Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 13 part 1


__ADS_3

Thian Seng Cinjin ketua Kun-lun-pai juga maklum akan rasa sayang Kiang Tojin terhadap Keng Hong. Hal yang tidak aneh apa bila diingat bahwa Kiang Tojin adalah tosu yang dulu telah menyelamatkan nyawa Keng Hong kemudian membawa Keng Hong ke Kun-lun-pai. Maka dia lalu berkata halus,


"Semua tosu di Kun-lun-pai menyayang Keng Hong. Dahulu dia seorang anak yang baik dan penurut, akan tetapi setelah menjadi murid Sin-jiu Kiam-ong… ahh, sudahlah. Bu-tek Sam-kwi dan sahabat sekalian, apa bila mau mendaki Kiam-kok-san mencari Cia Keng Hong dan pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong, silakan, kami menanti di bawah!"


Mendengar ijin yang diberikan ketua Kun-lun-pai ini, bagaikan serombongan kanak-kanak yang dituruti kemauannya, orang-orang kang-ouw itu berebutan mendaki Kiam-kok-san yang terjal dan tak mudah didaki. Mereka terpaksa harus mendaki seorang demi seorang dan tentu saja Bu-tek Sam-kwi berada paling depan.


"Suhu, mengapa kita tidak ikut? Bolehkah teecu ikut naik...?"


"Tidak! Kita harus menanti di sini. Apakah kita akan melanggar pantangan kita sendiri?!" Thian Seng Cinjin membentak Lian Ci Tojin dengan suara marah.


Memang, setelah melihat perkembangan urusan itu, ketua Kun-lun-pai sudah tidak dapat lagi mempertahankan ketenangannya sehingga dia marah sekali dalam hatinya. Sekali ini Kun-lun-pai benar-benar menerima penghinaan dan tak dipandang mata oleh para tokoh kang-ouw itu, hanya karena di situ dapat Bu-tek Su-kwi yang memelopori mereka. Kakek ini diam-diam mengancam untuk sewaktu-waktu membuat pembalasan terhadap Bu-tek Sam-kwi.


Biar pun amat lambat, akhirnya semua tokoh kang-ouw dapat juga menembus awan atau halimun yang menutupi puncak batu pedang dan betapa kagum rasa hati mereka ketika menyaksikan keindahan tamasya alam dari puncak batu pedang yang bagian atasnya ternyata datar dan cukup luas itu.


Akan tetapi hanya sebentar saja mereka mengagumi pemandangan alam ini karena hati mereka berdebar ingin cepat menangkap Keng Hong dan terutama sekali menemukan simpanan pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong yang selama bertahun-tahun ini menjadi rebutan di antara tokoh-tokoh kang-ouw.


Mereka memandang ke kanan kiri mencari-cari sambil mengelilingi seluruh permukaan tanah datar di puncak Kiam-kok-san, akan tetapi mereka tidak menemukan Keng Hong. Bayangannya pun tidak ada, jejaknya juga tidak ada! Sunyi sepi di puncak Kiam-kok-san! Semua orang menjadi penasaran sekali.

__ADS_1


"Jangan-jangan pada waktu melihat kita mendaki naik, bocah setan itu lalu terjun dari atas membunuh diri!" kata Kiu-bwe Toanio dan semua orang juga membenarkan kemungkinan ini dengan hati kecewa.


"Tidak mungkin!" kata Ang-bin Kwi-bo, mukanya yang biasanya memang sudah merah itu menjadi agak hitam saking marahnya. "Bocah itu cerdik sekali, tentu dia bersembunyi. Akan tetapi, biar pun dia terbang ke langit, tentu akan dapat kutemukan dia!"


Mereka mencari terus tanpa hasil. Kemanakah perginya Keng Hong? Betapa mungkin dia dapat melarikan diri, sedangkan ketika mendaki tadi dia sedang menderita luka parah?


Memang Keng Hong terluka hebat ketika mendaki tadi, luka di sebelah dalam tubuhnya oleh pukulan-pukulan sakti. Kalau sinkang-nya tidak hebat tentu dia sudah tewas setelah berkali-kali ia terkena pukulan-pukulan sakti seperti Tiat-ciang dari ketua Tiat-ciang-pang, pukulan Ang-liong Jiauw-kang dari para tokoh Kong-thong-pai, bahkan juga totokan ujung bambu Kok Sian Cu yang lihai.


