
Kalau begitu sia-sia saja ia menjadi seorang di antara empat iblis yang sepatutnya membuat semua orang yang mendengar namanya menggigil ketakutan. Bocah ini sudah berada di ambang siksaan, akan dibuntungi kaki tangannya, tetapi bukannya takut malah mengejek dan menantang!
"Heh-heh-heh, siapa takut terhadap Lam-hai Sin-ni? Suruh dia datang! Kalau aku sudah dapat memiliki kitab-kitab Sin-jiu Kiam-ong, biar pun ada sepuluh Lam-hai Sin-ni, aku tidak takut. Eh, kau tidak gentar dibuntungi kaki atau tanganmu? Apakah yang paling berharga bagimu? Wajahmu begini cantik... hemmm, dahulu aku pun cantik sekali melebihimu, dan ribuan orang laki-laki jatuh bertekuk lutut di depan kakiku, mengagumi dan mencintaiku! Hi-hi-hik-hik, apakah yang lebih berharga bagi wanita kecuali kecantikannya? Kata orang, kecantikan jasmani hanyalah setebal kulit, akan tetapi tanpa adanya kecantikan jasmani, mana mungkin hati pria dapat bangkit seleranya? Memang setebal kulit karena kalau kulit mukamu yang cantik ini, yang halus putih kemerahan dan hangat, kubuang, kukupas, apa yang tinggal? Hanya tengkorak dengan daging membusuk saja! Ihhh, kau menjadi pucat? Bagus, ini tandanya kau mengenal takut, hi-hi-hik!" Nenek iblis itu terkekeh-kekeh, mulai senang hatinya karena ia mulai dapat menyiksa hati gadis itu.
Jantung Biauw Eng mulai berdebar karena ngeri. Dia tidak takut disiksa, tidak takut mati, akan tetapi bagaimana pun juga, dia adalah seorang gadis remaja, seorang gadis muda yang tentu saja sadar akan kecantikannya dan merasa ngeri mendengar ancaman ini. Namun dia memaksa diri tersenyum mengejek dan berkata,
"Lakukanlah, Ang-bin Kwi-bo! Kupaslah kulit mukaku sampai menjadi seburuk-buruknya! Akhirnya toh aku mati dan setelah menjadi mayat, apa bedanya cantik atau tidak?"
Ucapan ini keluar dari hatinya sehingga mengusir bayangan ngeri dari wajahnya. Hal ini membuat nenek ini mencak-mencak saking marahnya.
"Baik, kalau begitu aku tidak akan membuatmu mati! Kalau dikupas semua kulit mukamu, tentu kau akan mampus. Terlalu enak buatmu! Ahhh, aku pernah melihat seorang wanita yang menderita sakit kotor sehingga hilang hidung dan bibirnya. Hidungnya hanya berupa sebuah lubang dan mulutnya juga sebuah lubang melompong. Lalat-lalat keluar masuk melalui lubang-lubang hidung dan mulut. Dan dia tidak mati! Hi-hi-hik, benar sekali. Kalau kupotong hidungmu yang kecil mancung ini, kemudian kukerat habis sepasang bibirmu yang begini penuh, halus kemerahan hingga membuat hati laki-laki ingin sekali mencium dan menggigitnya, kau tentu akan menjadi seperti dia! Kalau hidung dan mulutnya sudah menjadi dua lubang yang dirubung lalat, biar pun bagian tubuhnya yang lain amat bagus, laki-laki mana yang akan tertarik? Mereka akan menjadi jijik sekali, baru melihat pun akan muntah! Hi-hi-hik, menangislah, berteriaklah, tetapi aku tetap akan melakukan hukuman ini, hi-hi-hik!"
__ADS_1
Iblis betina itu berjingkrak-jingkrak sambil terkekeh-kekeh karena kini Baiuw Eng menjadi pucat sekali dan dari sepasang matanya mengalir air mata! Selama hidupnya Biauw Eng belum pernah menangis karena ngeri dan takut, tetapi sekali ini dia benar-benar menjadi ketakutan karena tidak tahan mengingat ancaman yang amat mengerikan itu.
