Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 07 part 9


__ADS_3

Melihat keadaan mulai ‘panas’, Thian Seng Cinjin cepat-cepat mengangkat tangannya dan berkata, suaranya amat berpengaruh, "Cukuplah sudah semua perbantahan yang kosong ini! Pinto sangat setuju dengan tindakan yang diambil oleh Twa-suheng kalian! Memang tidak semestinya kalau Kun-lun-pai menguasai kitab-kitab pusaka peninggalan dari Sin-jiu Kiam-ong. Kalian harus tahu bahwa kitab-kitab itu adalah milik perguruan-perguruan tinggi lainnya yang dahulu dicuri atau dirampas Sin-jiu Kiam-ong. Kalau kita menguasainya dan mempelajarinya, tentu kita akan bermusuhan dengan pemilik-pemilik kitab itu. Lagi pula, hendaknya kalian ingat bahwa kesaktian bukan tergantung pada kitab atau pelajarannya, juga bukan tergantung pada senjatanya, melainkan kepada si manusianya sendiri. Kalau kalian tekun memperdalam semua ilmu-ilmu asli dari Kun-lun-pai, kurasa tidak akan kalah saktinya dari pada pelajaran-pelajaran lain perguruan. Nah, pinto perintahkan agar mulai detik ini semua pertentangan paham dilenyapkan dari hati masing-masing."


Tujuh orang muridnya itu segera berlutut dan dengan suara bulat menyatakan ketaatan mereka. Pada saat itu, dua orang anak murid Kun-lun-pai lari tergopoh-gopoh memasuki Ruangan Ketenangan dan serta-merta menjatuhkan diri berlutut menghadap Thian Seng Cinjin sambil berkata dengan muka pucat dan suara gemetar.


"Teecu berdua datang melaporkan bahwa pada saat ini puncak Kun-lun sedang terancam dijadikan kancah perang antara pasukan utara dan pasuka selatan! Kita sudah terkurung, dari utara muncul pasukan dari Peking dan dari selatan muncul pasukan dari Nanking. Mereka telah mengurung tempat kita."


Hanya Thian Seng Cinjin dan Kiang Tojin saja yang menerima berita mengagetkan ini dengan sikap tenang. Guru dan murid kepala ini bertukar pandang, kemudian Thian Seng Cinjin mengangguk dan bangkit dari lantai, menyambar tongkatnya lalu berkata,


"Kita harus menghadapi mereka selengkapnya. Perintahkan kepada seluruh anak murid Kun-lun-pai untuk mengatur barisan dan bersiap-siap!"


Tujuh orang murid itu lalu berpencar menunaikan tugas masing-masing. Kemudian kakek tua Kun-lun-pai itu diikuti oleh ketujuh orang muridnya melangkah keluar dan menuju ke puncak.

__ADS_1


Anak murid Kun-lun-pai telah berbaris rapi, terbagi atas dua bagian, sebagian menghadap selatan dan sebagian lainnya menghadap ke utara. Sedangkan Thian Seng Cinjin sendiri dengan gerakan ringan lantas melompat ke atas sebuah batu yang tinggi di puncak itu, diikuti oleh ketujuh orang muridnya. Mereka berdiri tegak di atas batu ini dan nampaklah oleh mereka dua pasukan yang mengurung itu, satu di utara, satu lagi di selatan.


Pasukan itu tidak terlalu besar, paling banyak seratus orang masing-masing pihak, akan tetapi lengkap bersenjata dan kalau dilihat besarnya pasukan, tidak mungkin mereka itu muncul untuk berperang. Hal ini sangat melegakan hati Thian Seng Cinjin yang segera mengerahkan khikang-nya dan berkata dengan lantangnya.


"Kami dari Kun-lun-pai selamanya tidak pernah melibatkan diri dengan perang saudara. Hari ini pasukan-pasukan kedua pihak telah datang berkunjung ke Kun-lun-pai, harap para ciangkun (perwira) kedua pasukan sudi menjelaskan apa yang menjadi maksud dari pada kedatangan cu-wi!"


