapa besar dan murni cinta kasih gadis itu kepadanya!


Cinta yang amat mengharukan, apa lagi kalau dia teringat bahwa gadis itu adalah puteri suhu-nya! Dan dia menyesal, dia menyesal kepada diri sendiri sehingga mau rasanya dia menampari mukanya sendiri bila teringat betapa dia sudah menjatuhkan fitnah-fitnah keji terhadap gadis itu, bahkan menangkapnya untuk dibunuh oleh para tokoh kang-ouw.


"Cui Im... mengapa engkau bisa sekeji itu?" tanyanya dengan suara perlahan.

__ADS_1


"Keji apa? Mereka yang keji, dan sumoi yang bersalah kepadaku. Demi cintaku padamu, aku rela melakukan apa juga. Bahkan sekarang ini aku rela pula mengalah padamu, aku ingin berdamai denganmu, Keng Hong."


Keng Hong menahan kemarahannya. Di dalam keadaan seperti ini, dia harus bersabar.


__ADS_2