
"Cui Im, engkaulah yang bodoh dan mengecewakan hati. Mengapa engkau menurutkan nafsu buruk hendak menginginkan barang milik orang lain? Apa bila engkau suka menurut nasehatku, insyaflah dan sadarlah bahwa engkau terseret oleh nafsumu menuju ke jurang kesesatan. Urungkan niatmu yang buruk itu karena sesungguhnya aku benar-benar tidak pernah melihat di mana adanya pusaka-pusaka peninggalan suhu-ku. Aku tidak berhasil mencarinya dan aku tidak berbohong."
"Kalau begitu, biar aku melihat engkau mampus dengan isi perut berantakan!" bentak Cui Im dengan suara marah dan kecewa sekali.
Mendadak terdengar suara bentakan keras "Tidak boleh dibunuh begitu saja, Tok-sian-li (Dewi Beracun)!" Dan tampak bayangan orang berkelebat.
"Benar sekali, tidak boleh dibunuh sebelum menyerahkan pusaka peninggalan Kiam-ong kepadaku!" berkelebat pula bayangan lain.
Kiranya yang muncul ini adalah dua orang tua yang pernah dilihat Keng Hong pada lima tahun yang lalu. Mereka berdua itu adalah dua di antara sembilan orang sakti yang dulu pernah menyerbu Sin-jiu Kiam-ong.
Yang pertama adalah nenek tua renta yang dia ingat bernama Lu Sian Cu dan berjuluk Kiu-bwe Toanio. Gurunya pernah bercerita kepadanya tentang nenek ini. Menurut cerita itu, Kiu-bwe Toanio dulunya adalah seorang pendekar wanita yang cantik jelita dan lihai, namun yang jatuh cinta kepada gurunya yang tampan dan gagah.
Akan tetapi ternyata wanita ini dikecewakan oleh Sin-jiu Kiam-ong. Kiam-ong tidak pernah membiarkan hatinya jatuh cinta dan hubungannya dengan Lu Sian Cu hanya dianggapnya sebagai permainan cinta petualangan biasa saja. Sebaliknya, cinta kasih wanita itu amat mendalam sehingga hatinya menjadi hancur dan patah pada saat Kiam-ong meninggalkan dirinya.
Ada pun orang ke dua adalah si kakek tua Sin-to Gi-hiap, Pendekar Budiman Bergolok Sakti yang juga mengandung dendam sakit hati terhadap Kiam-ong untuk urusan pribadi. Isterinya yang sebenarnya adalah hasil rampasan dari seorang kepala rampok, isterinya yang cantik jelita dan amat dicintanya, sudah ‘dicuri’ oleh Kiam-ong yang terkenal pandai merayu wanita sehingga di antara isterinya dan Kiam-ong terjadi perhubungan rahasia.
__ADS_1
Melihat dua orang tua yang datang ini, Bhe Cui Im tersenyum mengejek, kemudian dia membalikkan tubuhnya menghadapi mereka sambil memandang tajam dan melintangkan pedang merah itu di depan dadanya, sedangkan tangan kirinya bertolak pinggang.
"Hemm, Kiu-bwe Toanio dan Sin-to Gi-hiap, bukan? Kalian sudah lari terkencing-kencing diusir oleh tosu-tosu bau Kun-lun-pai, dan sekarang muncul lagi di depanku dengan niat apakah?"
Keng Hong memandang dengan heran. Semakin tidak mengertilah dia akan keadaan Cui Im. Gadis cantik jelita yang amat menarik hati ini, yang tadinya amat galak dan kadang kala juga amat halus memikat, kemudian terbukti berhati palsu dan keji, kini menghadapi dua orang tokoh kang-ouw yang tua seperti menghadapi dua orang biasa saja!
Tokoh macam apakah gadis yang aneh ini di dalam dunia persilatan? Sampai-sampai dua orang locianpwe (orang tua tingkat tinggi) tidak dipandang mata olehnya, dan yang lebih mengherankan lagi, dua orang tua itu pun agaknya tidak menganggapnya sebagai gadis muda.
