
SEPASANG pedang di tangan Hoa-san Siang-sin-kiam meluncur ke arah leher dan dada Keng Hong yang masih bergulingan di atas tanah. Pemuda ini cepat menekan kedua tangan di atas tanah dan mengerahkan tenaga, dan tubuhnya mencelat ke atas begitu cepatnya sehingga dua sinar pedang itu tidak mendapatkan sasarannya.
"Dukkk!"
Keng Hong terbanting roboh kembali ketika tangan besi Ouw Beng Kok menghantamnya dengan cara memapakinya pada saat tubuhnya mencelat ke atas tadi. Pukulan berat ini tidak sempat ditangkis atau dielakkan lagi oleh Keng Hong sehingga terpaksa pemuda ini menerimanya dengan pengerahan sinkang melindungi tubuhnya. Ia masih belum terluka parah, namun seluruh tubuhnya terasa nyeri dan kepalanya makin pening.
Begitu tubuhnya terbanting ke atas tanah, dua sinar pedang dari Hoa-san Siang-sin-kiam dan sinar hijau tongkat bambu ditangan Kok Sian Cu datang menyambar. Keng Hong tak melihat jalan keluar lagi, mengelak sudah tak mungkin apalagi menangkis, maka ia hanya membelalakkan mata dan menanti maut sambil secara untung-untungan mengerahkan sinkang-nya untuk mengadu kekebalan tubuh yang penuh tenaga sinkang itu dengan tiga senjata lawan yang ampuh.
"Cring-cring-traaakkk...!"
Kedua orang kakek Hoa-san Siang-sin-kiam, juga Kok Sian Cu, sangat terkejut dan cepat menarik kembali senjata mereka ketika tiba-tiba ada cahaya putih menyambar dan tepat sekali menangkis senjata mereka disusul dengan berkelebatnya sinar putih panjang yang mengancam mereka. Terpaksa mereka meloncat mundur dan tahu-tahu di sana sudah berdiri seorang gadis berpakaian serba putih yang cantik jelita dan sikapnya agung dan penuh wibawa.
Kiranya yang menangkis senjata-senjata yang sudah mengancam nyawa Keng Hong tadi adalah tiga buah senjata rahasia berbentuk bola-bola putih berduri, ada pun sinar panjang berwarna putih adalah sabuk sutera yang sudah berada di tangan gadis itu.
__ADS_1
"Sungguh tak tahu malu, golongan tua tokoh-tokoh dari partai besar mengeroyok seorang pemuda yang tidak melawan! Cih, beginikah watak dan sikap golongan yang patut disebut locianpwe?" Gadis itu berkata, suaranya dingin sekali dan pandangan matanya menyapu mereka yang mengurung Keng Hong dengan pandang mata menghina.
"Siancai... bukankah nona ini Song-bun Siu-li, puteri Lam-hai Sin-ni?" Kok Sian Cu orang tertua dari Kong-thong Ngo-lojin berseru heran dan kaget, akan tetapi juga penasaran. "Nona, harap jangan mencampuri urusan kami seperti juga kami tidak pernah mencampuri urusan Lam-hai Sin-ni. Harap nona membuka mata dan melihat bahwa urusan dengan pemuda ini menyangkut Kong-thong-pai, Hoa-san-pai, dan Thiat-ciang-pang!"
Dari ucapannya ini saja orang tertua dari Khong Thong Pai itu jelas menyatakan jerinya terhadap Lam-hai Sin-ni, bukan terhadap putrinya ini dan hendak mempergunakan nama tiga partai besar untuk menakuti-nakuti. Akan tetapi Sie Biauw Eng atau Song-bun Siu-li (Dara Jelita Berkabung) hanya memandang dengan air muka dingin dan mata bersinar lebih dingin lagi.
"Tidak bisa, selama ada aku di sini, kalian tidak boleh menyentuhnya, apa lagi membunuh dia!"
