Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 08 part 5


__ADS_3

Hal ini membebaskannya dari rasa malu, apa lagi kalau diingat bahwa kini banyak orang mendatangi tempat itu. Mereka ini adalah penduduk dusun yang baru berani keluar setelah perkelahian itu berakhir.


"Ah, masih untung Sam-wi dapat lolos dari pengeroyokan mereka. Harap Sam-wi segera pergi meninggalkan dusun ini, karena kalau tidak... mereka pasti segera datang lagi dan menyusahkan Sam-wi (Tuan bertiga)." Yang berkata demikian ialah seorang kakek kurus, mukanya membayangkan kegelisahan.


Keng Hong mengerutkan alis. Dia sudah membantu dan dia tak boleh kepalang tanggung membantu nona ini. "Lopek, kami tidak takut menghadapi ancaman mereka. Biarkan saja mereka datang, akan kami hajar mereka semua! Saat ini kami perlu untuk merawat adik yang terluka ini. Siapakah di antara Cu-wi (Tuan sekalian) yang sudi menolong kami dan meminjamkan tempat untuk istirahat dan berobat?"


Akan tetapi, sekian banyaknya pasang mata hanya memandangnya dengan terbelalak, penuh kekhawatiran dan tiada seorang pun yang menawarkan tempatnya. Kakek itu cepat berkata,


"Enghiong (Orang gagah) harap bisa memaklumi keadaan kami. Mereka adalah kawanan buaya darat yang tinggal di dusun tak jauh dari sini. Kalau saja mereka mendengar ada salah seorang di antara kami berani membantu Sam-wi, tentu yang membantu itu akan celaka...!"


"Pengecut!" Tiba-tiba Sim Lai Sek yang terluka pundaknya itu berseru marah. "Apakah dikira kami tidak akan membela dia yang menolong kami? Dan kami bersedia membayar sewa kamar dan harga obat!"


Keng Hong hanya tersenyum dan maklum akan rasa penasaran pemuda remaja itu, yang ternyata tampan seperti cici-nya, sepasang matanya lebar dan mukanya membayangkan keberanian.

__ADS_1


"Maaf, Siauw-enghiong. Kami tentu percaya akan kegagahan Sam-wi, akan tetapi maukah Sam-wi selamanya tinggal di dusun ini?"


"Apa...?!" Kini gadis cantik itu yang bertanya, matanya terbelalak heran dan Keng Hong terpaksa harus mengalihkan pandangnya karena mata itu amat indahnya sehingga dia khawatir kalau-kalau dia akan melongo menikmati keindahan itu.


"Nona, dan Siauw-te, harap Ji-wi memaklumi kekhawatiran mereka ini. Lopek ini benar. Memang, selama kita masih berada di sini, penjahat-penjahat itu tak akan berani datang mengganggu. Akan tetapi tidak mungkin kita tinggal selamanya di sini dan bila mana kita sudah pergi lalu mereka datang mengamuk, membalas dendam kepada penduduk dusun ini, bukankah sama saja artinya dengan kita yang mencelakakan penduduk di sini?"


Enci dan adik itu tercengang dan mengangguk-angguk. "Ahhh, kalau begitu apa gunanya ada penjaga keamanan? Apa gunanya ada pembesar setempat? Bukankah di sini ada kepala dusun wakil pemerintah?" Sim Lai Sek masih mencoba untuk menyatakan rasa penasarannya.


Kakek itu menggeleng kepala dan menghela napas panjang. "Siauw-enghiong, hal begini saja masakah Enghiong masih belum tahu? Semenjak saya masih kanak-kanak sampai sekarang sudah kakek-kakek, mana ada jaminan keamanan dan keselamatan bagi rakyat jelata? Memang selalu ada penjaga keamanan, juga ada pembesar setempat, akan tetapi kenyataan pahit yang menyedihkan namun tidak dapat disangkal adalah bahwa penjaga keamanan di sini hanya namanya saja penjaga keamanan, akan tetapi pada kenyataanya adalah pengacau keamanan. Mereka hanya menjadi pelindung-pelindung bayaran, yang menggunakan kekuasaan untuk kesenangan sendiri. Ada pun pembesar hanya namanya saja besar, akan tetapi, jiwanya kecil dan lalim. Sudahlah, harap Sam-wi memaklumi keadaan kami rakyat kecil yang melarat dan tidak menambah beban kami yang sudah berat."


