Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 01 part 5


__ADS_3

Kakek tua renta itu mengerutkan keningnya, akan tetapi senyumnya masih ramah ketika ia menjawab. "Bermacam-macam alasan yang dikemukakan dan bermacam-macam pula yang dipergunakan, tetapi sebenarnya mengandung maksud yang sama. Wahai Hoa-san Siang-sin-kiam, aku tidak menyangkal semua tuduhan Hoa-san-pai, memang aku pernah mencuri murid perempuan, pedang pusaka dan ramuan obat. Akan tetapi semua tokoh Hoa-san-pai tahu belaka bahwa murid perempuan Hoa-san-pai, mendiang Cui Bi yang cantik manis, dahulu pergi mengikuti aku secara suka rela dan berdasarkan cinta kasih, bukan karena kupaksa! Ada pun pedang pusaka Hoa-san-pai, hingga sekarang pun masih kusimpan bersama koleksiku yang lain, karena memang aku penyayang barang-barang pusaka. Tentang ramuan obat yang dibuat oleh mendiang Sucouw kalian, ha-ha-ha telah membuka rahasia sucouw kalian karena ternyata obat itu adalah obat perangsang bagi pria tua agar supaya dapat kembali bersemangat laksana seekor kuda jantan yang muda. Ha-ha-ha!"


Dua orang pendekar itu sejenak saling pandang, kemudian wajah mereka menjadi merah. Ucapan Sin-jiu Kiam-ong itu merupakan penghinaan bagi Hoa-san-pai, apa lagi kata-kata yang terakhir. Setelah saling memberi isyarat dengan pandang mata, kedua orang tokoh Hoa-san-pai itu menggerakkan tangan dan…


"Singgg…!" tampak dua sinar berkelebat ketika mereka mencabut pedang mereka.


"Sin-jiu Kiam-ong, ucapanmu yang menghina ini telah menambah dosamu terhadap kami. Biar pun engkau memakai sebutan Raja Pedang, jangan kira bahwa kami dua saudara Coa jeri padamu. Hadapilah sepasang pedang sakti dari Hoa-san!" tantang Coa Kiu sambil melintangkan pedang, sedangkan adiknya, Coa Bu juga sudah siap dengan pedangnya.


Mereka ini masing-masing hanya berpedang tunggal, akan tetapi karena mereka ini kalau memainkan pedang bersama merupakan pasangan yang amat kompak dan hebat, maka kedua orang ini mendapat julukan Sepasang Pedang Sakti!


"Hemmm, aku selamanya tidak suka berbohong, dan ucapanku tadi hanya ucapan terus terang dan apa adanya, sama sekali tak ingin menghina siapa-siapa. Kalau kalian hendak memperlihatkan Siang-sin-kiam untuk menundukkan aku, maka kalian telah melamunkan hal yang bukan-bukan karena aku tak mudah ditundukkan oleh siapa pun juga, termasuk kalian orang-orang Hoa-san-pai!" Ucapan ini dikeluarkan dengan halus dan lunak, namun mengandung kekerasan melebihi baja.


Coa Kiu dan Coa Bu mengeluarkan seruan keras, pedang mereka segera berkelebat dan tahu-tahu telah menjadi sebuah gulungan cahaya tebal dan panjang, mengeluarkan suara bercuitan dan bayangan tubuh mereka lenyap tergulung sinar pedang yang menjadi satu. Dengan suara mencicit nyaring, mendadak gulungan sinar pedang ini melayang ke arah sebatang pohon dan pecah menjadi dua, lalu bagaikan mata gunting dua gulungan sinar ini menggunting batang pohon.


Tidak terdengar sesuatu dan tidak terjadi sesuatu, namun begitu gulungan sinar pedang itu melayang kembali ke tempatnya dan sinar pedang berubah kembali menjadi dua orang kakek Hoa-san-pai yang sudah berdiri berdampingan, tiba-tiba batang pohon itu tumbang dan tampak bekas pedang yang halus membuat batang pohon itu seolah-olah baru saja digergaji!


"Ha-ha-ha-ha, kalian ini pun bukan lain hanyalah kanak-kanak tukang merusak tanaman!" Sin-jiu Kiam-ong mentertawakan.

__ADS_1


Kakek Coa Kiu dan Coa Bu marah sekali. “Sin-jiu Kiam-ong, beranikah kau mengahadapi pedang kami?"


"Mengapa tidak?"


"Lihat pedang!"