Tiat-ciang Ouw Beng Kok menjadi marah di dalam hati. Akan tetapi karena dia sendiri telah mendengar akan nama besar Lam-hai Sin-ni sebagai tokoh paling lihai di antara para datuk hitam, maka dia tidak berani menyatakan kemarahannya, hanya berkata dengan suaranya yang besar,
"Dengan ibuku memang tidak, akan tetapi dia adalah satu-satunya pria di dunia ini yang kucinta dan akan kubela dengan seluruh tubuh dan nyawaku!" Ucapan yang dikeluarkan dengan suara polos jujur ini sejenak membuat semua orang menjadi tertegun. Akan tetapi dengan sikap wajar nona itu lalu mengeluarkan sebatang pedang kemudian menyerahkan pedang itu kepada Keng Hong sambil berkata, "Keng Hong, kau pergunakanlah pedangku ini dan mari kubantu kau menghadapi manusia-manusia haus darah ini!"
Keng Hong menerima pedang yang diberikan itu, memegangnya dengan kedua tangan dan megerahkan tenaga.
__ADS_1
"Krekkkk!" pedang yang terbuat dari pada baja pilihan itu patah menjadi dua potong lalu dilemparkannya ke atas tanah dengan muka merah dan pandang mata penuh kemarahan kepada Biauw Eng.
"Aku tidak sudi pertolonganmu! Kau perempuan kejam, kau sudah menyeretku ke dalam lembah permusuhan! Engkaulah orangnya yang telah membunuh gadis itu karena merasa cemburu, engkau curang, kejam dan... aku benci kepadamu!"
Semua orang yang memandang peristiwa itu membelalakkan mata, akan tetapi terutama sekali Biauw Eng yang menjadi pucat dan memandang Keng Hong dengan mata seekor kelinci ketakutan, kemudian bibirnya bergerak-gerak.
"Tidak..., aku tidak melakukan hal itu... ahhh, Keng Hong, aku hanya ingin membantumu, membelamu, karena aku cinta padamu...."
"Aku tidak butuh bantuanmu, tidak butuh pembelaanmu, juga tidak membutuhkan cintamu yang keji dan kotor...!"
"Keng Hong..., uuuuhhhhhhhh... Keng Hong..." Gadis itu tak dapat menahan air matanya yang jatuh berderai, kemudian ia menyusut air matanya dan mengangkat mukanya sambil berkata tegas. "Jika begitu, baiklah, kita mati bersama!" Sabuk sutera putih di tangannya bergerak meluncur ke depan menyerang para pengurung yang terdekat.
"Perempuan iblis! Patut dibasmi kalian!" Teriak Kok Kiam Cu yang dengan susah payah baru berhasil menyelamatkan diri dari sambaran sabuk ke arah lehernya ini dengan jalan menggulingkan diri ke tanah karena sinar sabuk itu benar-benar cepat bukan main, tidak sempat lagi dia menangkis.
__ADS_1
Sekarang para pengeroyok yang berjumlah banyak itu serentak maju. Dua orang Hoa-san Siang-sin-kiam memutar pedangnya, bersama Kok Sian Cu, Kok Kim Cu, Ouw Beng Kok dan Lai Ban! Pertandingan terpecah menjadi dua rombongan, tetapi keduanya merupakan pertandingan yang tidak seimbang, atau boleh dikatakan bukan merupakan pertandingan, melainkan pengeroyokkan dan usaha pembunuhan.
Mereka yang mengeroyok itu adalah orang-orang sakti yang berkepandaian tinggi. Betapa pun lihainya permainan sabuk sutera putih di tangan Biauw Eng, namun dia bukanlah lawan tiga orang kakek tokoh-tokoh besar Hoa-san-pai itu. Dia masih sanggup menahan sepasang pedang milik Hoa-san Siang-sin-kiam dengan gulungan sinar sabuk putih yang membentuk lingkaran-lingkaran, akan tetapi desakan tongkat bambu di tangan Kok Sian Cu, kakek pertama dari Kong-thong Ngo-lojin yang buta mata kirinya, membuat Biauw Eng benar-benar sibuk bukan main.