"Heh-heh-heh! Biar kupandang mukamu sampai puas dulu supaya aku nanti ingat betapa cantiknya engkau sebelumnya. Julukanmu Siu-li (Perawan Jelita), sungguh tepat! Cantik sekali kau! Sekarang, mana yang lebih dulu dipotong? Hidungmu atau bibirmu? Hidungmu saja agar bibirmu dapat menjerit-jerit, kemudian baru bibirmu. Wah, kuku tanganku sudah gatal-gatal, kini mendapat makanan empuk, hidung mancung bibir merah. Hi-hi-hik!"
Nenek itu sudah mendekatkan tangan kirinya ke depan hidung Biauw Eng, dan gadis ini memejamkan matanya, mukanya pucat, napasnya terengah-engah dan dadanya terisak menangis. Telah tercium olehnya bau kuku-kuku tangan kiri nenek itu hingga ia menahan napas, dan hampir pingsan dia ketika kuku-kuku itu sudah menyentuh cuping hidungnya. Agaknya nenek itu sengaja berlaku lambat agar lebih banyak ia dapat menikmati siksaan ini. Cui Im yang masih duduk dengan tubuh lemas memandang dengan muka pucat dan mata terbelalak.
"Iblis kejam...!" Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring sekali.
Dalam kemarahannya, dia langsung menggunakan jurus Siang-in Twi-san, yaitu jurus ke tiga dari satu-satunya ilmu silat tangan kosong yang pernah dia kenal, San-in Kun-hoat. Serangannya hebat sekali karena kedua lengannya penuh dengan hawa sinkang yang amat kuat.
Nenek yang sakti itu terkejut mendengar desir angin serangan yang demikian hebatnya, maka cepat-cepat dia menarik kedua tangannya dari Biauw Eng, tubuhnya membalik dan tangannya menangkis.
__ADS_1
"Plak-plakkk...!"
"Aiiihhh...!" Ang-bin Kwi-bo menjerit kaget ketika tubuhnya tergetar dan dia dipaksa untuk mundur sampai tiga langkah ke belakang.
Apa lagi ketika ia melihat betapa pemuda yang menyerangnya itu hanya terhuyung sedikit oleh tangkisannya, sama sekali tak terpengaruh oleh tangkisan kedua tangannya, nenek ini benar-benar tercengang. Akan tetapi hatinya merasa girang sekali karena hal ini hanya membuktikan betapa hebatnya ilmu kepandaian Sin-jiu Kiam-ong yang dalam beberapa tahun saja dapat melatih muridnya selihai ini. Ia percaya bahwa kalau ia sampai berhasil menguasai kitab-kitab peninggalan Sin-jiu Kiam-ong, pasti ia akan menemukan ilmu-ilmu yang hebat.
"Heh-heh-heh, bocah hebat engkau! Bagaimana kau berhasil membebaskan totokanku?" Memang hal ini saja sudah menimbulkan keheranan dan kekaguman yang luar biasa bagi Ang-bin Kwi-bo. Di dunia ini jarang ada tokoh yang sanggup membebaskan totokannya, kecuali orang-orang yang setingkat dengan dia seperti ketiga datuk hitam yang lain.
Akan tetapi Keng Hong tidak memperhatikan nenek itu karena dia melihat betapa tubuh Biauw Eng menjadi limbung dan hampir roboh. Cepat dia melangkah maju dan berhasil memeluk pundak gadis itu sehingga Biauw Eng tidak sampai roboh.
Gadis ini merintih perlahan, terhimpit rasa ketegangan yang amat hebat sehingga setelah dia terbebas dari pada ancaman yang lebih hebat dari pada maut tadi, dia menjadi lemas sekali.
__ADS_1