Dua orang kakek itu kembali menggerakkan pedang dan seperti tadi, dua gulungan sinar terang menjadi satu, menjadi gulungan yang amat kuat dan tiba-tiba saja terdengar suara mencicit keras ketika sinar pedang itu menyambar ke arah Sin-jiu Kiam-ong. Kakek itu tertawa sambil menyambar pedang kayu di depan kakinya, lalu menggerakkan pedang kayu menusuk ke arah sinar pedang yang menyambarnya seperti kilat itu.


"Cing..cing..trang......!"


Gulungan sinar pedang yang berkelebat itu menjadi kacau gerakannya. Meski berkali-kali mengitari tubuh Sin-jiu Kiam-ong, berusaha membabat tubuh kakek itu, akan tetapi selalu terhalang sinar hijau dari pedang kayu, bahkan kemudian terdengar suara keras dan... sinar pedang yang tebal itu tiba-tiba pecah menjadi dua, yang satu terpental ke kanan yang lain ke kiri. Sinar pedang lenyap dan kedua orang kakek itu sudah berdiri dengan muka pucat. Ujung pedang mereka somplak sedikit.


Sin-jiu Kiam-ong yang sudah menundukkan enam orang lawannya, kini menoleh kepada tiga orang yang masih belum bergerak dan belum mengeluarkan kata-kata, sampai saat itu hanya menonton saja.


Dia melihat seorang tosu tua yang tidak dikenalnya, dan seperti tadi ketika menghadapi dua orang Hwesio Siauw-lim-pai, dia tidak berani memandang rendah. Ada pun yang dua orang lain adalah sepasang suami isteri tua yang dia tahu dulu pernah dia jumpai, namun lupa lagi kapan dan dimana.


Karena dia menganggap tosu itu lebih penting, maka dia segera menghadapinya sambil bersila dan berkata, "Maaf, kalau aku tidak ingat lagi siapa gerangan Toyu ini, akan tetapi karena Toyu sudah membuang waktu dan datang ke sini, tentu juga membawa keperluan yang amat penting."

__ADS_1


"Siancai..., Sin-jiu Kiam-ong yang sudah tua kiranya masih berwatak seperti orang muda, segan mengalah dan tidak mau menyesali dosa-dosa yang dilakukan di waktu mudanya sungguh patut disayangkan!"


"Ha-ha-ha-ha, Toyu mengeluarkan pernyataan yang amat lucu! Kalau benar dosa sudah dilakukan, apa gunanya hanya disesali? Lebih baik menyadarinya dan bersiap menerima hukumannya sebab berdosa atau tidak tergantung pada penilainya, sedangkan penilainya sendiri penuh dosa dan bergelimang nafsu mementingkan diri pribadi! Ehhh, Toyu yang baik, aku seorang yang mengutamakan kejujuran dan lebih menjunjung tinggi orang yang melakukan kesalahan namun berani mengakuinya dari pada orang yang pura-pura suci akan tetapi di dalam hatinya sangat kotor, tidak sama dengan yang keluar dari mulutnya. Karenanya, aku merasa senang sekali dengan ujar-ujar dalam agamamu, seperti ini…”


Kemudian Sin-jiu Kiam-ong mengucapkan ujar-ujar itu seperti melantunkan lagu,


“Langit tiada prikemanusiaan segala benda dianggap sebagai korban.


Orang suci tiada peri kemanusiaan semua orang dianggap sebagai korban.


Ruang antara Langit dan Bumi tiada ubahnya seperti hembusan!


Kosong namun tak pernah berkurang


makin besar gerakan makin besar tiupan!


Banyak bicara sering kali menghamburkan tenaga

__ADS_1


Lebih baik menjaga kejujuran!"


"Sin-jiu Kiam-ong, selain kekanak-kanakan engkau pun masih mempunyai kesombongan! Menggunakan ayat suci kitab To-tik-kheng untuk menghantam seorang tosu seperti pinto (aku)! Sungguh amat menyebalkan. Kiam-ong, ketahuilah bahwa pinto adalah Kok Cin Cu, utusan dari Kong-thong-pai. Jangan engkau pura-pura lupa betapa dulu engkau pernah membunuh lima orang anak murid Kong-thong-pai. Kedatangan pinto ini hendak mewakili lima orang tua Kong-thong-pai untuk menagih hutang. Kami bukanlah orang-orang yang haus darah, akan tetapi sudah cukup adil kiranya kalau engkau menyerahkan pedang Siang-bhok-kiam untuk menebus dosamu terhadap kami."


__ADS_2