
Keng Hong memandang dengan mata terbelalak dan dada berdebar. Dia melihat betapa kakek tua renta yang duduk bersila itu sama sekali tidak bergerak, masih memejamkan mata akan tetapi senyum di mulutnya jelas mengandung ejekan, seakan-akan kakek itu menahan rasa geli dan memaksa diri tidak tertawa bergelak.
Dia sendiri pun merasa geli dan ingin tertawa menyaksikan tingkah laku sembilan orang itu yang dianggapnya seperti badut-badut tak tahu malu atau seperti segerombolan anjing hendak memperebutkan tulang. Dari tempat dia sembunyi, pedang di depan kakek tua itu memang seperti sepotong tulang saja. Akan tetapi mana mungkin dia bisa tertawa kalau menyaksikan sembilan orang itu kini telah mengeluarkan senjata semua?
Pada lain saat pandang Keng Hong menjadi silau dan kabur, telinganya seperti tuli ketika terdengar suara desing senjata yang hiruk pikuk, matanya melihat sinar-sinar berkelebat. Dia ternganga keheranan dan hampir tidak dapat mempercayai pandang matanya sendiri.
Tubuh sembilan orang-orang tua itu telah lenyap dan yang tampak kini hanya bayangan-bayangan berkelebatan dibungkus bermacam-macam sinar, ada merah, putih, hijau dan kuning. Suaranya juga bising sekali, ada suara meledak-ledak seperti halilintar, suara mendesis seperti ular marah, suara bersuitan seperti angin badai, berkerosokan seperti angin mengamuk dan berdentangan, seperti di situ terdapat banyak pandai besi bekerja!
Di tengah-tengah semua hiruk pikuk dan sinar berkelebatan itu, jelas nampak kakek tua renta masih duduk bersila dengan mulut tersenyum lebar. Pedang kayu itu masih tetap menggeletak mati di depan kakinya.
Pertempuran yang kacau-balau itu amat serunya dan terutama sekali perhatian masing-masing ditujukan untuk mencegah lain orang merampas pedang. Maka, sampai lama tak ada korban yang jatuh, apa lagi karena mereka itu terdiri dari orang-orang yang sudah mencapai tingkat tinggi dalam ilmu silat. Tanpa mereka sadari, mereka itu saling bantu dalam pertempuran kacau-balau itu.
__ADS_1
Biar pun kedua matanya dipejamkan, telinga Sin-jiu Kiam-ong dapat menangkap jalannya pertandingan dan hatinya terpingkal-pingkal, akan tetapi juga mata hatinya terbuka lebar. Beginilah watak manusia di seluruh jagat, pikirnya. Pertempuran antara tokoh besar ini mencerminkan keadaan di dunia, mencerminkan watak manusia yang sangat bodoh dan lucu, seolah-olah manusia di dunia ini memainkan peran badut yang menggelikan!
Manusia di dunia ini selalu saling hantam, saling memperebutkan demi pemuasan nafsu pribadi yang mereka sebut cita-cita. Padahal, hakekatnya mereka hanya memperebutkan kedudukan, atau nama, atau harta, atau pemuasan nafsu. Untuk mencapai ‘cita-cita’ ini, mereka tidak segan-segan untuk saling menjatuhkan fitnah, saling menyalahkan, saling mengejek, saling menipu, saling merugikan dan apa bila perlu saling membunuh!
Yang besar melahap yang kecil, yang kecil mencaplok yang lebih kecil lagi sedangkan yang besar dilalap oleh yang lebih besar lagi! Kedudukan, kemuliaan, nama besar, harta benda, benda-benda indah, wanita cantik diperebutkan secara tak tahu malu seolah-olah kesemuanya itu akan mendatangkan bahagia dalam hidup masing-masing.
Padahal, dan hal ini sudah dialami oleh Sin-jiu Kiam-ong selama petualangannya puluhan tahun, semuanya itu kosong belaka. Semuanya itu akan musnah kenikmatannya setelah didapatkannya, bukan kebahagiaan yang didapat, melainkan terlalu sering sekali bahkan mendatangkan kepahitan. Karena yang menang akan mabuk dan diintai mata dan hati si kalah yang penuh iri dan dendam, yang kalah akan mabuk oleh dendam dan penasaran sehingga mencari segala daya upaya untuk menjatuhkan kembali yang menang!
