Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 15 part 7


__ADS_3

"Anakku... biar kususui dia supaya tidak menangis..." Akhirnya wanita itu berkata dengan suara pilu karena sejak tadi anaknya menangis saja.


Sambil tersenyum Siauw Lek memberikan bayi itu kepada ibunya, kemudian dia duduk di atas bangku menonton wanita itu yang kini tidak berbaju lagi menyusui anaknya. Laki-laki yang berwatak iblis ini menonton sambil kadang-kadang menelan ludah.


Melihat bayi itu menyusu dada ibunya menimbulkan birahi yang sangat besar baginya, seolah-olah dia sendiri dapat merasai kesegaran susu ibu muda itu. Akan tetapi, bayi itu selalu gelisah dan tidak mau diam, bahkan tidak dapat menyusu dengan tenang, diseling tangis.


"Dia sudah kenyang, memang rewel dia!" cela Siauw Lek. "Aku dapat menidurkannya. Kesinikan…"


Ibu itu mendekap anaknya. "Jangan... Jangan menganggunya..."


"Ihhh, Manis, mengapa kau tidak percaya kepadaku? Aku mencintaimu, dan aku memiliki ilmu untuk menenangkan bocah. Kuelus-elus kepalanya sebentar saja pasti ia akan tidur. Biarkan dia tidur agar tidak menganggu kita. Nah kesinikanlah, biar dia tidur di situ nanti, dan bantal itu... hemmm, kita tidak memerlukannya. Nah, marilah, Manis, jangan khawatir, anakmu akan pulas."


Ibu muda itu yang memang merasa bingung melihat anaknya menangis terus sehingga dia khawatir kalau-kalau laki-laki itu menjadi marah lantas membunuh anaknya, akhirnya menyerahkan bayinya yang masih menangis. Siauw Lek tersenyum dan mengelus-elus kepala bocah itu.

__ADS_1


Benar saja, tidak lama kemudian anak itu tidak menangis lagi dan dengan gerakan halus Siauw Lek lalu menidurkan bocah itu di atas meja yang sudah ditilami kain dan disediakan bantal oleh si ibu muda yang tentu saja hatinya menjadi lega melihat bayinya tidur pulas. Akan tetapi segera rasa lega ini tersusul dengan rasa panik dan ngeri ketika Siauw Lek membalikkan tubuh dan menghadapinya dengan senyum penuh nafsu.


"Nah, bukankah benar sekali kata-kataku, Manis? Anakmu sudah tidur pulas dan kini kita dapat bersenang-senang tanpa ada yang mengganggu. Wah, engkau sungguh jelita dan montok. Marilah, Manis…"


Wanita itu terisak dan perlahan melangkah maju dengan muka tunduk. Patahlah seluruh pertahanannya sebagai wanita karena ia maklum bahwa kalau ia menolak, tentu anaknya akan dibunuh. Bagai orang yang kehilangan semangat, seperti mayat hidup, ia melangkah maju dan menyerah saja pada saat kedua tangan Siauw Lek memeluk dan mendekapnya, ketika mukanya yang basah oleh air mata dihujani ciuman-ciuman bernafsu.


Tiba-tiba saja Siauw Lek melepaskan tubuh wanita itu, bahkan meloncat bangun sambil berteriak kaget, "Setan...!"


Orang itu terjengkang kemudian roboh terlentang di depan dipan, di dekat wanita yang terbelalak kaget. Ketika melihat bahwa tubuh itu adalah tubuh suaminya yang sudah mati, yang mukanya penuh darah merah yang mengucur dari luka di antara kedua matanya, wanita itu menjerit kaget dan memeluk tubuh suaminya.


Sementara itu, Siauw Lek kaget setengah mati sampai mukanya pucat. Belum pernah selama hidupnya dia mengalami kaget dan seram seperti saat itu. Dia sudah yakin benar bahwa suami wanita itu telah dibunuhnya, bahkan ketika orang itu menubruknya dan dia merobohkannya kembali dengan tendangan dia tahu bahwa yang menubruknya adalah sesosok mayat! Benarkah ada mayat orang bisa hidup kembali karena merasa sakit hati melihat isterinya diganggu orang lain?