Tanpa menanti lagi dia segera membungkuk dan memondong tubuh Sim Lai Sek yang terluka. Pemuda remaja ini sudah amat lemah, bukan hanya oleh lukanya di pundak yang mematahkan tulangnya, namun juga karena lemas akibat kehilangan banyak darah.


"Di luar dusun, di dalam hutan sebelah barat terdapat sebuah kuil yang kosong. Kiranya Sam-wi dapat beristirahat di sana. Sam-wi dapat membawa bekal makanan dan bahan obat," kata pula si kakek yang sesungguhnya menaruh rasa kagum dan simpati kepada tiga orang muda yang sudah berani menentang para buaya darat yang semenjak dahulu merupakan gangguan di dusun itu.

__ADS_1


Setelah Ciang Bi, gadis itu, membeli obat-obat dan bahan makanan, berangkatlah mereka bertiga keluar dari dusun memasuki hutan sebelah barat dan benar saja, di tengah hutan itu mereka menemukan sebuah kuil tua yang kosong, akan tetapi lumayan untuk tempat berteduh dan mengaso. Keng Hong lalu merebahkan tubuh Lai Sek di atas lantai yang sudah dibersihkan oleh Ciang Bi. Kemudian dia membantu gadis itu menggodok obat dan merawat Lai Sek.


Setelah pemuda remaja itu minum obat, makan bubur dan tertidur nyenyak, Ciang Bi dan Keng Hong duduk di ruang luar kuil, di atas batu-batu halus yang agaknya dahulu dipakai untuk bersemedhi para pendeta penghuni kuil. Sampai lama mereka hanya berdiam diri dan setiap kali mereka bertemu pandang, gadis itu menundukkan mukanya dan bibir yang merah dan segar selalu itu tersenyum malu-malu.


"Taihiap..."


"Ahh, jangan menyebut aku taihiap, Nona. Aku seorang biasa saja yang kebetulan dapat membantumu. Namaku Keng Hong, Cia Keng Hong."


"Tapi... kepandaianmu sunggguh amat luar biasa, Taihiap. Sungguh membuat hatiku amat kagum."


"Kepandaianmu bermain pedang pun sangat hebat, Nona. Aku yang bodoh mana dapat dibandingkan denganmu. Engkau masih muda tetapi sudah amat pandai bermain pedang, gerakanmu cekatan dan ringan, permainan pedangmu indah sekali bagai seorang bidadari menari dan kau... kau cantik jelita sekali, Nona."


Gadis itu cepat menengok dan menatap wajah Keng Hong. Akan tetapi dia tidak melihat pandang mata kurang ajar, hanya melihat sinar kekaguman yang jujur terpancar keluar dari sepasang mata yang tajam itu sehingga dia tidak jadi marah, bahkan lalu menunduk dengan muka merah, bibirnya tersenyum, matanya mengerling dan jantungnya berdenyut penuh kegembiraan. Wanita manakah di dunia ini yang takkan menjadi dak-dik-duk hatinya kalau menerima pujian-pujian yang begitu jujur dari seorang pemuda yang amat gagah perkasa dan tampan pula?

__ADS_1


Sejenak mereka diam tak berkata-kata. Keadaan ini tidak mengganggu Keng Hong yang menikmati pemandangan indah di depannya, rambut yang hitam mulus dan halus panjang terurai itu, wajah yang cantik sekali, sepasang mata seperti mata burung hong, hidung kecil mancung yang cupingnya dapat bergerak-gerak sedikit pada waktu merasa malu dan merah, mulut yang indah bentuknya dengan sepasang bibir yang seolah-olah dicat merah, merah semringah dan selalu segar, sepasang pipinya kemerahan bagaikan buah tomat setengah matang, dagu kecil meruncing yang kalau digerakkan menimbulkan lesung pipit di atasnya.


__ADS_2