Tiba-tiba terdengar suara ketawa tergelak-gelak. Suara tawa yang memekakkan telinga, yang membuat Keng Hong tiba-tiba saja roboh berlutut karena kedua kakinya menggigil. Tampak berkelebat tiga bayangan hitam dan pertandingan yang tadinya kacau balau itu tiba-tiba berhenti karena sembilan orang itu terpelanting ke kanan kiri.
Sekarang mereka bersembilan berdiri siap siaga dengan wajah penuh keringat, mata liar mengganas memandang ke arah tiga orang yang mendadak muncul dan yang sekaligus membuat mereka yang sembilan orang tokoh-tokoh kenamaan yang berilmu tinggi itu terpelanting ke kanan kiri.
__ADS_1
Keng Hong kini dapat berdiri kembali dan dia pun mengintai, memandang ke arah tiga orang itu. Jantungnya berdebar keras dan mulutnya melongo, matanya terbelalak, hatinya diliputi kengerian. Tentu bukan manusia yang muncul ini, melainkan tiga iblis penghuni hutan.
Belum pernah Keng Hong melihat orang-orang yang memiliki wajah dan tubuh demikian mengerikan. Orang pertama adalah seorang nenek yang rambutnya kemerahan, rambut gimbal yang kasar serta riap-riapan menutupi sebagian mukanya. Muka itu sendiri merah seperti udang direbus, mulutnya menyeringai memperlihatkan gigi yang besar-besar dan panjang-panjang sehingga bibirnya tidak dapat tertutup dan selalu menyeringai.
Pakaiannya dari sutera hitam berkembang merah dengan potongan ketat hingga melekat di kulit tubuhnya, mencetak tubuhnya bagaikan telanjang bulat sehingga tampak betapa sepasang buah dadanya besar-besar seperti buah semangka. Nenek ini tidak memegang senjata, akan tetapi sepuluh buah kuku jari tangannya panjang-panjang dan meruncing seperti sepuluh batang pisau yang hitam kemerahan, amat mengerikan!
Orang ke dua adalah seorang kakek yang usianya sebaya dengan nenek itu, kurang lebih delapan puluh tahun. Tubuhnya tinggi besar laksana raksasa, tentu sedikitnya ada dua meter, besar dan kulitnya hitam arang penuh bulu. Apa bila tidak pakai pakaian dia tentu lebih patut disebut orang hutan.
Pakaiannya juga dari sutera berwarna berkembang. Oleh karena kulit mukanya juga hitam seperti arang, maka tampaklah biji matanya putih lebar menyeramkan. Kedua telinganya seperti telinga gajah, lebar. Yang mengerikan adalah sepasang tengkorak kecil, agaknya tengkorak anak-anak, yang tergantung pada kedua rantai baja, dua buah tengkorak yang sudah menghitam dan agaknya mengeras seperti besi karena kedua tengkorak itu telah direndam racun sampai puluhan tahun lamanya.
Ada pun orang ke tiga, sungguh pun tidak tinggi besar menyeramkan, akan tetapi cukup mengerikan karena bentuknya yang tidak lumrah. Tubuhnya kecil kate, namun kepalanya besar sekali dan berbentuk lonjong seperti buah labu. Mukanya sempit dengan sepasang mata yang hanya merupakan dua buah garis kecil, sikapnya pendiam dan alim. Tangan kanannya memegang sebatang hudtim (kebutan dewa) yang gagangnya hitam namun bulu kebutannya putih. Kedua lengannya bersedakap dan bibirnya selalu bergerak-gerak seperti orang membaca doa!
__ADS_1
Yang tertawa-tawa adalah nenek dan kakek tinggi besar itu. Kini pun kakek tinggi besar masih tertawa sehingga dua buah tengkorak kecil yang tergantung di pinggangnya turut bergerak-gerak dan saling beradu menimbulkan suara seolah-olah dua buah tengkorak itu ikut pula tertawa.