"Ang-kiam Tok-sian-li (Dewi Racun Berpedang Merah), lekas kau keluarkan pil pemunah racun. Orang muda ini tidak boleh dibunuh," kata Sin-to Gi-hiap.
"Benar sekali, Tok-sian-li. Siang-bhok-kiam telah dirampas oleh Kun-lun-pai, bila pemuda ini dibunuh, sungguh sayang sekali. Kasihan murid Sin-jiu Kiam-ong yang tidak bersalah apa-apa...," sambung Kiu-bwe Toanio.
"Hi-hi-hi-hi! Kiu-bwe Toanio, alangkah lucunya melihat lagakmu. Semenjak muda engkau terkenal sebagai pendekar wanita, akan tetapi ternyata engkau pun hanya seorang yang pada lahirnya saja pendekar padahal sebenarnya di dalam hatimu mengandung maksud-maksud yang tidak lebih bersih dari pada maksud hatiku. Kau pura-pura merasa kasihan dan ingin menolong pemuda ini, padahal yang kau inginkan adalah benda-benda pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong. Aku pun menghendaki benda-benda itu tetapi aku berterus terang, tidak pura-pura seperti engkau!"
"Hemm, Tok-sian-li. Hanya karena mengingat akan nama gurumu maka aku seorang tua masih mau berlaku hormat padamu. Jangan engkau membuka mulut sembarangan saja! Memang aku menghendaki barang-barang pusaka Sin-jiu Kiam-ong, akan tetapi hal itu adalah karena dosa-dosa Kiam-ong kepadaku yang harus dia bayar lunas dengan semua benda pusaka peninggalannya! Tidak seperti engkau yang hendak merampok begitu saja dengan menekan muridnya."
__ADS_1
"Hi-hik-hik, nenek tua yang tak tahu malu! Engkau sendiri yang dahulu tergila-gila kepada Kiam-ong, kau sendiri yang mengejar-ngejarnya, ingin selalu berada dalam pelukannya, menikmati cumbu rayu dan belaiannya! Kiam-ong tak sudi menjadi suamimu, kenapa kau katakan hal ini dosa? Hi-hi-hik, sungguh menjemukan!"
"Tok-sian-li, biar pun engkau menggunakan nama besar gurumu, penghinaanmu ini harus dibayar dengan nyawa!" Kiu-bwe Toanio marah sekali dan dia menggerakkan pecutnya yang berekor sembilan itu di udara sehingga terdengar suara ledakan-ledakan.
"Tar-tar-tar...!"
"Huh, pecutmu itu hanya dapat untuk menakut-nakuti anjing dan anak-anak kecil!" Cui Im mengejek dan tiba-tiba tangan kirinya bergerak.
Sinar-sinar merah yang kecil-kecil lantas menyambar ke arah nenek itu dengan kecepatan laksana kilat menyambar. Itulah Ang-tok-ciam (Jarum Racun Merah) yang sangat dahsyat dan berbahaya, sekali sambit, secara beruntun ada dua puluh satu buah jarum halus yang menyambar lawan.
Setiap batang jarum merupakan tangan maut karena racun yang dikandungnya lebih dari cukup untuk merenggut nyawa orang. Kini dua puluh satu buah jarum menyambar dan mengarah jalan-jalan darah yang penting, dapat dibayangkan betapa hebatnya!
"Perempuan keji!" Kiu-bwe Toanio memaki.
Akan tetapi dia sibuk juga memutar senjata cambuknya untuk melindungi tubuh. Hanya dengan memutar cambuk itu cepat-cepat maka ia baru dapat menghindarkan jarum-jarum yang tak berani ia anggap ringan itu.
__ADS_1
"Nenek tua mampuslah!"
Cui Im sudah melesat ke depan dan pedangnya berubah menjadi cahaya merah yang bergulung-gulung pada saat ia menerjang lawannya sebagai serangan lanjutan dari pada jarum-jarumnya. Gadis ini selain pandai dalam melepas jarum, ternyata juga amat cerdik.