Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 04 part 3


__ADS_3

Dia maklum bahwa Kiu-bwe Toanio tak mungkin dapat secara mudah dirobohkan dengan jarum-jarumnya, maka serangan jarumnya tadi hanyalah untuk mengacau lawan, dan kini selagi lawannya memutar cambuk menghindarkan diri dari pada ancaman jarum-jarum, ia telah menerjang dengan pedangnya yang gerakannya amat cepat dan kuat.


Keng Hong yang melihat gerakan gadis ini diam-diam merasa kagum dan terkejut sekali. Dilihat dari gerakannya, ilmu pedang gadis itu benar-benar lihai bukan main dan agaknya tidak berada di sebelah bawah tingkat sembilan orang sakti yang dulu pernah menyerbu suhu-nya.


"Tar-tar-tar... wuuuuutttttt... trang-tranggg...!"


Sembilan ekor ujung cambuk yang dimainkan di tangan Kiu-bwe Toanio seolah-olah telah menjadi sembilan ekor ular yang bergerak hidup, sebagian menangkis pedang lawan dan sebagian lagi membalas dengan totokan-totokan kilat yang disusul oleh gerakan mengait!


Betapa pun hebat gerakan pedang di tangan Cui Im, namun dihadapi oleh sembilan ujung cambuk yang menangkis dan balas menyerang itu dia terkejut sekali. Pedangnya diputar sambil ia mengeluarkan pekik nyaring, disusul jerit kaget Kiu-bwe Toanio. Sejenak kedua orang ini lenyap menjadi bayangan yang berputar-putaran di antara sinar merah dan sinar hitam cambuk itu, kemudian keduanya mencelat ke belakang didahului oleh Cui Im yang terpaksa melompat jauh untuk menghindarkan serangan enam buah kaitan.


Ia turun dan melintangkan pedangnya dengan wajah agak berubah karena ia kini maklum betapa lihai nenek itu dan yang ternyata merupakan lawan yang berat juga. Di lain pihak, nenek itu mengeluarkan suara gerengan marah karena tiga buah kaitan berikut tiga ujung cambuknya telah buntung oleh pedang yang amat lihai di tangan Cui Im.


Pada saat itu, Sin-to Gi-hiap yang melihat kesempatan baik, sudah meloncat mendekati Keng Hong dan berkata, "Orang muda, kau harus ikut denganku sebagai wakil suhu-mu!"


Dengan golok telanjang di tangan kanannya, kakek itu menyambar Keng Hong dengan tangan kirinya, hendak mencengkram pundak pemuda itu. Sebelum Keng Hong sempat mengelak, sinar merah berkelebat dan kakek itu cepat menarik kembali tangannya sebab kalau dilanjutkan, tentu akan buntung terbabat oleh pedang yang dibacokkan Cu Im.


"Kakek tua bangka, jangan sentuh pemuda ini!"


Sin-to Gi-hiap menghela napas panjang. "Nona, mengingat gurumu, biarlah kami orang tua mengalah. Marilah kita berunding baik-baik. Benda-benda pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong amatlah banyaknya, dan kalau kita bertiga membagi rata, masih amat banyak bagian kita masing-masing. Kurasa Kiu-bwe Toanio juga tidak keberatan."

__ADS_1


Kiu-bwe Toanio menggerak-gerakkan cambuknya. Dia maklum bahwa ilmu pedang gadis itu amat lihai, apa lagi kalau dia mengingat guru gadis itu, benar-benar tak boleh dijadikan lawan dan jauh lebih baik dijadikan kawan. Maka ia mengangguk dan menggumam, "Asal orang muda tidak kurang ajar terhadap orang tua, aku pun bukan seorang serakah yang ingin memiliki seluruh pusaka."


Cu Im melangkah maju mendekati Keng Hong lalu memegang tangan pemuda itu dengan tangan kanannya yang menyembunyikan pedang di balik lengan.


"Uhh, kalian hanya mau enaknya saja! Siapa yang lebih dulu mendapatkan murid Sin-jiu Kiam-ong ini? Aku! Kalau kalian semua lari terbirit-birit diusir tosu-tosu Kun-lun-pai, aku malah membiarkan diriku dijadikan seorang tawanan! Setelah aku berhasil mendapatkan pemuda ini, kalian masing-masing mau minta bagian! Benar-benar tak tahu malu!"