Ah, tak mungkin ini! Dia tidak percaya dan tiba-tiba Siauw Lek tertawa. Yang sudah mati tetap mati, dan kalau ada gerakan-gerakan, hal ini pasti dilakukan oleh orang yang masih hidup. Dia menendang meja dan tubuh bayi itu pun mencelat jatuh ke atas lantai, akan tetapi sama sekali tidak bergerak, tidak terbangun biar pun terbanting karena sebetulnya bayi ini telah mati pula! Mati oleh jari tangan Siauw Lek yang ‘mengelus-elus’ ubun-ubun kepala anak itu tadi, mengelus-elus sambil menekan sehingga bayi itu tewas tanpa dapat mengeluarkan suara apa-apa dan disangka tidur oleh ibunya.

__ADS_1


Ketika melihat bayinya terbanting dari atas meja, wanita muda itu menjerit keras, segera meninggalkan mayat suaminya dan cepat menubruk anaknya, terus diangkat, dipeluk dan didekapnya. Akan tetapi dia pun tersentak kaget, memandang muka bayinya dan tiba-tiba terdengar suaranya melengking tinggi menyayat hati dan akhirnya robohlah wanita muda itu dengan tubuh lemas, roboh pingsan dengan mayat bayinya masih didekap di dalam pondongannya!


Siauw Lek sudah meloncat bangun ke tengah kamar, tak mempedulikan keadaan wanita muda itu lagi. Pandang matanya berkilat ketika ditujukan ke arah pintu kamar dari mana tadi ‘mayat hidup’ itu menyerangnya.


"Siapakah berani bermain gila dengan aku?!" bentaknya, menyangka bahwa tentu ada orang pandai mengejarnya dari rumah gedung panglima she The yang dikacaunya tadi.


Akan tetapi mata yang menyinarkan kemarahan itu berubah terbelalak penuh keheranan dan kekaguman ketika tampak oleh Siauw Lek bahwa yang muncul dari pintu itu adalah seorang wanita yang sangat cantik jelita dan yang memasuki kamar itu dengan langkah lambat, dengan tubuh bergerak-gerak bagaikan menari ketika kedua kaki itu melangkah bergantian rapat-rapat, pinggul yang lebar melenggang-lenggok, pinggang yang ramping seperti patah-patah, wajah yang cantik itu tersenyum manis dengan dua mata menyambar penuh tantangan, akan tetapi di balik senyum itu tampak sikap memandang rendah.


Wanita itu mengenakan pakaian sutera berkembang yang ketat membungkus tubuh, pada punggungnya tampak gagang pedang yang beronce merah. Sukar menaksir usia wanita ini. Masih kelihatan amat muda seperti gadis remaja dua puluhan tahun, namun senyum bibir manis dan pandang mata tajam itu sudah amat masak sehingga patutnya dia berusia tiga puluh tahun kurang sedikit.


Wanita itu bukan lain adalah Ang-kiam Bu-tek Bhe Cui Im! Secara kebetulan saja dia melihat Siauw Lek menimbulkan kekacauan di rumah Panglima The pada malam hari itu ketika dia dalam perjalanan malamnya Cui Im lewat di kota itu. Ia merasa amat tertarik ketika mendengar bahwa lelaki tampan gagah itulah yang bernama julukan Kim-lian Jai-hwa-ong, julukan yang tenar dan sudah banyak kali dia mendengarnya.


Jadi inikah murid Go-bi Chit-kwi yang dulu menjadi musuh besar gurunya, karena dahulu gurunya Lam-hai Sin-ni pernah hampir diperkosa tujuh orang setan Go-bi itu. Ia menjadi kagum ketika menyaksikan cara Siauw Lek merobohkan lawan-lawannya, maka secara diam-diam dia membayangi penjahat cabul itu.

__ADS_1


__ADS_2