Biar pun hawa sakti di tubuhnya melindunginya, namun tetap saja guncangan-guncangan pukulan sakti yang berkali-kali itu membuat dadanya sesak dan kepalanya pening. Ia tadi mendaki dengan setengah merangkak, walau pun gerakannya masih cukup cepat berkat tambahan sinkang dari tokoh-tokoh Kong-thong-pai, namun sering kali kakinya menggigil dan tangannya kurang tetap ketika memegang ujung-ujung batu karang untuk mendaki.


Akhirnya, pada sebuah tanjakan yang sangat sukar, dekat tempat yang digelapi halimun, kakinya tergelincir menyebabkan kepalanya tertumbuk batu karang. Tentu dia akan jatuh terjengkang ke bawah kalau tidak ada sebuah lengan yang berkulit halus merangkulnya, kemudian menarik tubuhnya ke tempat yang agak lebar. Untung kejadian ini berlangsung setelah Keng Hong mendaki jauh ke atas, terlalu tinggi sehingga tidak tampak dari bawah.


Gadis berpakaian merah ini agaknya sudah lama menanti di situ dan kini Cui Im berbisik, "Keng Hong, tenanglah. Agaknya engkau terluka di sebelah dalam tubuh. Aku membawa obat... nih, telanlah!" Ia memasukkan tiga butir pil merah ke dalam mulut Keng Hong.


Pemuda ini sudah sering diracuni oleh gadis ini, akan tetapi karena dia kebal terhadap racun, apa lagi dalam keadaan payah seperti itu dia tidak peduli apakah yang ditelannya itu racun, dia lalu menelan tiga butir pil kecil itu.


"Wah, obatmu hebat...!"

__ADS_1


Dalam belasan detik saja Keng Hong merasa dirinya segar kembali. Memang pil-pil merah itu bukanlah sembarangan obat, melainkan obat simpanan Lam-hai Sin-ni yang dicuri Cui Im. Obat merah ini adalah obat yang mukjijat, dapat menyembuhkan segala macam luka di dalam tubuh. Dan karena Keng Hong sendiri memiliki sinkang yang luar biasa kuatnya, maka khasiat obat itu pun berlipat ganda, karena tugasnya hanya menyembuhkan luka akibat guncangan hawa pukulan saja.


"Cui Im... mengapa kau di sini…?"


"Aku menunggumu, melihat kau dikejar-kejar, tak dapat membantu, terpaksa lari ke sini. Akan tetapi aku tidak dapat naik terus, terlalu sukar memanjat ke atas melalui karang licin dan rata ini!"


"Cui Im, sebenarnya engkau tidak boleh ke sini. Akan tetapi karena sudah terlanjur, dan untuk kembali tentu engkau akan celaka di tangan mereka, selain itu engkau juga sudah menyelamatkan aku, mari, pegang erat-erat pinggangku dengan kedua tanganmu!"


Cui Im girang sekali, segera memeluk pinggang Keng Hong dari belakang. Mulailah Keng Hong mendaki dengan cepat sekali. Setelah kini napasnya tidak sesak lagi dan kepalanya pun tidak pening, tentu saja sangat mudah baginya mendaki tempat yang dahulu menjadi tempat tinggalnya ini.


"Iiiihhhh, ngeri melihat ke bawah..!" Cu Im mengeluh dan mempererat pelukannya, bahkan menciumi punggung yang bajunya basah oleh keringat itu.


"Hushhh, diamlah dan jangan memandang ke bawah!" Keng Hong menegur dan mendaki makin cepat.


Setelah tiba di atas, Cu Im menahan napas saking kagumnya. "Bukan main indahnya di sini…"


"Cui Im, bukan waktunya bersenang-senang. Mereka tentu akan mengejar ke sini. Maka sebelum kulanjutkan rencanaku, bersumpahlah lebih dahulu bahwa engkau akan bersetia kepada mendiang suhu, bahwa engkau tak akan menyia-nyiakan pusaka suhu yang akan kita lihat..."

__ADS_1


"Pusaka? Apakah akan kita dapatkan...?"


"Bersumpahlah!"


__ADS_2