Tiba-tiba gadis itu menggerakkan tangan kiri, membanting sesuatu di hadapan dua orang lawan itu dan terdengarlah ledakan keras diikuti asap hitam mengebul. Dua orang tua itu adalah orang-orang sakti yang sudah berpengalaman. Cepat mereka melompat mundur menjauhkan diri, maklum betapa berbahaya asap hitam yang timbul dari ledakan itu.


Dan memang tepat sekali dugaan mereka karena kalau keduanya tidak menjauhkan diri dan sampai menghisap asap hitam itu, nyawa mereka terancam maut yang disebar oleh asap hitam yang amat beracun itu! Ketika mereka meloncat dengan jalan memutari asap itu, ternyata Cui Im dan Keng Hong sudah tidak kelihatan lagi bayangannya.


"Kurang ajar! Mari kita kejar!" Kiu-bwe Toanio berseru dan menggerak-gerakan pecutnya yang tinggal berekor enam itu.


Dua orang tokoh lihai ini segera melesat dan melakukan pengejaran. Akan tetapi karena mereka berdua tidak melihat ke jurusan mana larinya Cui Im, mereka mengejar secara ngawur dan ternyata mereka menuju ke jurusan yang berlawanan. Apa bila Cui Im yang mengempit tubuh Keng Hong lari ke selatan, mereka malah mengejar ke barat.


...********************...


"Keng Hong, kita beristirahat dan bermalam di sini!" Kata Cui Im sambil melempar tubuh Keng Hong di atas rumput hijau dalam sebuah hutan.


Senja telah berlalu dan keadaan cuaca di dalam hutan sudah remang-remang. Cui Im lalu menyalakan api dan membuat api unggun sehingga selain hangat dan tak terganggu oleh nyamuk, tempat itu juga menjadi agak terang. Kemudian gadis cantik itu duduk mendekati Keng Hong yang bersandar pada batang pohon.

__ADS_1


"Keng Hong, waktumu sudah terlewat sehari, tinggal malam ini saja. Jika kau tidak kuberi obat penawar, besok pagi engkau mampus."


Keng Hong menarik napas panjang memperlihatkan muka duka padahal di dalam hatinya dia menjadi geli. "Mampus ya biarlah, malah tidak repot menjadi rebutan seperti sekarang ini!"


"Eh, ehh, ehh! kau masih muda remaja, baru tujuh belas tahun usiamu, belum mengecap kenikmatan hidup, mengapa ingin mati?"


"Ingin mati sih tidak, akan tetapi kalau engkau meracuniku sampai mati, aku bisa berbuat apakah?"


"Engkau tidak ngeri? Tidak takut mati?"


"Mengapa takut? Apakah engkau takut mati, Cui Im?"


Gadis itu mengangguk, memandang wajah tampan itu dengan heran dan kagum.


"Hemmm, alangkah anehnya kalau ada orang takut mati. Mati itu apa sih? Siapa yang pernah mengalaminya? Siapa yang mengetahuinya bagaimana bila sudah mati? Apakah menakutkan? Kalau belum tahu, perlu apa takut? Aku tidak takut mati karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi di sana, seperti juga dahulu aku tidak takut lahir karena ketika itu pun aku tidak tahu bagaimana itu yang disebut hidup!"


"Wah, engkau ini selain tolol dan bandel, juga aneh!"


"Engkau lebih aneh lagi. Pada waktu berada di Kun-lun-san, engkau membiarkan dirimu menjadi tawanan, berpura-pura seperti orang yang tidak mempunyai kepandaian, padahal tadi ketika menghadapi Kiu-bwe Toanio, engkau lihai sekali."

__ADS_1


Cui Im tertawa, giginya berkilauan disentuh sinar api unggun. "Kalau tosu-tosu bau dari Kun-lun-pai itu mengetahui bahwa aku adalah aku, tentu mereka tidak akan mudah untuk melepaskan aku pergi, biar pun engkau yang memintanya."


__ADS_2