Tiba-tiba dari pasukan sebelah utara itu tampak berlari maju seorang berpakaian perwira yang bertubuh kurus tinggi. Larinya amat cepat dan geraknya gesit sekali, sungguh pun pakaian perang itu kelihatan kaku, namun tidak menghalangi gerakannya yang cekatan sehingga para tokoh Kun-lun-pai menjadi kagum dan maklum bahwa pasukan utara itu dipimpin oleh perwira yang lihai.


"Kami Han Tek Thai yang memimpin pasukan pengawal melaksanakan tugas yang sudah diperintahkan oleh junjungan kami, Raja Muda Yung Lo dari utara yang gagah perkasa, calon kaisar yang asli, untuk menghadap kepada para pimpinan Kun-lun-pai. Raja muda kami menyampaikan rasa terima kasih bahwa Kun-lun-pai selama ini tidak membantu kekuasaan raja penyerobot mahkota di Nanking, karena hal itu membuktikan bahwa Kun-lun-pai dapat mengerti akan kebenaran dan keadilan yang berada di pihak utara!"


Diam-diam Kiang Tojin tersenyum dan merasa kagum. Perwira dari utara ini benar-benar orang yang tepat dijadikan seorang perwira, karena di samping ilmu kepandaiannya tinggi yang dapat dilihat dari gerakannya tadi, juga jelas bahwa perwira ini memiliki kecerdikan dan kepandaian untuk menarik rakyat ke pihaknya. Dia sudah banyak mendengar bahwa sifat-sifat ini menjadi inti kekuatan pihak utara, karena sifat itu membuat rakyat jelata merasa bersimpati terhadap perjuangan mereka sehingga rakyat berbondong-bondong membantu.

__ADS_1


"Maaf, Han-ciangkun," kata Kiang Tojin sesudah dia mendapat isyarat dari gurunya untuk menjawab. "Kiranya raja muda dari utara tidak seharusnya berterima kasih kepada kami, karena pendirian Kun-lun-pai sama sekali bebas, tidak memihak mana pun juga. Kami seluruh anggota Kun-lun-pai hanya merasa perihatin menyaksikan perang saudara sebab yang menjadi korban tak lain adalah rakyat jelata. Karena inilah kami tidak mau memihak siapa-siapa. Hendaknya Han-ciangkun maklum akan pendirian kami dan selanjutnya suka menjelaskan apa kehendak selanjutnya dengan kunjungan ini."


Perwira utara itu tersenyum sabar dan berkata, "Ucapan Totiang betul-betul membuktikan bahwa para tosu merupakan manusia-manusia dewa yang tidak sudi mencampuri urusan dunia lagi. Sungguh menimbulkan rasa kagum! Kami diutus oleh junjungan kami untuk mengharapkan budi kebaikan pihak Kun-lun-pai, agar suka menyerahkan kitab Thai-yang Tin-keng yang tentu tidak akan ada manfaatnya bagi Kun-lun-pai kepada kami."


"Kitab Thai-yang Tin-keng? Kitab apakah itu? Kami tidak tahu, bahkan baru mendengar namanya sekarang," kata Kiang Tojin tanpa ragu-ragu.


Perwira itu masih bersikap sabar. "Kitab itu, sesuai dengan namanya yaitu Kitab Barisan Matahari, adalah ciptaan Raja Besar Jenghis Khan dan merupakan kitab pelajaran untuk mengatur barisan yang diambil dari pengalaman-pengalaman barisan Mongol pada waktu menyerbu ke Tiong-goan (Daratan Tengah). Junjungan kami mohon pinjam kitab itu dari Kun-lun-pai."


"Tapi... kami tidak mempunyai kitab seperti itu!" jawab Kiang Tojin.


Perwira itu mengangguk-ngangguk. "Mungkin memang bukan milik Kun-lun-pai, akan tetapi setelah pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong kabarnya jatuh ke tangan Kun-lun-pai, tentu kini kitab itu berada di tangan totiang sekalian. Kitab ini dahulu dicuri oleh Sin-jiu Kiam-ong dari gedung perpustakaan kaisar."

__ADS_1


__ADS_2